Serangan Udara Dahsyat: 170 Sasaran Iran Dibombardir AS dalam Dua Hari
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menghantam setidaknya 170 target dalam kurun waktu hanya 48 jam. Operasi yang dimulai pada Selasa (7/7) pagi waktu set...
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menghantam setidaknya 170 target dalam kurun waktu hanya 48 jam. Operasi yang dimulai pada Selasa (7/7) pagi waktu setempat ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran telah kedaluwarsa.
Operasi Dua Hari Tanpa Henti
Menurut sumber di Pentagon, serangan yang dijuluki “Operation Desert Resolve” itu menyasar fasilitas militer strategis, termasuk pangkalan rudal balistik, pusat komando, instalasi nuklir bawah tanah, serta gudang persenjataan milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Gelombang pertama terjadi pada Selasa dini hari, dengan pengerahan pesawat pengebom B-2 Spirit yang lepas landas dari Pangkalan Udara Diego Garcia. Serangan lanjutan dilakukan pada Rabu (8/7) dengan kombinasi drone tempur dan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang AS di Teluk Persia.
“Ini adalah respons terukur terhadap ancaman berkelanjutan yang ditimbulkan oleh program rudal dan nuklir Iran,” ujar Menteri Pertahanan AS dalam konferensi pers di Pentagon. Ia menegaskan bahwa 170 target yang dipilih telah melalui proses verifikasi intelijen panjang untuk meminimalkan jatuhnya korban sipil.
Pemicu: MoU Kadaluwarsa dan Kegagalan Diplomasi
Eskalasi militer ini dipicu oleh pernyataan Trump pada Selasa malam waktu Washington, yang mengklaim bahwa nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada awal 2025 telah berakhir tanpa ada kemajuan berarti. MoU itu sendiri merupakan payung sementara untuk menggantikan perundingan nuklir yang macet. Trump menuduh Iran terus memperkaya uranium melampaui ambang batas yang disepakati dan mengembangkan rudal yang dapat menjangkau sekutu AS di kawasan.
“Mereka pikir mereka bisa mengulur waktu. Sekarang waktunya sudah habis,” tulis Trump melalui platform media sosialnya. Pernyataan itu langsung diikuti oleh instruksi kepada militer untuk melaksanakan rencana darurat yang telah disiapkan sejak pertengahan Juni.
Respons Teheran dan Dunia Internasional
Kantor Berita Republik Islam (IRNA) melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Iran berhasil mencegat sejumlah rudal, namun serangan yang masif menyebabkan kerusakan signifikan. Pemimpin Tertinggi Iran menyebut serangan itu sebagai “agresi yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan” dan memerintahkan pasukan bersenjata untuk bersiaga penuh. Belum ada laporan pasti mengenai jumlah korban jiwa, namun Palang Merah Iran menyatakan sedang melakukan evakuasi di sejumlah lokasi yang terkena dampak.
Di kancah global, reaksi terbelah. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan penghentian segera semua aksi militer dan meminta kedua pihak kembali ke meja perundingan. Uni Eropa, melalui Kepala Kebijakan Luar Negerinya, menyampaikan keprihatinan mendalam dan memperingatkan bahwa serangan tersebut bisa memicu perang terbuka di kawasan. Sementara itu, Israel secara terbuka menyatakan dukungan terhadap langkah AS, dan Rusia mengecam operasi itu sebagai pelanggaran hukum internasional.
Analisis: Risiko Perang Berkepanjangan
Para analis keamanan menilai bahwa penghancuran 170 target dalam waktu singkat menunjukkan kemampuan luar biasa militer AS untuk melakukan operasi multi-domain secara simultan. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah ini akan melumpuhkan kemampuan balas dendam Iran atau justru memicu serangan asimetris melalui proksi-proksinya di Lebanon, Suriah, dan Yaman.
“Menghancurkan infrastruktur keras adalah satu hal, tetapi menghentikan ideologi dan jaringan proksi adalah persoalan berbeda,” kata Profesor Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa eskalasi ini berpotensi menyeret negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik, terutama jika Iran memutuskan untuk menyerang kapal-kapal tanker di Selat Hormuz — jalur vital perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, pemerintahan Trump tampaknya berkalkulasi bahwa tekanan maksimum melalui kekuatan militer akan memaksa Iran untuk menerima persyaratan baru yang lebih ketat. Namun, sejarah konflik di kawasan itu menunjukkan bahwa Teheran cenderung merespons dengan cara yang sulit diprediksi dan justru meningkatkan ketegangan dalam jangka panjang.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa
Kabar serangan ini segera mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 8% dalam perdagangan awal Kamis, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun. Investor mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan dari Timur Tengah. Indeks saham di bursa Asia dan Eropa juga tergelincir, sementara aset safe haven seperti emas dan dolar AS menguat tajam. Bank-bank sentral di kawasan mulai menggelar rapat darurat untuk meredam gejolak mata uang.
Apa Selanjutnya?
Hingga artikel ini diturunkan, belum ada sinyal bahwa kedua pihak akan meredakan ketegangan. Iran dilaporkan sedang berkoordinasi dengan sekutu-sekutunya untuk menentukan langkah pembalasan, sementara AS mengirimkan bala bantuan berupa kapal induk kedua ke Laut Arab. Para diplomat di New York masih mengupayakan resolusi Dewan Keamanan, tetapi hak veto dari anggota tetap diprediksi akan menggagalkan upaya tersebut. Dunia kini menanti dengan cemas apakah Timur Tengah akan kembali menyaksikan perang skala penuh.
Baca juga:
Comments (0)