Negara Syiah Diam-diam Bantu Israel Perangi Iran
Sebuah laporan investigatif mengungkap keterlibatan terselubung sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim Syiah dalam membantu Israel menghadapi Iran di tengah memanasnya konfrontasi militer di Timur...
Sebuah laporan investigatif mengungkap keterlibatan terselubung sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim Syiah dalam membantu Israel menghadapi Iran di tengah memanasnya konfrontasi militer di Timur Tengah. Negara tersebut, yang selama ini dikenal menjaga hubungan diplomatik pragmatis dengan Tel Aviv, diduga menyediakan akses intelijen vital, ruang udara, serta dukungan logistik yang signifikan selama rangkaian serangan Israel ke wilayah Iran. Fakta ini mengejutkan banyak pihak mengingat solidaritas keagamaan antar-negara Syiah biasanya menjadi tameng diplomatik yang kuat melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi Zionis.
Benang Merah Kerja Sama Tersembunyi
Azerbaijan, republik bekas Soviet yang berbatasan langsung dengan Iran di sebelah selatan, muncul sebagai aktor kunci dalam aliansi rahasia ini. Hubungan antara Baku dan Tel Aviv sebenarnya bukan hal baru. Selama lebih dari dua dekade, kedua negara menjalin kemitraan strategis di bidang energi, teknologi pertanian, dan terutama pertahanan. Namun, derajat keterlibatan Azerbaijan dalam operasi melawan Iran baru-baru ini mencapai tingkatan yang sama sekali berbeda. Informasi yang dihimpun dari sumber-sumber keamanan regional menunjukkan bahwa Baku memberikan akses kepada pesawat nirawak (drone) dan jet tempur Israel ke pangkalan udara di wilayah Nakhchivan dan beberapa fasilitas di dekat perbatasan Iran. Langkah ini secara dramatis memperpendek jarak tempuh serangan Israel dan mempersulit deteksi dini oleh sistem pertahanan udara Iran.
Yang lebih mencengangkan adalah fakta bahwa Azerbaijan adalah negara dengan populasi Muslim Syiah sekitar 65–75 persen, menempatkannya dalam posisi yang kontradiktif: di satu sisi memiliki ikatan kultural dan historis dengan Iran yang juga mayoritas Syiah, di sisi lain memilih bersekutu dengan Israel yang notabene musuh abadi Tehran. Pemerintahan Presiden Ilham Aliyev tampaknya memainkan kartu ganda— secara terbuka menyatakan solidaritas Islam dan menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Islam, namun diam-diam menjadi mata dan telinga Mossad di halaman belakang Iran.
Jejak Intelijen dan Operasi Darat
Menurut catatan yang dikumpulkan dari analis pertahanan independen dan dokumen-dokumen yang bocor, Mossad, badan intelijen Israel, telah membangun jaringan operasi di Azerbaijan selama bertahun-tahun. Mereka merekrut warga lokal, menggunakan perusahaan cangkang, dan bahkan mendirikan pos pemantauan di sepanjang perbatasan sepanjang 689 kilometer yang memisahkan Azerbaijan dari Iran. Data intersepsi komunikasi, pergerakan pasukan Garda Revolusi Iran, dan lokasi fasilitas nuklir bawah tanah dilaporkan mengalir dari sensor-sensor yang ditempatkan di wilayah Azerbaijan langsung ke pusat komando Israel.
Puncaknya terjadi saat Israel melancarkan serangkaian serangan presisi ke infrastruktur militer Iran pada awal tahun ini. Dalam operasi yang dinamai Operasi Taring Persia, pesawat-pesawat F-35i Adir Israel dilaporkan melakukan pengisian bahan bakar di udara secara rahasia di atas wilayah Azerbaijan, kemudian melesat menuju target di Isfahan, Natanz, dan Tabriz. Satelit komersial dan citra radar aperture sintetis menangkap pergerakan mencurigakan di lapangan terbang militer di Ganja dan di Nakhchivan hanya beberapa jam sebelum ledakan terdengar di kota-kota Iran. Meskipun Baku secara resmi menyangkal keterlibatan, aktivitas diplomatik yang tidak biasa— termasuk penutupan sementara kedutaan Azerbaijan di Tehran dan evakuasi staf menjelang serangan— memperkuat dugaan peran aktif negara itu.
