Pembiayaan Kendaraan Listrik Capai 25 Persen, Multifinance Diingatkan Soal Risiko

Beralih ke kendaraan listrik kini bukan lagi sekadar wacana. Bagi keluarga Indonesia yang berencana membeli mobil atau motor listrik secara kredit, kabar dari industri pembiayaan ini patut dicermati: ...

Pembiayaan Kendaraan Listrik Capai 25 Persen, Multifinance Diingatkan Soal Risiko

Beralih ke kendaraan listrik kini bukan lagi sekadar wacana. Bagi keluarga Indonesia yang berencana membeli mobil atau motor listrik secara kredit, kabar dari industri pembiayaan ini patut dicermati: peluang semakin terbuka, tetapi ada risiko yang perlu dipahami semua pihak, termasuk calon konsumen.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI)—induk organisasi perusahaan multifinance di Tanah Air—mengungkapkan bahwa pangsa pasar pembiayaan kendaraan listrik telah mencapai 25 persen. Artinya, sekitar seperempat bisnis pembiayaan kendaraan kini berkaitan dengan segmen kendaraan berbasis baterai. Angka ini mencerminkan disrupsi teknologi yang tengah terjadi di sektor otomotif nasional, sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi.

Meski demikian, Ketua APPI Suwandi Wiratno mengingatkan agar pelaku industri tidak terbuai oleh pertumbuhan semata. Menurutnya, ada dua risiko besar yang harus diantisipasi perusahaan pembiayaan sebelum memperdalam keterlibatan mereka di ekosistem kendaraan listrik.

"Pertumbuhan pangsa pasar ini memang menggembirakan, tetapi industri pembiayaan harus tetap berhati-hati. Ada risiko dari sisi nilai jual kembali kendaraan maupun potensi kerusakan yang karakteristiknya berbeda dari kendaraan konvensional," ujar Suwandi.

Pangsa Pasar 25 Persen: Sinyal Ekosistem yang Berubah

Capaian 25 persen ini menjadi penanda bahwa kendaraan listrik bukan lagi produk pinggiran. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inovasi dan pengembangan teknologi baterai membuat harga kendaraan listrik kian kompetitif, sementara insentif pemerintah mendorong minat beli masyarakat.

Bagi perusahaan multifinance, segmen ini adalah pasar baru yang menggiurkan. Namun, membiayai kendaraan listrik tidak bisa disamakan dengan membiayai kendaraan bermesin bensin yang pasarnya sudah matang selama puluhan tahun. Implementasi skema pembiayaan di segmen ini menuntut model penilaian risiko yang benar-benar baru.

Risiko Pertama: Harga Jual Kembali yang Belum Teruji

Risiko pertama yang disorot APPI adalah nilai jual kembali (resale value). Dalam bisnis pembiayaan, kendaraan berfungsi sebagai jaminan. Jika debitur gagal bayar, perusahaan akan menarik unit dan menjualnya untuk menutup kerugian. Di sinilah masalahnya: pasar kendaraan listrik bekas di Indonesia masih sangat muda, sehingga belum ada patokan harga yang stabil.

Ibarat menjual ponsel bekas dari merek yang baru masuk pasar—pemiliknya sulit memprediksi berapa harga yang pantas karena belum banyak transaksi pembanding. Kondisi ini membuat perusahaan pembiayaan kesulitan menghitung nilai agunan yang sebenarnya, padahal perhitungan itu menjadi fondasi penentuan uang muka, tenor, dan besaran cicilan.

Risiko Kedua: Kerusakan dan Degradasi Baterai

Risiko kedua adalah kerusakan unit, terutama pada komponen paling vital: baterai. Pada kendaraan listrik, baterai bisa menyumbang 30 hingga 40 persen dari total harga kendaraan. Jika komponen ini rusak atau mengalami degradasi alias penurunan kapasitas, nilai kendaraan bisa anjlok drastis.

Analoginya sederhana: bayangkan baterai ponsel yang setelah dua tahun pemakaian daya tahannya menurun signifikan. Hal serupa terjadi pada baterai kendaraan listrik, hanya saja skalanya jauh lebih besar dan biaya penggantiannya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi ketersediaan bengkel, teknisi bersertifikat, dan suku cadang yang masih terbatas dibanding jaringan servis kendaraan konvensional.

AspekKendaraan KonvensionalKendaraan Listrik
Nilai jual kembaliRelatif stabil, data pasar puluhan tahunBelum teruji, pasar bekas masih muda
Komponen bernilai tinggiMesin pembakaran internalBaterai (30–40% harga kendaraan)
Jaringan perbaikanBengkel luas dan merataTeknisi dan suku cadang terbatas
Profil risiko kerusakanSudah terpetakan dengan baikMasih dipelajari industri

Apa Artinya bagi Konsumen?

Bagi masyarakat, kehati-hatian multifinance ini bisa berdampak ganda. Dalam jangka pendek, perusahaan pembiayaan mungkin menerapkan syarat lebih ketat—misalnya uang muka lebih besar atau tenor lebih pendek—untuk melindungi diri dari risiko. Namun dalam jangka panjang, pendekatan prudent seperti ini justru menyehatkan ekosistem, karena mencegah gelembung kredit bermasalah yang pada akhirnya bisa merugikan konsumen.

Ke depan, kolaborasi antara industri pembiayaan, produsen kendaraan, dan pemerintah akan menjadi kunci. Penelitian dan pengembangan terkait standar kesehatan baterai, platform penilaian harga kendaraan bekas, serta perluasan jaringan servis akan menentukan seberapa cepat segmen ini matang. Jika fondasi tersebut kokoh, efisiensi pembiayaan kendaraan listrik akan meningkat dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User