Lombok Barat, NTB — Mentari Jumat pagi menyinari kontur perbukitan hijau yang mengelilingi sebuah cekungan raksasa berisi air biru kehijauan. Di panggung utama yang berdiri di atas puncak bendungan, Presiden Prabowo Subianto menekan tombol sirine, diiringi gemuruh tepuk tangan ribuan warga yang memadati area upacara. Detik itu, genangan seluas 296 hektare di Bendungan Meninting resmi menjadi simbol harapan baru bagi Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026).
Konstruksi yang dimulai delapan tahun silam ini akhirnya mencapai puncak operasionalnya. Dengan kapasitas tampung mencapai 18 juta meter kubik, bendungan yang terletak di perbatasan Lombok Barat dan Lombok Tengah ini diproyeksikan menjadi
tulang punggung ketahanan air dan pangan di selatan Pulau Lombok. Presiden Prabowo, dalam pidato peresmiannya, menekankan bahwa proyek ini adalah bukti bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya tentang beton, tetapi tentang keadilan.
“Bendungan ini bukan sekadar struktur teknik. Ini adalah wujud janji negara untuk hadir di setiap sudut Nusantara, memastikan petani tidak lagi menengadah ke langit menunggu hujan, tetapi menatap masa depan dengan kepastian air,” ujar Presiden dengan intonasi penuh penekanan.
Arsitektur Pengendali Air yang Canggih
Secara teknis, Bendungan Meninting mengadopsi tipe urugan batu dengan inti tanah liat (zonal rock-fill dam) setinggi 72 meter dari dasar sungai. Desain ini memungkinkan tubuh bendungan tetap elastis terhadap tekanan air sekaligus tahan terhadap rembesan. Untuk memahaminya secara sederhana, bayangkan sebuah sandwich raksasa: lapisan luar berupa tumpukan batu keras yang berfungsi sebagai kerangka kokoh, sementara bagian dalamnya adalah lapisan kedap air dari tanah lempung yang berperan seperti plastik pembungkus makanan—mencegah air keluar dari pori-pori bendungan.
Dilengkapi dengan sistem
morning glory spillway—pelimpah berbentuk corong vertikal yang menyerupai bunga terompet—bendungan ini mampu mengalihkan kelebihan air saat hujan ekstrem dengan debit hingga 1.200 meter kubik per detik. Ini adalah
kunci pengendalian banjir yang selama ini menghantui kawasan hilir seperti Kecamatan Lingsar dan Labuapi.
Dari Listrik Hingga Geliat Ekowisata
Tak hanya mengairi sawah, Bendungan Meninting dirancang dengan konsep
multipurpose dam. Di kakinya, sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 2×0,8 megawatt mulai dialiri untuk menghasilkan listrik bagi sekitar 2.500 rumah tangga di desa-desa sekitar. Meski skala kecil, ini adalah
model desentralisasi energi yang mengurangi ketergantungan pada jaringan besar.
Sementara itu, genangan bendungan yang membentuk danau buatan seluas hampir 300 hektare membuka pintu bagi pengembangan ekowisata terpadu. Kementerian Pekerjaan Umum telah menyiapkan area komersial, dermaga wisata, dan zona konservasi di sekitarnya. Samsul Hadi, seorang pemuda dari Desa Buwun Sejati, mengaku sudah mendaftar sebagai pemandu wisata lokal. “Kami dulu cuma bertani tembakau setahun sekali. Sekarang air melimpah, rencananya saya bisa gandakan musim tanam sambil jadi guide arung jeruk di hilir bendungan,” ceritanya dengan mata berbinar,
seolah menuangkan seluruh harapannya pada genangan air di hadapannya.
Irigasi untuk Ribuan Hektare
Manfaat paling signifikan dari Bendungan Meninting adalah pasokan air irigasi bagi 1.559 hektare lahan pertanian baru dan suplai tambahan untuk 500 hektare sawah eksisting. Ini berarti indeks pertanaman (IP) di wilayah Lombok Barat naik dari 100 menjadi 200—dari satu kali tanam padi menjadi dua kali setahun, bahkan potensial tiga kali dengan pola tanam padi-padi-palawija. Dengan produktivitas rata-rata 6 ton gabah kering giling per hektare, bendungan ini berpotensi menyumbang tambahan
18.700 ton gabah per tahun bagi NTB, provinsi yang sedang memacu diri menjadi lumbung pangan nasional.
Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I, dalam penjelasan teknisnya, menyebutkan bahwa jaringan irigasi primer sepanjang 34 kilometer telah rampung menghubungkan bendungan ke daerah irigasi (DI) Meninting. “Kami menggunakan sistem pipa bertekanan gravitasi, mengurangi kehilangan air di saluran terbuka hingga 30 persen,” jelasnya. Ini adalah adaptasi teknologi sederhana namun efektif untuk efisiensi distribusi air di medan berbukit.
Harapan di Tengah Perubahan Iklim
Peresmian ini menjadi
cahaya di tengah kegelisahan petani menghadapi ketidakpastian iklim. NTB adalah salah satu provinsi yang paling rentan terhadap kekeringan. Kehadiran Bendungan Meninting, bersama bendungan eksisting seperti Bintang Bano dan yang sedang dibangun, menandai sebuah transformasi dari pendekatan
lumbung paceklik menuju
lumbung surplus.
Presiden Prabowo, sebelum meninggalkan lokasi, menyempatkan diri berdialog dengan para petani. Dalam sesi itu, ia menyampaikan arahan untuk mempercepat pembangunan embung-embung kecil di desa-desa hulu sebagai sistem tangkapan air bertingkat. “Ini bukan proyek terakhir. Kita sedang menyambungkan titik-titik air Nusantara menjadi satu mozaik ketahanan,” katanya menutup kunjungan.
Dengan tuntasnya Bendungan Meninting, Indonesia kini memiliki 47 bendungan baru yang dibangun dalam satu dekade terakhir. Namun bagi warga Lombok, ini bukan sekadar angka. Ini adalah napas baru bagi sawah-sawah yang dulu hanya menghijau saat musim hujan tiba.
[TAGS]: Bendungan Meninting, Prabowo Subianto, Lombok Barat, infrastruktur air, ketahanan pangan
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Prabowo resmikan Bendungan Meninting di Lombok Barat. Berkapasitas 18 juta m³, siap irigasi 2.000+ ha sawah dan hasilkan listrik mikrohidro. #BendunganMeninting #InfrastrukturNTB #KetahananPangan
[SOCIAL_FB]: Peresmian Bendungan Meninting bukan sekadar seremoni. Ini adalah kunci produktivitas pertanian NTB dan solusi atas kekeringan yang mengancam setiap kemarau. Simak bagaimana desain canggihnya mengubah lanskap Lombok.
[SOCIAL_TG]: 💧 Bendungan Meninting resmi beroperasi! Siap irigasi ribuan hektare + listrik 1,6 MW. Lombok makin hijau! 🌾🌊
[SOCIAL_THREADS]: Jumat penuh harap di Lombok Barat. Bendungan Meninting resmi diresmikan, petani udah nggak perlu cemas soal hujan lagi. Danau barunya udah siap jadi spot wisata juga, lho. 🌿✨
Comments (0)