Motif di Balik Sikap Kontroversial
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa Azerbaijan, negara Syiah, justru membantu Israel memerangi sesama negara Syiah. Jawabannya terletak pada kombinasi motif geopolitik, ekonomi, dan keamanan. Pertama, meskipun mayoritas penduduknya Syiah, Azerbaijan menganut paham sekularisme ketat warisan Uni Soviet dan memiliki kekhawatiran mendalam terhadap ekspor Revolusi Iran. Baku menuduh Tehran selama ini mendukung kelompok oposisi Islamis di dalam negeri serta memberikan bantuan kepada Armenia, musuh bebuyutan Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karabakh. Dengan membantu Israel melemahkan militer Iran, Baku berharap mengamankan perbatasan selatannya dari infiltrasi dan mengurangi pengaruh ideolog Tehran.
Kedua, ketergantungan Azerbaijan pada teknologi militer Israel tidak bisa diabaikan. Lebih dari 60 persen persenjataan modern Azerbaijan berasal dari Israel, termasuk drone Harop dan Hermes yang terbukti ampuh dalam Perang Nagorno-Karabakh 2020. Israel juga merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah Azerbaijan yang disalurkan melalui pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan. Data perdagangan menunjukkan volume kerja sama pertahanan bilateral mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS dalam lima tahun terakhir. Dengan demikian, membantu Israel adalah bentuk investasi keamanan jangka panjang dan penguncian pasokan militer canggih yang sulit diperoleh dari negara Barat yang sering mengaitkan penjualan senjata dengan syarat-syarat hak asasi manusia.
Ketiga, posisi Azerbaijan yang terjepit antara Rusia di utara dan Iran di selatan memaksa negara itu mencari penyeimbang kekuatan. Aliansi dengan Israel dan secara tidak langsung dengan Amerika Serikat menjadi benteng pertahanan terhadap ambisi regional Tehran yang kerap mengancam akan “mengguncang” stabilitas Azerbaijan jika terus menjalin hubungan akrab dengan Zionis. Dalam kalkulasi Baku, risiko kemarahan Iran lebih kecil dibandingkan jaminan keamanan yang diperoleh dari Tel Aviv.
Reaksi dan Implikasi Geopolitik
Terungkapnya kerja sama rahasia ini sontak memicu gelombang kecaman di dalam negeri Iran dan di kalangan komunitas Syiah internasional. Media pemerintah Iran mengecam “pengkhianatan Baku terhadap darah syuhada Karbala”, sementara kelompok milisi pro-Iran di Irak dan Suriah mengeluarkan ancaman untuk membalas “kaki tangan Zionis” di kawasan Kaukasus. Tehran bahkan menggelar latihan militer besar-besaran di dekat perbatasan Azerbaijan, mengerahkan divisi lapis baja dan rudal balistik jarak pendek sebagai peringatan keras. Namun, sanksi ekonomi yang membelit Iran membuat opsi eskalasi militer menjadi langkah yang sangat berisiko.
Di sisi lain, negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang juga memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, menyambut baik kerja sama ini secara tertutup. Bagi Riyadh, apa pun yang melemahkan infrastruktur militer dan proyek nuklir Iran adalah kemajuan positif. Para analis menilai bahwa pengungkapan ini justru memperjelas poros baru di Timur Tengah: koalisi negara-negara Sunni dan Syiah non-ideologis yang dipersatukan oleh kepentingan praktis melawan ekspansionisme Iran, meskipun harus berkolusi dengan Israel. Normalisasi hubungan secara diam-diam antara negara-negara Muslim dan Israel kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan geopolitik yang semakin sulit dibantah.
Bagi Indonesia dan negara Muslim lainnya, kejadian ini menjadi tamparan keras. Solidaritas berbasis mazhab dan identitas keagamaan terbukti gampang luruh ketika berhadapan dengan hitungan untung-rugi kekuasaan. Azerbaijan yang Syiah ternyata lebih memilih mengamankan perbatasan dan persenjataan canggih bersama Israel ketimbang berpegang teguh pada narasi persatuan melawan Zionis. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Azerbaijan selain bantahan standar, namun jejak-jejak keterlibatan sudah terlanjur menyebar di ranah publik.
Dalam perkembangan terbaru, para pakar keamanan mengindikasikan bahwa operasi intelijen semacam ini akan terus berlanjut dan semakin canggih. Perang bayangan antara Israel dan Iran kini memiliki dimensi baru yang melibatkan aktor-aktor tak terduga. Azerbaijan, negeri Syiah yang sunyi di Kaukasus, akan tetap menjadi bidak penting di atas papan catur Timur Tengah yang kian panas.
Baca juga:
Comments (0)