Kualitas sistem pendidikan sebuah negara bukan sekadar soal peringkat di atas kertas. Ia menentukan masa depan jutaan anak, daya saing bangsa, dan kemampuan suatu negara keluar dari jebakan kemiskinan. Ketika sebuah sistem pendidikan gagal, dampaknya terasa lintas generasi: angkatan kerja yang tidak siap bersaing, inovasi yang mandek, dan ketimpangan sosial yang melebar. Itulah mengapa daftar negara dengan sistem pendidikan terburuk di dunia selalu menarik perhatian, termasuk pertanyaan yang kerap muncul: bagaimana posisi Indonesia?
Pertanyaan ini penting karena pendidikan adalah fondasi dari segala kemajuan. Tanpa sumber daya manusia yang terdidik, teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa dioperasikan, dan pembangunan ekonomi hanya akan menjadi angka di atas kertas. Ibarat membangun gedung pencakar langit di atas fondasi pasir, kemajuan tanpa pendidikan yang kokoh akan rapuh dan mudah runtuh.
Bagaimana Sistem Pendidikan Diukur?
Sebelum membahas daftar terburuk, kita perlu memahami dulu bagaimana kualitas pendidikan sebuah negara dinilai. Ada beberapa indikator utama yang biasa digunakan lembaga internasional. Pertama, angka partisipasi sekolah, baik di jenjang dasar maupun menengah. Kedua, tingkat literasi dan numerasi, yaitu kemampuan membaca dan berhitung dasar. Ketiga, rasio guru terhadap murid, yang menggambarkan seberapa besar perhatian yang bisa diberikan seorang pengajar kepada setiap anak. Keempat, kualitas infrastruktur, mulai dari ruang kelas, listrik, hingga akses internet.
Indikator lain yang tak kalah penting adalah lamanya anak bertahan di bangku sekolah dan seberapa relevan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Negara-negara yang sering masuk daftar terburuk umumnya bermasalah pada hampir semua indikator ini secara bersamaan. Mereka biasanya adalah negara berkembang atau negara yang dilanda konflik berkepanjangan, di mana anggaran pendidikan sangat minim dan akses sekolah terbatas di daerah pedesaan.
Negara-Negara yang Kerap Disebut Terburuk
Dalam berbagai laporan lembaga seperti UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB), sejumlah negara di kawasan Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan secara konsisten menempati posisi bawah. Negara-negara seperti Somalia, Chad, Sudan Selatan, dan Niger sering muncul dalam daftar ini. Penyebabnya berlapis: konflik bersenjata, kemiskinan ekstrem, dan ketidakstabilan politik yang membuat sekolah tutup atau rusak.
Yang menarik, indikator terburuk tidak selalu hanya soal nilai akademik. Tingginya angka putus sekolah, banyaknya anak yang harus bekerja untuk membantu keluarga, serta minimnya jumlah guru terlatih menjadi penanda krisis yang lebih dalam. Di beberapa negara, seorang guru harus mengajar puluhan hingga ratusan murid sekaligus dalam satu kelas. Dalam kondisi seperti itu, mustahil mengharapkan proses pembelajaran yang efektif.
Posisi Indonesia dan Tantangannya
Lalu, di mana posisi Indonesia? Kalau merujuk pada skor penilaian global seperti PISA (Programme for International Student Assessment/penilaian pelajar internasional yang digelar OECD), Indonesia memang bukan yang terburuk, tetapi juga belum berada di kelompok teratas. Skor membaca, matematika, dan sains Indonesia umumnya berada di peringkat bawah dari puluhan negara yang ikut serta. Artinya, Indonesia tidak berada di dasar jurang, tetapi juga belum bisa berbangga diri.
Jika melihat tingkat partisipasi sekolah dasar, Indonesia justru menunjukkan capaian yang cukup baik. Program wajib belajar dan bantuan operasional sekolah telah mendorong jutaan anak masuk kelas. Masalahnya bukan sekadar masuk sekolah, tetapi kualitas pembelajaran di dalamnya. Ketimpangan antara sekolah di kota besar dan di daerah terpencil masih sangat lebar. Akses internet dan fasilitas laboratorium masih menjadi barang mewah di banyak tempat.
Kesenjangan ini menjadi tantangan utama dalam upaya pembangunan ekosistem pendidikan yang merata. Selama kualitas pendidikan masih bergantung pada lokasi geografis dan latar belakang ekonomi keluarga, maka potensi anak bangsa akan terus terbuang percuma. Padahal, di era disrupsi teknologi dan perkembangan machine learning serta deep tech, keterampilan dasar seperti literasi digital dan berpikir kritis menjadi semakin wajib dikuasai.
Apa yang Bisa Dipelajari?
Daftar negara dengan pendidikan terburuk seharusnya tidak dibaca sebagai vonis, melainkan sebagai cermin. Banyak negara yang dulunya tertinggal kini melesat berkat investasi serius di sektor pendidikan, pelatihan guru, dan pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh. Kuncinya ada pada komitmen jangka panjang dan pemerataan, bukan sekadar program sesaat.
Bagi Indonesia, pertanyaan sesungguhnya bukan apakah masuk daftar terburuk atau tidak, melainkan seberapa cepat kesenjangan kualitas bisa dipersempit. Pendidikan adalah investasi paling murah untuk mencegah kemiskinan di masa depan. Ibarat menanam pohon, hasilnya memang tidak bisa dipetik dalam semalam, tetapi siapa yang menunda menanam, dia akan kehilangan naungan di kemudian hari.
Comments (0)