Mengapa Etnis Kurdi Bangkit Melawan Kekuasaan Ayatollah di Iran?

Bayangkan sebuah negara yang tampak kokoh dari luar, dengan aparat keamanan yang kuat dan pengaruh regional yang luas, tetapi justru menghadapi tantangan paling serius dari dalam rumahnya sendiri. Itu...

Mengapa Etnis Kurdi Bangkit Melawan Kekuasaan Ayatollah di Iran?

Bayangkan sebuah negara yang tampak kokoh dari luar, dengan aparat keamanan yang kuat dan pengaruh regional yang luas, tetapi justru menghadapi tantangan paling serius dari dalam rumahnya sendiri. Itulah situasi yang kini dihadapi Iran. Di tengah tekanan internasional dan ketegangan kawasan, perlawanan dari etnis Kurdi—warga negara Iran sendiri—menjadi persoalan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh pemerintahan para ayatollah di Teheran.

Mengapa ini penting bagi kita? Karena stabilitas Iran bukan sekadar urusan domestik. Negara ini adalah pemain kunci di Timur Tengah, dan gejolak internalnya berpotensi mengubah peta kekuatan kawasan, memengaruhi harga energi global, hingga memicu arus pengungsi ke negara-negara tetangga.

Siapa Etnis Kurdi di Iran?

Kurdi merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri. Populasi mereka tersebar di empat negara, yaitu Turki, Iran, Irak, dan Suriah. Di Iran, jumlah warga Kurdi diperkirakan mencapai 8 hingga 12 juta jiwa, atau sekitar 10 persen dari total populasi negara tersebut.

Mayoritas orang Kurdi Iran tinggal di wilayah barat dan barat laut, meliputi Provinsi Kurdistan, Kermanshah, Azerbaijan Barat, dan Ilam. Wilayah-wilayah ini berbatasan langsung dengan Irak dan Turki, sebuah posisi geografis yang membuat Teheran selalu waswas terhadap potensi gerakan separatis.

Ibarat warga satu kompleks yang merasa tidak pernah diajak musyawarah oleh pengurus, komunitas Kurdi selama puluhan tahun merasa suaranya tidak didengar dalam pengambilan keputusan nasional.

Akar Penolakan terhadap Pemerintahan Ayatollah

Ketegangan antara Kurdi dan pemerintah pusat Iran bukanlah cerita baru. Sejak Revolusi Islam 1979, tuntutan otonomi yang disuarakan kelompok Kurdi berbuah bentrokan berdarah dengan pasukan pemerintah. Pemerintahan teokratis pimpinan ayatollah memandang aspirasi otonomi tersebut sebagai ancaman terhadap keutuhan negara.

Titik didih di era modern terjadi pada September 2022, ketika Mahsa Amini, perempuan muda Kurdi yang nama aslinya Jina Amini, meninggal dunia setelah ditahan polisi moral karena dianggap melanggar aturan berpakaian. Kematiannya memicu gelombang demonstrasi nasional dengan slogan "Jin, Jiyan, Azadi" yang berarti Perempuan, Kehidupan, Kebebasan. Slogan itu sendiri berasal dari tradisi gerakan Kurdi.

Selain persoalan identitas, ada pula faktor ekonomi. Provinsi-provinsi yang dihuni warga Kurdi termasuk wilayah dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran tertinggi di Iran. Banyak warga Kurdi terpaksa bekerja sebagai kolbar, yaitu pemikul barang lintas perbatasan yang berisiko tinggi, demi menyambung hidup.

Kelompok Perlawanan dan Respons Keras Teheran

Perlawanan Kurdi terhadap pemerintahan ayatollah disuarakan oleh sejumlah organisasi. Di antaranya KDPI (Partai Demokrat Kurdistan Iran) yang berdiri sejak 1945, kemudian Komala, serta PJAK (Partai Kehidupan Bebas Kurdistan). Sebagian besar basis mereka kini berada di wilayah Kurdistan Irak, setelah ditekan habis-habisan di dalam negeri Iran.

Teheran menanggapi dengan keras. IRGC (Korps Garda Revolusi Islam), pasukan elite Iran, berulang kali melancarkan serangan rudal dan drone ke markas kelompok Kurdi di Irak utara, salah satunya pada September 2022 di tengah gelombang protes nasional. Pemerintah Iran juga menekan Baghdad untuk melucuti senjata kelompok-kelompok tersebut, upaya yang membuahkan kesepakatan keamanan pada 2023.

Di dalam negeri, aparat keamanan menerapkan pendekatan represif di kota-kota Kurdi seperti Sanandaj dan Mahabad, terutama setiap kali gelombang demonstrasi muncul. Lembaga pemantau hak asasi manusia mencatat wilayah Kurdi termasuk yang paling berat mengalami tindakan kekerasan oleh aparat.

Apa Artinya bagi Masa Depan Iran?

Perlawanan dari dalam negeri menempatkan pemerintahan ayatollah dalam posisi serbasulit, yakni menghadapi tekanan dari luar sekaligus mengamankan barisan sendiri. Para pengamat menilai, selama tuntutan dasar warga Kurdi seperti pengakuan identitas, kesetaraan ekonomi, dan hak politik tidak dipenuhi, bara perlawanan akan terus menyala.

Bagi kawasan, eskalasi konflik antara Teheran dan kelompok Kurdi berisiko menyeret Irak dan Turki, dua negara yang juga memiliki persoalan Kurdi masing-masing. Sementara bagi rakyat Iran secara umum, perjuangan Kurdi telah meninggalkan warisan besar, yaitu semangat perempuan, kehidupan, dan kebebasan yang kini menjadi simbol perlawanan lintas etnis di seluruh negeri.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari persenjataannya, tetapi juga dari kemampuannya membuat seluruh warganya merasa diakui. Di titik itulah ujian terberat pemerintahan ayatollah kini berada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User