Prabowo Terima 150 Peneliti BRIN, Bahas Riset Pangan hingga Antariksa

Apa hubungan antara nasi yang mengepul di meja makan, tarif listrik bulanan, dan sinyal internet di pelosok Papua? Jawabannya satu: penelitian. Ketika 150 peneliti dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi N...

Prabowo Terima 150 Peneliti BRIN, Bahas Riset Pangan hingga Antariksa

Apa hubungan antara nasi yang mengepul di meja makan, tarif listrik bulanan, dan sinyal internet di pelosok Papua? Jawabannya satu: penelitian. Ketika 150 peneliti dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk memaparkan temuan riset mereka, yang dipertaruhkan bukan sekadar prestise akademik, melainkan bagaimana sains bisa menjawab persoalan nyata yang dihadapi jutaan warga Indonesia setiap hari.

Pertemuan ini menjadi sinyal penting bahwa riset menempati posisi strategis dalam agenda pemerintahan. Ibarat seperti sebuah jembatan, penelitian menghubungkan dua dunia yang selama ini kerap berjalan terpisah: laboratorium yang penuh data dan kehidupan masyarakat yang menuntut solusi cepat. Tanpa jembatan itu, temuan ilmiah hanya akan berakhir sebagai dokumen di rak perpustakaan.

Peta Jalan Riset untuk Masalah Bangsa

Dalam pertemuan tersebut, para peneliti memaparkan beragam temuan yang mencakup spektrum sangat luas, mulai dari ketahanan pangan, energi nuklir, hingga teknologi antariksa. Ketiga bidang ini dipilih bukan tanpa alasan. Pangan menyangkut perut rakyat, energi menyangkut roda ekonomi, dan antariksa menyangkut kedaulatan negara di era digital.

BRIN sendiri merupakan lembaga yang dibentuk pada 2021 melalui peleburan berbagai badan riset tanah air, termasuk LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Konsolidasi ini menjadikan BRIN sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia dengan ribuan peneliti lintas disiplin ilmu yang bekerja dalam satu ekosistem penelitian terpadu.

Dari Benih Unggul hingga Reaktor Nuklir

Di sektor pangan, fokus pengembangan mencakup penciptaan varietas unggul yang tahan perubahan iklim, teknologi pertanian presisi, hingga inovasi pascapanen untuk menekan limbah. Arah riset ini relevan dengan ambisi pemerintah mencapai swasembada pangan, mengingat Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas strategis seperti gandum, kedelai, dan daging sapi dalam jumlah besar setiap tahun.

Sementara di bidang energi, riset nuklir menjadi perhatian serius. Indonesia diketahui memiliki cadangan torium yang melimpah, terutama di Kepulauan Bangka Belitung, sebagai sisa penambangan timah. Torium berpotensi menjadi bahan bakar PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) generasi masa depan yang dinilai lebih aman dibanding uranium. Dengan target transisi energi dan kebutuhan listrik yang terus naik seiring pertumbuhan ekonomi digital, opsi nuklir tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Kedaulatan Digital dari Langit

Bidang antariksa mungkin terdengar jauh dari keseharian, padahal dampaknya sangat dekat dengan kehidupan warga. Satelit penginderaan jauh membantu petani memprediksi musim tanam, memantau titik api kebakaran hutan, hingga mengawasi praktik penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia yang luasnya mencapai jutaan kilometer persegi. Pengalaman peluncuran Satelit SATRIA-1 pada 2023 membuktikan bagaimana teknologi antariksa mampu menyediakan internet bagi sekolah dan puskesmas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Di sinilah konsep deep tech, yakni teknologi yang lahir dari riset mendalam, menemukan urgensinya. Negara yang menguasai teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan energi bersih akan ikut menentukan arah peradaban, sementara negara yang hanya menjadi konsumen akan terus bergantung pada impor teknologi dari luar.

Tantangan Terbesar: Hilirisasi dan Ekosistem

Namun, jalan dari riset menuju manfaat nyata tidaklah mulus. Tantangan klasik dunia penelitian Indonesia adalah hilirisasi, yakni proses mengubah temuan laboratorium menjadi produk atau kebijakan yang benar-benar bisa dipakai masyarakat dan industri. Anggaran riset nasional juga masih relatif kecil, berkisar di bawah 0,3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), jauh tertinggal dibanding Korea Selatan yang menembus angka 4 persen.

Karena itu, pertemuan antara kepala negara dan para peneliti ini diharapkan bukan sekadar seremoni. Dibutuhkan komitmen anggaran, regulasi yang memihak inovasi, serta kolaborasi erat antara peneliti, industri, dan pemerintah daerah. Efisiensi birokrasi riset juga menjadi kunci agar temuan tidak mengendap bertahun-tahun tanpa implementasi yang jelas.

Pada akhirnya, 150 peneliti yang berdiri di hadapan Presiden itu membawa pesan sederhana: sebagian solusi atas masalah bangsa sebenarnya sudah tersedia di laboratorium-laboratorium dalam negeri. Tinggal kemauan politik dan dukungan ekosistem yang akan menentukan apakah riset-riset itu benar-benar turun ke sawah, menyalakan lampu rumah warga, dan mengangkat karya anak bangsa hingga ke orbit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User