Prabowo Pesan Sepatu Karet Lokal BRIN, Harga di Bawah Rp 80 Ribu

Bagi jutaan orang tua di Indonesia, membeli sepatu sekolah adalah pengeluaran rutin yang tak bisa dihindari setiap tahun ajaran baru. Ketika harga sepatu impor terus merangkak naik, kabar bahwa Presid...

Prabowo Pesan Sepatu Karet Lokal BRIN, Harga di Bawah Rp 80 Ribu

Bagi jutaan orang tua di Indonesia, membeli sepatu sekolah adalah pengeluaran rutin yang tak bisa dihindari setiap tahun ajaran baru. Ketika harga sepatu impor terus merangkak naik, kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto memesan sepatu sekolah berbahan karet lokal hasil pengembangan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menjadi angin segar. Harganya pun mengejutkan: di bawah Rp 80 ribu per pasang. Ini bukan sekadar soal alas kaki murah, melainkan sinyal kuat bahwa hasil penelitian dalam negeri bisa turun langsung menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Peristiwa pemesanan ini menarik perhatian publik karena jarang terjadi — seorang presiden secara langsung memesan produk hasil riset lembaga negara. Pesan yang tersirat jelas: produk inovasi lokal layak mendapat panggung, dan riset tidak seharusnya berhenti di jurnal ilmiah atau rak laboratorium.

Teknologi di Balik Sepatu Karet

Ibarat seperti mengubah getah pohon menjadi pelindung kaki yang tahan banting, pembuatan sepatu karet melibatkan teknologi bernama vulkanisasi — proses pemanasan karet mentah dengan belerang agar strukturnya lebih kuat, elastis, dan awet. Teknik yang sudah berusia lebih dari satu abad ini kini dipadukan dengan pendekatan penelitian material modern oleh para peneliti BRIN.

Pengembangan sepatu ini memanfaatkan karet alam yang diolah dengan formulasi khusus agar nyaman dipakai anak sekolah seharian penuh. Berbeda dengan sepatu karet generasi lama yang terkenal kaku dan gerah, hasil pengembangan terkini menekankan aspek ergonomi, sirkulasi udara, serta daya tahan sol terhadap permukaan kasar. Inilah contoh nyata bagaimana riset material yang tampak sederhana mampu melahirkan produk dengan nilai guna tinggi.

Mengapa Karet Lokal Begitu Penting?

Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, bersaing ketat dengan Thailand dan Vietnam. Perkebunan karet nasional membentang jutaan hektare, dengan jutaan petani kecil menggantungkan hidup dari komoditas ini. Namun ironisnya, sebagian besar karet Tanah Air diekspor dalam bentuk mentah bernilai tambah rendah, lalu kembali ke Indonesia dalam wujud produk jadi berharga mahal.

Di sinilah letak strategis sepatu karet BRIN: hilirisasi. Alih-alih menjual getah mentah, karet diolah di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah tinggi. Setiap pasang sepatu yang terjual berarti ada rantai nilai yang mengalir ke petani, pabrik pengolahan, hingga perajin lokal — sebuah putaran ekonomi yang selama ini lebih sering dinikmati negara lain.

Dampak bagi Ekosistem Industri Nasional

Pemesanan oleh Presiden Prabowo berpotensi menjadi katalis bagi ekosistem manufaktur alas kaki nasional. Selama ini, pasar sepatu sekolah di dalam negeri didominasi produk impor atau produk berbahan sintetis yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Kehadiran alternatif berbahan karet alam membuka peluang disrupsi kecil namun bermakna di segmen ini.

Jika implementasi melangkah lebih jauh — misalnya diadopsi dalam program perlengkapan sekolah — permintaan karet alam domestik bisa meningkat signifikan. Efisiensi rantai pasok juga berpotensi membaik karena jarak antara sumber bahan baku dan pabrik menjadi jauh lebih pendek dibanding produk impor yang harus menempuh jalur logistik lintas negara.

Harga dan Daya Saing di Pasaran

Dengan banderol di bawah Rp 80 ribu, sepatu ini masuk kategori sangat terjangkau. Sebagai perbandingan, sepatu sekolah bermerek impor umumnya dijual mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu, sementara produk lokal bermerek berada di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Artinya, sepatu karet BRIN memangkas harga hingga separuh dari opsi termurah yang lazim ditemui di pasaran.

Bagi keluarga dengan dua atau tiga anak usia sekolah, selisih harga ini sangat terasa. Anggaran yang tadinya hanya cukup untuk satu pasang sepatu kini bisa menjangkau dua hingga tiga pasang sekaligus.

Pesan Besar di Balik Sepatu Sederhana

Di balik tampilannya yang bersahaja, sepatu ini membawa pesan besar: inovasi tidak harus selalu berwujud kecerdasan buatan atau kendaraan listrik. Kadang, inovasi paling berdampak justru lahir dari pertanyaan sederhana — bagaimana membuat kebutuhan pokok rakyat menjadi lebih murah dengan sumber daya sendiri.

Kini tantangannya ada pada tahap berikutnya: produksi massal, distribusi merata, dan konsistensi mutu. Jika ketiganya berhasil diwujudkan, sepatu karet lokal ini bisa menjadi bukti bahwa platform riset nasional mampu melahirkan produk yang benar-benar dipakai rakyat, bukan sekadar pajangan di pameran teknologi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User