PMI Manufaktur RI Turun, PHK & Inflasi Jadi Sorotan

Jakarta — Sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi pada Juni 2026. Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id , Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional turun tajam ke

Jul 08, 2026 - 06:04
0 0
PMI Manufaktur RI Turun, PHK & Inflasi Jadi Sorotan

Jakarta — Sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi pada Juni 2026. Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional turun tajam ke level 46,9, dibandingkan 50,0 pada Mei lalu. Penurunan ini menandai penurunan paling dalam dalam setahun terakhir dan menimbulkan kekhawatiran baru terhadap gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta tekanan inflasi.

Anjloknya PMI ke bawah ambang 50,0 menunjukkan bahwa aktivitas sektor padat karya tersebut menyusut secara signifikan. Pemicu utamanya adalah merosotnya permintaan atas barang-barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru tercatat menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dengan laju penurunan paling cepat sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini terjadi setelah sebelumnya sektor manufaktur sempat mencatatkan ekspansi moderat pada April dan Mei.

Lesunya permintaan otomatis memaksa pelaku industri mengurangi volume produksi. Langkah efisiensi pun mulai dijalankan, dan yang paling rentan adalah pengurangan jumlah tenaga kerja. Beberapa asosiasi industri telah menyuarakan kemungkinan penyesuaian shift dan pembatasan rekrutmen baru. Jika tren penurunan berlanjut, PHK massal sulit dihindari, terutama di subsektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik.

Di sisi lain, meskipun permintaan melemah, tekanan inflasi di tingkat produsen justru tetap tinggi. Biaya bahan baku impor masih dibebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan gangguan rantai pasok global. Akibatnya, meski output dikurangi, harga jual produk tidak dapat ditekan secara proporsional. Fenomena ini menempatkan produsen dalam posisi sulit: menjual lebih sedikit dengan margin yang terus tergerus, sembari menanggung beban biaya tetap yang besar.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun," ujar ekonom yang merilis laporan tersebut, Usamah Bhatti, dalam keterangan yang diterima Terdepan.id, Rabu (1/7/2026).

Bhatti menambahkan bahwa tantangan kini bertambah berat karena produsen tidak hanya menghadapi sisi permintaan yang goyah, tetapi juga ongkos produksi yang terus membengkak. Kombinasi keduanya berpotensi menekan profitabilitas dan memicu restrukturisasi tenaga kerja yang lebih agresif.

Pemerintah diharapkan segera merespons dengan paket stimulus yang tepat sasaran, termasuk insentif bagi industri yang menahan laju PHK dan kebijakan pengendalian inflasi pangan serta energi. Dengan PMI yang kembali masuk zona kontraksi, paruh kedua 2026 menjadi ujian berat bagi daya tahan sektor manufaktur nasional dan stabilitas pasar tenaga kerja.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter Startup. Reporter startup dan ekosistem pendanaan.

Comments (0)

User