Rabi Israel Serukan Pencegahan Diskusi Genosida Gaza di Gereja Inggris

Seorang pemimpin agama Yahudi dari Israel secara terbuka menyerukan aksi massa untuk menghentikan sebuah acara diskusi tentang dugaan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza yang akan digelar ...

Jul 12, 2026 - 15:03
0 0
Rabi Israel Serukan Pencegahan Diskusi Genosida Gaza di Gereja Inggris

Seorang pemimpin agama Yahudi dari Israel secara terbuka menyerukan aksi massa untuk menghentikan sebuah acara diskusi tentang dugaan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza yang akan digelar di sebuah gereja di Inggris. Seruan tersebut disampaikan melalui media sosial dan komunitas daring, memicu gelombang reaksi dari berbagai kalangan, termasuk aktivis hak asasi manusia, tokoh lintas agama, dan pemerintah setempat.

Rabi itu menyebut acara tersebut sebagai "propaganda anti-Israel" dan mengklaim bahwa forum semacam itu tidak berhak menyelenggarakan diskusi yang dinilainya bias. Ia mengimbau para pendukungnya untuk hadir secara fisik di depan gereja pada hari pelaksanaan guna mencegah jalannya pertemuan, bahkan dengan cara memblokade akses masuk. Imbauan ini segera menuai kecaman karena dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan beribadah.

Kronologi dan Bentuk Seruan

Menurut sejumlah unggahan yang beredar, rabi tersebut pertama kali menyampaikan ajakannya melalui kanal Telegram pribadi yang memiliki ribuan pengikut. Ia menyebut nama gereja—yang diketahui merupakan tempat ibadah bersejarah di London Utara—dan tanggal diskusi yang direncanakan. Dalam pesannya, ia menulis bahwa "komunitas Yahudi tidak boleh tinggal diam melihat kebohongan disebarkan di bawah atap tempat suci."

Ia juga meminta agar massa datang dengan membawa simbol-simbol tertentu dan bersiap "berdiri di setiap pintu masuk" untuk menghadang peserta yang hendak mengikuti diskusi. Polisi setempat mengonfirmasi telah menerima laporan terkait rencana tersebut dan akan meningkatkan patroli di sekitar gereja pada hari yang dimaksud. Penyelenggara acara, yang tergabung dalam koalisi kelompok antikekerasan dan keadilan sosial, menyatakan bahwa diskusi akan tetap berjalan dengan pengamanan tambahan.

Reaksi Publik dan Otoritas Inggris

Kepolisian Inggris melalui pernyataan resmi menegaskan bahwa setiap upaya menghalangi pertemuan yang sah secara hukum akan ditindak tegas. "Kebebasan berkumpul dan beribadah dilindungi undang-undang. Tindakan intimidasi, apalagi yang bersifat massal, tidak akan kami toleransi," ujar juru bicara Kepolisian Metropolitan London. Pemerintah setempat juga menekankan bahwa diskusi tentang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia berat seperti genosida bukanlah hal yang dapat dibungkam dengan ancaman.

Di sisi lain, sejumlah tokoh Yahudi progresif di Inggris mengecam aksi yang direncanakan. Mereka menyatakan bahwa mengatasnamakan komunitas Yahudi untuk menekan ruang diskusi justru menodai nilai-nilai keadilan yang diajarkan tradisi Yahudi sendiri. "Kami percaya kebenaran harus diuji melalui dialog, bukan dihentikan dengan kekerasan atau intimidasi," kata koordinator jaringan Yahudi untuk keadilan di Inggris.

Lembaga advokasi kebebasan pers dan berpendapat juga menyoroti seruan rabi tersebut sebagai contoh meningkatnya tekanan terhadap ruang sipil yang membahas konflik Gaza. Data dari lembaga pemantau menunjukkan lonjakan upaya pembatasan diskusi publik tentang isu Israel-Palestina di Eropa sepanjang tahun 2025, dengan setidaknya 12 upaya serupa tercatat di Inggris saja.

Perdebatan Istilah "Genosida" dalam Konflik Gaza

Pemilihan istilah "genosida" menjadi titik api dalam kontroversi ini. Penggunaan kata tersebut telah menjadi subjek perdebatan hukum dan politik internasional pascaoperasi militer besar-besaran Israel di Gaza yang dimulai pada akhir 2023. Mahkamah Internasional (ICJ) dalam putusan sementaranya pada awal 2024 meminta Israel mencegah tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genosida, namun tidak secara definitif menyatakan bahwa genosida telah terjadi. Sejumlah organisasi hak asasi manusia—termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch—kemudian merilis laporan yang secara eksplisit menuduh Israel melakukan genosida, sementara pemerintahan sejumlah negara Barat menolak label tersebut.

Gereja yang menjadi sasaran seruan ini dikenal sering menyelenggarakan diskusi teologis dan sosial yang kritis terhadap kebijakan berbagai negara, bukan hanya Israel. Pihak gereja dalam pernyataan resminya menekankan bahwa acara tersebut adalah bagian dari misi perdamaian dan keadilan. "Kami membuka ruang bagi suara-suara yang diabaikan. Itu adalah panggilan iman, bukan agenda politik," tulis dewan pengurus gereja. Mereka mengundang pihak-pihak yang tidak setuju untuk hadir dan menyampaikan pandangan secara tertib, bukan dengan ancaman penggerudukan.

Seruan rabi ini memperlihatkan jurang kian lebar antara narasi korban dan pelaku di tengah konflik yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa. Bagi warga Palestina, istilah genosida mencerminkan realitas pemusnahan sistematis yang mereka alami; bagi sebagian warga Israel dan pendukungnya, istilah itu dianggap sebagai delegitimasi dan serangan terhadap hak bela diri negara. Di tengah polarisasi tersebut, ruang-ruang dialog netral kian terhimpit, dan peristiwa di gereja London ini menjadi ujian bagi prinsip demokrasi Eropa dalam melindungi kebebasan berpendapat.

Dengan meningkatnya tensi dan perhatian media, acara diskusi itu kini bukan lagi sekadar forum akademis, melainkan simbol pertarungan antara kebebasan berekspresi dan tekanan politik transnasional. Apakah polisi Inggris mampu menjamin keamanan, dan apakah audiens tetap berani hadir, akan menjadi pertanyaan yang terjawab dalam beberapa hari mendatang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User