Mashhad Dipadati Puluhan Ribu Pelayat Jelang Pemakaman Ayatollah Khamenei
Kota suci Mashhad di timur laut Iran berubah menjadi lautan manusia pada Rabu (8/7) malam, ketika puluhan ribu warga membanjiri jalan-jalan utama menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, A...
Kota suci Mashhad di timur laut Iran berubah menjadi lautan manusia pada Rabu (8/7) malam, ketika puluhan ribu warga membanjiri jalan-jalan utama menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kesedihan mendalam dan penghormatan terakhir mewarnai kerumunan yang terus bertambah dari berbagai penjuru negeri, menciptakan salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah Republik Islam tersebut.
Kepergian Sang Pemimpin dan Reaksi Nasional
Kabar wafatnya Ayatollah Khamenei pada awal pekan ini telah mengguncang Iran dan panggung geopolitik Timur Tengah. Sebagai pemegang kendali tertinggi negara selama lebih dari tiga dekade, kepergiannya menandai akhir sebuah era. Reaksi publik langsung terlihat melalui deklarasi masa berkabung nasional selama tiga hari yang diumumkan oleh pemerintah, diiringi gelombang ziarah spontan dari para pendukung setia yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Di Mashhad, kota kelahiran sang ulama, gelombang pelayat mulai terlihat sejak Selasa malam, namun intensitasnya meningkat drastis pada Rabu, memenuhi kawasan sekitar Makam Imam Reza, salah satu situs paling suci bagi Muslim Syiah. Otoritas setempat memperkirakan jumlah peziarah dan pelayat bisa mencapai ratusan ribu saat puncak prosesi esok hari.
Mashhad: Kota Kelahiran dan Peristirahatan Terakhir
Pemilihan Mashhad sebagai lokasi pemakaman bukanlah tanpa alasan historis dan spiritual. Kota ini merupakan tempat kelahiran Ali Khamenei pada tahun 1939, sekaligus pusat keilmuan Islam Syiah tempat ia menimba ilmu sebelum terjun ke dunia politik. Bereka telah menjadi simbol perlawanan sejak masa Revolusi Islam 1979, dan kini menjadi titik akhir perjalanan sang pemimpin. Kompleks Haram-e Razavi, yang menyimpan makam Imam Reza, diperluas secara khusus untuk mengakomodasi prosesi pemakaman, sementara jalan-jalan utama seperti Boulevard Imam Reza dan Jalan Tabarsi ditutup total untuk kendaraan pribadi. Ratusan bus tambahan dikerahkan dari provinsi tetangga untuk mengangkut pelayat yang tidak mampu menjangkau pusat kota.
Pengamanan Maksimal dan Koordinasi Logistik
Mengingat skala acara dan profil tokoh yang dimakamkan, aparat keamanan Iran memberlakukan penjagaan berlapis. Puluhan ribu personel Garda Revolusi Iran (IRGC) dan polisi diterjunkan untuk memastikan kelancaran prosesi, mengingat potensi ancaman keamanan di tengah ketegangan regional yang masih tinggi. Pos pemeriksaan didirikan di semua pintu masuk ke pusat kota, sementara drone pengawas dan helikopter terus memantau pergerakan massa dari udara. Meski demikian, suasana di lapangan dilaporkan relatif tertib dan khusyuk. Tim medis darurat dan dapur umum lapangan juga disiagakan di lebih dari 50 titik strategis untuk mengantisipasi kelelahan para pelayat, mengingat suhu musim panas yang bisa mencapai 38 derajat Celsius. Juru bicara penyelenggara pemakaman menyebutkan bahwa ini adalah operasi logistik terkompleks sejak pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989.
Warisan Kepemimpinan yang Membentuk Iran Modern
Kepergian Khamenei membuka babak baru dalam politik Iran. Selama tiga puluh enam tahun memegang jabatan Wali Faqih, ia mengawal negara melalui perang proksi di kawasan, sanksi ekonomi internasional berkepanjangan, hingga dinamika kesepakatan nuklir yang berliku. Bagi para pendukungnya, ia adalah simbol keteguhan melawan dominasi asing dan penjaga nilai-nilai revolusi. Bagi kritikus, pemerintahannya identik dengan pembatasan kebebasan sipil dan pengelolaan ekonomi yang tertutup. Terlepas dari sudut pandang, pengaruhnya terhadap struktur kelembagaan negara, dari militer hingga yudikatif, tidak terbantahkan. Para analis kini mencermati bagaimana proses transisi ke Majelis Ahli berikutnya akan berjalan, serta sejauh mana stabilitas politik domestik dapat dipertahankan di tengah duka nasional ini.
Di tengah lautan bendera hitam dan potret sang pemimpin yang menghiasi setiap sudut Mashhad, warga seperti Fatemeh, seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun, mengutarakan perasaan campur aduk. "Ini seperti kehilangan seorang ayah bagi kami," ujarnya lirih sambil menggenggam Al-Quran kecil. Prosesi pemakaman yang dijadwalkan dimulai pukul 08.00 waktu setempat pada Kamis (9/7) diprediksi akan dihadiri oleh sejumlah delegasi tingkat tinggi dari negara-negara sekutu, serta jutaan pelayat domestik yang masih terus berdatangan.
Baca juga:
Comments (0)