Trump Akhiri Gencatan, Israel Siap Perang Ketiga lawan Iran
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak menghentikan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dianggap sebagai pintu masuk menuju st...
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak menghentikan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dianggap sebagai pintu masuk menuju stabilitas kawasan. Keputusan mengejutkan ini langsung memicu gelombang reaksi dari Tel Aviv, di mana pemerintah Israel menyatakan kesiapan penuh untuk melancarkan operasi militer besar-besaran yang mereka sebut sebagai "Perang Jilid Tiga" terhadap Iran.
Langkah Trump tersebut disampaikan dalam konferensi pers singkat di Gedung Putih pada Selasa malam waktu setempat. Dengan nada tinggi, Trump menyebut Iran telah berulang kali melanggar komitmen tidak tertulis yang menjadi dasar gencatan senjata, termasuk dugaan pengiriman senjata ke kelompok-kelompok proksi di Lebanon dan Yaman. "Kami tidak akan tinggal diam. Perjanjian ini hanya memberi mereka waktu untuk mempersenjatai diri. Ini sudah berakhir," tegas Trump. Namun, para pengamat menilai penghentian ini lebih didorong oleh dinamika politik dalam negeri AS dan tekanan dari lobi-lobi hawkish, ketimbang bukti pelanggaran yang meyakinkan.
Gencatan yang Rapuh: Dari Meja Perundingan ke Ambang Perang
Gencatan senjata yang kini kandas sejatinya baru berusia empat bulan. Ia lahir dari diplomasi alot yang dimediasi oleh Uni Eropa dan China setelah gelombang kekerasan terakhir antara Israel dan Iran yang menewaskan ribuan jiwa. Kesepakatan itu mensyaratkan Iran menghentikan pengayaan uranium di atas ambang batas tertentu, sementara Israel berjanji menarik mundur pasukannya dari zona penyangga di Suriah selatan. Kedua pihak juga sepakat membuka jalur kemanusiaan yang diawasi PBB.
Namun, implementasinya berjalan timpang. Inspeksi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum sepenuhnya mendapatkan akses ke fasilitas Natanz dan Fordow. Di saat bersamaan, Israel melaporkan peningkatan aktivitas militer Iran di sekitar Dataran Tinggi Golan melalui milisi sekutunya. Situasi ini menciptakan saling tuding, dan pernyataan Trump seolah menjadi katalis yang menghancurkan pilar-pilar gencatan yang sudah rapuh.
Israel Bernafsu: "Jilid Tiga" yang Ditunggu
Bagi Israel, penghentian gencatan adalah kesempatan yang telah dinantikan. Menteri Pertahanan Israel, dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, menyatakan bahwa angkatan bersenjata telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk "Jilid Tiga"—istilah yang merujuk pada dua perang terbuka sebelumnya antara kedua negara pada 2024 dan 2025. "Kami tidak akan membiarkan ancaman eksistensial ini terus tumbuh. Waktu untuk bertindak adalah sekarang," ujarnya. Angkatan Udara Israel segera menaikkan status siaga ke level tertinggi, sementara sistem pertahanan Iron Dome dan David's Sling diaktifkan secara penuh di seluruh wilayah utara dan tengah.
Sumber militer yang tidak ingin disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa Israel telah memindahkan tiga brigade lapis baja ke perbatasan dengan Lebanon dan mengerahkan kapal selam kelas Dolphin ke perairan Teluk Persia. Operasi ini, menurut sumber tersebut, dirancang untuk melumpuhkan infrastruktur nuklir dan pusat komando Iran dalam waktu kurang dari 72 jam. "Ini bukan pertempuran biasa. Ini akan menjadi perang teknologi tinggi yang menggabungkan serangan siber, kecerdasan buatan untuk penargetan, dan drone otonom," jelasnya.
Respons Internasional: Kecaman dan Kekhawatiran
Diplomasi global langsung bergerak. Sekretaris Jenderal PBB menyatakan "keprihatinan mendalam" dan meminta semua pihak menahan diri. China dan Rusia dengan cepat mengecam keputusan Trump, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip penyelesaian damai. Presiden Prancis, melalui akun resminya, menulis bahwa dunia tidak mampu menanggung perang skala penuh lainnya di Timur Tengah, yang akan mengganggu pasokan energi global dan memicu krisis pengungsi baru.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia langsung melonjak 5 persen dalam perdagangan elektronik, menembus angka 110 dolar AS per barel. Pasar saham Asia dan Eropa pun melemah signifikan. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong inflasi global kembali ke level tertinggi, mengingat Selat Hormuz—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia—berada di titik rawan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa dampak langsung pada harga bahan bakar dan pangan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM menyatakan tengah menghitung skenario terburuk dan menyiapkan cadangan strategis. Masyarakat pun diimbau mengantisipasi kenaikan harga, meski belum ada perubahan resmi pada subsidi.
Iran di Tengah Pengepungan
Teheran sejauh ini belum memberikan respons resmi, namun saluran televisi pemerintah menayangkan gambar parade militer dengan narasi "kesiapan membela tanah air". Seorang pemimpin senior Garda Revolusi Iran dalam wawancara singkat menyatakan, "Jika musuh membuat kesalahan perhitungan, mereka akan menerima pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan." Meski begitu, sinyal dari dalam negeri menunjukkan tekanan ekonomi akibat sanksi yang belum dicabut membuat Iran berada dalam posisi sulit. Kemampuan militernya memang telah dimodernisasi dengan rudal hipersonik dan drone murah, tetapi perang terbuka melawan Israel yang didukung penuh AS tetap merupakan pertaruhan yang sangat besar.
Para pengamat menilai bahwa dalam 48 jam ke depan akan menjadi penentu. Apakah "Jilid Tiga" benar-benar pecah atau diplomasi menit-menit terakhir mampu meredamnya. Yang jelas, kawasan kembali berada di ujung tanduk, dan semua mata tertuju pada langkah selanjutnya dari Gedung Putih dan Tel Aviv.
Baca juga:
Comments (0)