Serangan Houthi Tewaskan 30 Tentara, Ini Beda Houthi dan Militer Yaman

Konflik bersenjata yang telah berlangsung bertahun-tahun di Yaman kembali memakan korban jiwa. Pada Kamis (6/8) malam, pasukan Houthi melancarkan serangan terhadap sebuah kamp militer di wilayah Yaman...

Serangan Houthi Tewaskan 30 Tentara, Ini Beda Houthi dan Militer Yaman

Konflik bersenjata yang telah berlangsung bertahun-tahun di Yaman kembali memakan korban jiwa. Pada Kamis (6/8) malam, pasukan Houthi melancarkan serangan terhadap sebuah kamp militer di wilayah Yaman bagian tengah. Akibat serangan tersebut, 30 personel pasukan pemerintah Yaman tewas dan 11 warga sipil mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa perang saudara di negara itu masih jauh dari kata selesai, dan seperti biasa, rakyat sipil ikut menanggung akibatnya.

Bagi pembaca awam, berita dari Yaman kerap membingungkan. Di satu sisi ada pasukan Houthi, di sisi lain ada militer Yaman. Keduanya berada di negara yang sama, sama-sama bersenjata lengkap, tetapi justru saling menyerang. Ibarat satu rumah besar yang dihuni dua keluarga yang berebut kendali atas seluruh isi rumah, masing-masing pihak mengklaim dirinya sebagai pemilik sah. Memahami perbedaan keduanya penting, karena konflik ini bukan sekadar urusan dalam negeri, melainkan berdampak pada jalur pelayaran global, harga energi, hingga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Kronologi Serangan di Yaman Tengah

Serangan terjadi pada malam hari dengan sasaran sebuah kamp militer di kawasan tengah Yaman. Sebanyak 30 personel pasukan pemerintah dilaporkan tewas, sementara 11 warga sipil menderita luka-luka. Jatuhnya korban dari kalangan sipil menegaskan pola yang terus berulang dalam konflik Yaman: pertempuran antarkekuatan bersenjata hampir selalu menyeret masyarakat yang tidak terlibat. Kamp militer yang menjadi target berada di wilayah yang selama ini menjadi garis depan perebutan pengaruh antara kedua kubu.

Siapa Sebenarnya Pasukan Houthi?

Houthi adalah gerakan pemberontak yang juga dikenal dengan nama Ansar Allah. Kelompok ini berakar dari komunitas Zaidi, sebuah cabang Syiah yang banyak bermukim di Yaman utara, dan mulai menguat sejak era 1990-an. Titik baliknya terjadi pada September 2014, ketika mereka merebut ibu kota Sana'a dan memaksa pemerintah yang diakui internasional tersingkir ke selatan, ke kota Aden.

Dari sisi teknologi militer, Houthi kini bukan lagi sekadar milisi bersenjata ringan. Mereka mengoperasikan drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle/pesawat tanpa awak) serta rudal balistik yang diyakini mendapat dukungan teknis dari Iran. Inovasi perang asimetris ini memungkinkan kelompok non-negara menyerang target berjarak ratusan kilometer, termasuk fasilitas minyak Arab Saudi dan kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Pengembangan kemampuan semacam ini membuat Houthi menjadi aktor yang diperhitungkan, bukan sekadar gerakan lokal.

Lalu, Apa Bedanya dengan Militer Yaman?

Militer Yaman adalah angkatan bersenjata resmi milik pemerintah yang diakui dunia internasional. Mereka didukung koalisi pimpinan Arab Saudi yang mulai beroperasi sejak Maret 2015. Berbeda dengan Houthi yang bergerak sebagai kekuatan non-negara, militer Yaman memiliki struktur komando resmi, anggaran negara, dan legitimasi diplomatik dari lembaga dunia.

Namun, legitimasi bukan jaminan kekuatan di lapangan. Militer Yaman justru menghadapi fragmentasi internal: sebagian pasukan setia pada pemerintah pusat, sebagian lain condong ke dewan transisi di selatan. Ibarat perusahaan besar yang departemennya saling berebut wewenang, koordinasi menjadi titik lemah yang kerap dieksploitasi lawan. Inilah salah satu alasan mengapa konflik berlarut-larut tanpa pemenang yang jelas.

Mengapa Konflik Ini Penting bagi Dunia?

Yaman berdiri di tepi Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dan barang dunia. Setiap gangguan keamanan di kawasan ini berdampak langsung pada biaya logistik dan rantai pasok global. PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) bahkan menyebut krisis Yaman sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan jiwa terancam kelaparan dan kekurangan akses layanan dasar.

Serangan Kamis malam itu mungkin tampak seperti satu berita singkat di tengah hiruk-pikuk informasi global. Namun di baliknya tersimpan potret konflik panjang yang menentukan stabilitas kawasan, harga energi, dan nasib jutaan warga sipil yang terjepit di antara dua kekuatan bersenjata dalam satu negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User