KNPI Tenggarong — Nobar Film Menjadi Pemantik Aksi Lingkungan Pemuda
Suara proyektor berpadu dengan antusiasme puluhan pemuda yang memadati ruang serbaguna di Kecamatan Tenggarong. Malam itu bukan sekadar hiburan—layar lebar
Suara proyektor berpadu dengan antusiasme puluhan pemuda yang memadati ruang serbaguna di Kecamatan Tenggarong. Malam itu bukan sekadar hiburan—layar lebar yang menampilkan dokumentasi kerusakan lingkungan justru menjadi cermin bagi setiap pasang mata yang menonton. DPK KNPI Kecamatan Tenggarong memilih cara yang tak biasa untuk menyulut kesadaran: nonton bareng (nobar) film bertema lingkungan, yang dirancang bukan sebagai tontonan pasif, melainkan sebagai pemantik batin agar generasi muda tergerak menjaga alam sekitar.
Gerakan ini berangkat dari keresahan yang mengendap lama. Sungai-sungai di Kutai Kartanegara yang dulu menjadi urat nadi kehidupan kini banyak yang keruh, tergerus limbah rumah tangga dan aktivitas tambang. Hutan-hutan yang tersisa terus menyusut. Namun, kepedulian terhadap isu ekologis sering kali hanya bergema di ruang-ruang akademik atau kebijakan, jarang menyentuh gelombang pemuda yang justru menjadi pewaris bumi. Di sinilah KNPI Tenggarong mencoba merajut pendekatan kultural—memanfaatkan daya magis film untuk menyampaikan pesan yang lebih membekas.
Film sebagai Jembatan Menuju Kesadaran Kolektif
Pemilihan nobar sebagai medium bukan tanpa perhitungan. Film memiliki kekuatan naratif yang mampu menembus sekat-sekat kognitif; ia menyentuh emosi lebih dahulu sebelum logika menerima. Dalam acara itu, sebuah film dokumenter yang memotret dampak nyata eksploitasi alam di Kalimantan diputar, diikuti dengan diskusi interaktif yang difasilitasi oleh para aktivis lingkungan. Para peserta tidak sekadar menonton—mereka diajak berefleksi, menghubungkan adegan demi adegan dengan realitas yang mereka saksikan sehari-hari.“Kegiatan ini sengaja dirancang untuk menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Kami ingin pemuda Tenggarong tidak lagi melihat alam sebagai warisan, melainkan sebagai tanggung jawab personal yang harus dijaga setiap hari,” ujar Achmad Roziq Maulana, Ketua DPK KNPI Kecamatan Tenggarong.Pernyataan itu menggema di antara peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan pegiat komunitas. Bagi Roziq, panggilan akrabnya, langkah ini hanyalah awal dari bangunan gerakan yang lebih besar. Ia percaya bahwa ketika pemuda mulai merasa memiliki, aksi akan lahir secara organik.
Comments (0)