Jet Tempur dan Drone AS Terus Patroli di Selat Hormuz, Iran Naik Pitam
Terdepan.id, Teheran — Pemerintah Iran melontarkan protes keras atas manuver intensif pesawat tempur dan drone milik Amerika Serikat di atas perairan Selat Hormuz. Jalur maritim yang menjadi nadi
Terdepan.id, Teheran — Pemerintah Iran melontarkan protes keras atas manuver intensif pesawat tempur dan drone milik Amerika Serikat di atas perairan Selat Hormuz. Jalur maritim yang menjadi nadi perdagangan energi global ini kian memanas setelah Teheran mengecam kehadiran aset udara Washington secara terus-menerus, yang dinilai sebagai bentuk provokasi dan ancaman langsung terhadap kedaulatan negara.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id, militer Iran menyatakan patroli udara AS — baik jet tempur konvensional maupun pesawat nirawak (drone) pengintai dan tempur — telah melampaui batas kewajaran operasi militer internasional. Komando Pertahanan Udara Iran mencatat beberapa kali intersepsi dalam sepekan terakhir, termasuk manuver berbahaya yang nyaris memicu insiden di kawasan padat lintas kapal tanker minyak itu.
"Kami tidak akan tinggal diam. Setiap langkah yang mencederai kedaulatan Republik Islam Iran, sekecil apa pun, akan kami balas dengan respons cepat dan tegas," tegas seorang perwira tinggi Garda Revolusi Iran, kepada Terdepan.id, Jumat (3/7/2026).
Selat Hormuz, yang hanya selebar 21 mil laut di titik tersempitnya, merupakan satu-satunya akses keluar Teluk Persia menuju Samudra Hindia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi selat ini setiap hari. Iran kerap menggunakan posisi strategis tersebut sebagai tuas geopolitik, terutama saat tegangan dengan Washington meningkat. Sebaliknya, Amerika Serikat menganggap kehadiran armada dan pesawatnya di wilayah tersebut sebagai jaminan kebebasan navigasi.
Pekan ini, satuan udara Angkatan Laut AS dilaporkan mengerahkan drone pengintai MQ-9 Reaper dan jet tempur F/A-18 Super Hornet secara simultan di atas Selat Hormuz, disertai penerbangan pesawat pembom B-52 di dekat wilayah udara internasional yang diakui Iran. Langkah itu menambah daftar panjang operasi serupa sejak Washington memperkuat postur militernya di Timur Tengah awal tahun ini. Teheran menafsirkan gelar kekuatan itu sebagai upaya “mengganggu stabilitas kawasan” dan mengisolasi Iran dari jalur ekonomi.
Sikap keras Iran bukan tanpa preseden. Pada 2019, Garda Revolusi menembak jatuh drone pengintai AS yang dianggap memasuki wilayah udara mereka — insiden yang meningkatkan risiko konfrontasi terbuka. Kali ini, otoritas pertahanan udara Iran menyatakan telah mengunci target-target asing yang mendekati zona identifikasi pertahanan (ADIZ) mereka dan siap menindak setiap pelanggaran dengan prosedur eskalatif.
Di sisi lain, Washington membantah tuduhan provokasi. Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam keterangan tertulisnya menyebut seluruh penerbangan dilakukan di atas perairan internasional dan sesuai aturan keselamatan penerbangan sipil. Namun, sumber di Pentagon mengakui tengah meningkatkan pengawasan terhadap jalur suplai minyak karena aktivitas kapal-kapal Iran yang dicurigai membawa material militer ke kelompok sekutu di Yaman.
Pengamat Timur Tengah yang dihubungi Terdepan.id menilai kedua pihak tengah bermain di ambang jurang. “Krisis ini tidak hanya soal kedaulatan, tapi juga kontrol arus energi dunia. Siapa pun yang salah perhitungan, konsekuensinya akan menjalar ke pasar global,” kata analis tersebut. Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Iran dilaporkan telah memerintahkan peninjauan aturan tembak (rules of engagement) bagi pasukan yang berjaga di sekitar Selat Hormuz, mengindikasikan kesiapan tempur yang lebih tinggi dari biasanya.
Ketegangan terbaru ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi nuklir dan sanksi ekonomi yang masih mencengkeram Iran. Tanpa jalur dialog resmi yang efektif, selat sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu kembali menjadi pentas perang dingin paling berbahaya di planet ini.
Comments (0)