Selandia Baru Dilirik Warga Indonesia untuk Dapat Izin Tinggal Tetap
Perjalanan Ridho Akhiro mengejar mimpi tinggal di luar negeri penuh liku. Sejak tahun 2016, pria asal Jakarta itu memendam keinginan kuat untuk menetap di Australia. Sayangnya, sistem poin visa Austr
Perjalanan Ridho Akhiro mengejar mimpi tinggal di luar negeri penuh liku. Sejak tahun 2016, pria asal Jakarta itu memendam keinginan kuat untuk menetap di Australia. Sayangnya, sistem poin visa Australia saat itu belum memihaknya. Ridho merasa belum cukup kompetitif untuk lolos seleksi. Bertahun-tahun ia mempersiapkan diri, mengumpulkan kualifikasi dan pengalaman, hingga akhirnya menghubungi agen migrasi khusus. Namun, nasib berkata lain. Tepat ketika ia siap mengajukan visa, pandemi COVID-19 melanda dan Australia menutup rapat perbatasannya pada tahun 2020. Mimpi yang sempat di depan mata kembali buyar.
Keterbatasan akses dan ketatnya persaingan di Australia membuat Ridho mulai melirik opsi lain. Selandia Baru hadir sebagai alternatif yang semakin dilirik warga Indonesia untuk mendapatkan izin tinggal tetap. Menurut pantauan Terdepan.id, dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap visa penduduk tetap (permanent resident) Selandia Baru menunjukkan tren peningkatan. Hal ini didorong kebijakan imigrasi yang lebih terukur, kebutuhan tenaga kerja terampil yang stabil, serta proses aplikasi yang dinilai lebih transparan dibandingkan tetangganya.
Mengapa Selandia Baru Jadi Pilihan
Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id, Selandia Baru menawarkan jalur-jalur imigrasi yang lebih beragam dan tidak semata-mata bergantung pada sistem poin tinggi. Program seperti Skilled Migrant Category Resident Visa, Green List pathways, serta visa kerja spesifik sektor kini menjadi andalan. Profesi di bidang kesehatan, teknologi informasi, konstruksi, dan pendidikan masuk dalam daftar prioritas, menciptakan peluang lebih luas bagi tenaga profesional Indonesia.
Sejumlah agen migrasi yang diwawancarai Terdepan.id menyebutkan bahwa kestabilan politik, lingkungan alam yang bersih, sistem pendidikan berkualitas, serta kedekatan geografis dan budaya dengan kawasan Asia-Pasifik menjadi daya tarik tambahan. Masyarakat Selandia Baru juga dikenal relatif ramah terhadap pendatang, membuat adaptasi sosial lebih mudah dibandingkan beberapa negara tujuan migrasi lainnya.
Peralihan Pasca-Pandemi
Pandemi mengubah peta tujuan migrasi global. Penutupan perbatasan Australia pada 2020-2021 memicu efek domino. Banyak calon migran, termasuk dari Indonesia, yang semula hanya berfokus pada Australia, mulai membuka cakrawala ke Selandia Baru. Ridho hanyalah salah satu contoh dari gelombang perubahan orientasi ini. Ia kini tengah mempelajari syarat-syarat pengajuan visa residen Selandia Baru dengan pendampingan konsultan imigrasi baru.
Laporan Terdepan.id juga mencatat, kemudahan akses informasi digital dan semakin banyaknya komunitas diaspora Indonesia di kota-kota seperti Auckland, Wellington, dan Christchurch turut memperkuat minat ini. Kehadiran diaspora memberikan gambaran nyata dan dukungan jaringan bagi pendatang baru. Dengan persiapan matang dan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Selandia Baru akan menjadi destinasi unggulan berikutnya bagi warga Indonesia yang mendambakan kehidupan dan karier internasional.
Comments (0)