Buenos Aires — Di balik kalimat pendek yang diulang-ulang, tersimpan beban yang tak terukur. "Hidup terasa berat sekali," begitu Tomás mulai berulang kali mengucapkannya. Ayahnya, Martín, mendengar frasa itu tanpa bisa membayangkan apa yang sebenarnya tersembunyi di baliknya. Selama bertahun-tahun, pria berusia 41 tahun itu menganggap anaknya sekadar anak yang pendiam dan tertutup, sosok yang kesulitan tersenyum. Sejumlah guru pun pernah menyebutnya demikian. Namun, tak seorang pun mampu melihat kenyataan yang lebih gelap.
Kasus Tomás bukanlah insiden terisolasi. Ministerio Público Tutelar kota Buenos Aires merilis data yang mengkhawatirkan: sebanyak 686 anak dan remaja hingga usia 17 tahun menjalani rawat inap di rumah sakit kota tersebut pada tahun lalu karena ide bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan autolesi. Angka itu menempatkan kesehatan mental anak dan remaja sebagai salah satu isu darurat yang kini diawasi ketat oleh lembaga perlindungan anak tersebut.
Sebuah Keluarga yang Tak Melihat Tanda Bahaya
"Hal terakhir yang pernah kamu bayangkan adalah anakmu ingin mengakhiri hidupnya. Kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat jauh," ujar Martín, seorang profesional di bidang kesehatan, dengan nada yang masih membawa sisa keterkejutan. Pengakuan itu diungkapkan setelah ia menyadari bahwa pikiran tentang tidak ingin hidup ternyata sudah lama menghantui Tomás.
"Hal terakhir yang pernah kamu bayangkan adalah anakmu ingin mengakhiri hidupnya. Kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat jauh."
Baru setelah percobaan bunuh diri pertama Tomás pada akhir tahun lalu, saat remaja itu berusia 16 tahun, Martín mengetahui bahwa ide-ide tentang tidak ingin hidup telah muncul sejak usia 13 atau 14 tahun. Selama ini, Tomás tidak mampu menuangkan apa yang ia rasakan ke dalam kata-kata. Diam yang selama ini dianggap sifat bawaan ternyata adalah bentuk keheningan yang penuh penderitaan.
Setelah kejadian pertama, Martín mencoba, atau setidaknya berharap, bahwa itu hanyalah insiden tunggal. Tomás melanjutkan pengobatan psikiatri dan psikologinya. Namun satu bulan kemudian terjadi percobaan kedua. Saat itulah Martín menyadari bahwa ia tak lagi bisa menunggu.
"Saya sadar, betapa pun beratnya karena saya memiliki banyak ketakutan, Tomás harus dirawat inap."
Tomás pertama dirawat di klinik selama 15 hingga 20 hari, sebelum membutuhkan perawatan lanjutan. Perjalanan panjang itu mencerminkan realitas yang kini dihadapi banyak keluarga di Buenos Aires: masalah kesehatan mental anak sering kali baru terlihat setelah krisis mencapai titik paling berbahaya.
Angka yang Menuntut Respons Segera
Data dari Ministerio Público Tutelar menunjukkan skala masalah yang tidak bisa lagi diabaikan. Ratusan anak dirawat inap setiap tahun, dan yang paling mengkhawatirkan adalah kasus-kasus yang melibatkan anak usia 12 tahun ke bawah. Fenomena ini memaksa para profesional, sekolah, dan keluarga untuk mempertanyakan kembali seberapa baik sistem pengawasan terhadap kesehatan mental usia dini berfungsi.
| Indikator | Detail |
|---|---|
| Total rawat inap anak (2023) | 686 kasus usia hingga 17 tahun |
| Usia pasien paling mengkhawatirkan | 12 tahun ke bawah |
| Lama rawat inap awal (kasus Tomás) | 15–20 hari di klinik |
| Usia mulai muncul ide bunuh diri | 13–14 tahun, jauh sebelum terdeteksi |
"Yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa penderitaan itu sudah ada bertahun-tahun, dan tidak seorang pun di sekitarnya menyadari," kata Martín. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa kesunyian seorang anak bukan selalu kepribadian — kadang ia adalah seruan pertolongan yang tak terucap.
Pentingnya Mengenali Tanda Peringatan
Para ahli menekankan beberapa tanda yang perlu diwaspadai keluarga dan sekolah:
- Perubahan perilaku mendadak, seperti penarikan diri yang semakin dalam.
- Ungkapan putus asa berulang, termasuk kalimat yang meremehkan hidup sendiri.
- Luka atau autolesi yang tersembunyi di balik pakaian.
- Penurunan performa akademik dan hilangnya minat pada aktivitas favorit.
- Perpisahan mendadak, seolah sedang menyelesaikan urusan terakhir.
Kasus Tomás membuktikan bahwa bantuan profesional, keberanian seorang ayah untuk mengambil keputusan sulit, dan keterbukaan untuk berbicara dapat mengubah jalannya cerita. Di Buenos Aires, ratusan keluarga kini berada di persimpangan serupa — dan pertanyaannya adalah apakah sistem telah siap menangkap mereka tepat waktu.
Comments (0)