Prabowo Tinjau Deretan Teknologi Canggih BRIN di Istana Negara

Teknologi hasil penelitian dalam negeri sering dianggap berjarak dari kehidupan sehari-hari. Padahal, secangkir air bersih di rumah warga, pemetaan lahan pertanian, hingga sinyal komunikasi di daerah ...

Prabowo Tinjau Deretan Teknologi Canggih BRIN di Istana Negara

Teknologi hasil penelitian dalam negeri sering dianggap berjarak dari kehidupan sehari-hari. Padahal, secangkir air bersih di rumah warga, pemetaan lahan pertanian, hingga sinyal komunikasi di daerah terpencil sangat bergantung pada riset yang dikembangkan para peneliti. Kesadaran inilah yang tampak di balik langkah Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung pameran inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di lingkungan Istana, melihat dari dekat berbagai alat dan sistem canggih karya anak bangsa.

Dalam peninjauan tersebut, Kepala Negara menyaksikan deretan teknologi hasil pengembangan BRIN, mulai dari sistem pengolahan air minum, pesawat nirawak, hingga teknologi antariksa. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah ingin riset nasional tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diimplementasikan untuk mempercepat pembangunan nasional.

Teknologi Air Minum: Solusi Nyata untuk Kebutuhan Dasar

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah teknologi penyediaan air minum. Bagi masyarakat perkotaan, air bersih mungkin cukup didapat dengan memutar keran. Namun di banyak daerah, terutama wilayah terdampak bencana atau kawasan yang sumber airnya tercemar, air layak konsumsi adalah barang mahal.

Teknologi pengolahan air yang dikembangkan BRIN ibarat seperti dapur portabel untuk air: sumber air yang keruh atau terkontaminasi diolah melalui serangkaian filtrasi (penyaringan) dan disinfeksi hingga memenuhi standar kelayakan minum. Keunggulan utama sistem semacam ini adalah mobilitas dan efisiensi, karena unit dapat dipindahkan ke lokasi yang membutuhkan dan beroperasi tanpa infrastruktur besar.

Implementasi teknologi ini sangat relevan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan. Saat bencana alam melanda dan instalasi air bersih rusak, unit pengolahan air mandiri bisa menjadi penyelamat sebelum bantuan logistik lain tiba di lokasi.

Pesawat Nirawak dan Satelit: Mata Indonesia di Udara

Perhatian Presiden juga tertuju pada pengembangan pesawat nirawak atau drone, yang dalam istilah teknis disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle/pesawat udara tanpa awak). Berbeda dengan drone konsumen untuk fotografi, drone hasil riset dirancang untuk misi yang lebih kompleks: pemantauan hutan, pemetaan wilayah, pengawasan perbatasan, hingga dukungan pertanian presisi.

Ibarat seperti memiliki mata yang bisa terbang, drone memungkinkan pengumpulan data dari udara dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan pesawat berawak. Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan algoritma canggih, termasuk teknik machine learning (pembelajaran mesin, cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer belajar dari data), untuk menghasilkan informasi yang bisa ditindaklanjuti, misalnya mendeteksi titik panas kebakaran hutan atau memantau kesehatan tanaman.

Sementara itu, teknologi satelit menjadi pelengkap di ketinggian yang jauh lebih ekstrem. Jika drone adalah mata di ketinggian ratusan meter, satelit adalah mata di ketinggian ratusan kilometer. Satelit berperan vital dalam komunikasi, pemantauan cuaca, navigasi, dan pemetaan sumber daya alam. Bagi negara dengan lebih dari 17.000 pulau, kemampuan mengembangkan dan mengoperasikan satelit secara mandiri adalah fondasi kedaulatan digital.

Hilirisasi Riset: Dari Laboratorium ke Kehidupan Nyata

Peninjauan oleh Presiden Prabowo menggarisbawahi satu pesan penting: hilirisasi. Istilah ini merujuk pada proses mengubah hasil penelitian menjadi produk dan layanan yang benar-benar digunakan masyarakat dan industri. Selama ini, salah satu kritik terhadap ekosistem riset nasional adalah banyaknya inovasi yang berhenti sebagai prototipe di ruang penelitian.

Dukungan politik dari level tertinggi diharapkan mempercepat alur dari penelitian menuju implementasi. Ketika pemerintah pusat memberi perhatian langsung, kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah cenderung lebih tergerak mengadopsi teknologi karya anak bangsa. Efeknya berantai: industri dalam negeri mendapat pasar, peneliti memperoleh umpan balik untuk penyempurnaan, dan masyarakat menikmati layanan yang lebih baik.

Sebagai konteks, BRIN merupakan lembaga yang dibentuk pada 2021 melalui penggabungan sejumlah lembaga riset negara, termasuk LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Konsolidasi ini dimaksudkan agar sumber daya riset tidak tersebar dan pengembangan teknologi bisa lebih terfokus.

Mengapa Ini Penting bagi Masyarakat

Bagi pembaca awam, pertanyaannya sederhana: apa untungnya pameran teknologi di Istana bagi kehidupan kita? Jawabannya terletak pada prioritas anggaran dan kebijakan. Ketika riset menjadi perhatian kepala negara, peluang pendanaan dan percepatan regulasi terbuka lebih lebar. Teknologi air minum bisa lebih cepat sampai ke desa-desa, drone pemantau bisa lebih sigap mendeteksi bencana, dan satelit bisa memperluas konektivitas hingga ke pelosok.

Pengembangan teknologi dalam negeri juga soal kemandirian. Setiap sistem canggih yang bisa dibuat sendiri berarti ketergantungan pada impor berkurang. Dalam jangka panjang, inilah yang disebut membangun ekosistem deep tech, yakni teknologi berbasis riset mendalam yang menjadi tulang punggung daya saing sebuah negara.

Kini, tantangannya adalah konsistensi. Peninjauan satu hari di Istana harus berlanjut menjadi kebijakan yang terukur: anggaran riset yang memadai, insentif bagi industri yang mengadopsi inovasi lokal, serta perlindungan terhadap karya peneliti. Jika rantai itu tersambung, apa yang dipamerkan hari ini bisa menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User