JAKARTA — Sebuah paradoks sosial diam-diam menggerogoti denyut keseharian kita. Di tengah
Dalam pengamatan Pasiak, diam yang dipilih oleh orang baik bukanlah ketiadaan respons, melainkan semacam strategi bertahan yang lahir dari benturan antara
Dalam pengamatan Pasiak, diam yang dipilih oleh orang baik bukanlah ketiadaan respons, melainkan semacam strategi bertahan yang lahir dari benturan antara niat tulus dan kalkulasi risiko yang berjalan tanpa sadar. Melalui pendekatan neurosains kognitif, ia menjelaskan bahwa arsitektur otak kita ternyata lebih menyukai harmoni sosial daripada kebenaran yang diucapkan lantang jika situasi dianggap mengancam ikatan personal.
Benteng Empati yang Terkepung
Orang dengan skala empati yang tinggi memiliki kepekaan mendalam terhadap emosi dan penderitaan sekitar. Namun, kepekaan yang sama persis pula yang membuat otak mereka bekerja ekstra saat hendak menyuarakan kebaikan dalam lingkungan yang berpotensi konfliktual. Pasiak menyebut ini sebagai “efek kelelahan moral”—sebuah kondisi di mana sistem otak yang bertanggung jawab atas regulasi sosial (terutama korteks prefrontal ventromedial dan anterior cingulate corteks) mengalami semacam overdrive sehingga pemiliknya memilih rute paling rendah friksi, yaitu diam.
“Diam yang dipilih oleh orang baik bukanlah tanda persetujuan. Otak mereka sedang melakukan perhitungan risiko. Ketika potensi stres sosial—seperti penolakan atau perdebatan—terlalu besar, sistem saraf otonom mengirim sinyal bahaya, dan diam menjadi jalan keluar yang tampak paling aman,”
Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari peran amigdala, struktur kecil berbentuk kacang almond yang berfungsi sebagai pusat alarm. Pada orang dengan kecenderungan prososial, amigdala tidak hanya mendeteksi ancaman bagi diri sendiri, tetapi juga menangkap distress yang dialami pihak lain. Ketika lingkungan terasa tidak suportif, sinyal dari amigdala justru menghambat output motorik untuk berujar atau bertindak—sebuah mekanisme purba yang memprioritaskan kelangsungan kelompok ketimbang ekspresi individu.
Mengapa Suara Itu Terkubur?
Dari kacamata psikologi perilaku, Pasiak menjabarkan sejumlah pemicu yang memperkuat budaya diam di kalangan mereka yang berniat baik:
- Ketakutan akan disrupsi relasi. Manusia adalah makhluk sosial yang dalam dirinya tertanam kebutuhan untuk diterima. Menyuarakan kebenaran yang tidak populer, meski bertujuan baik, berpotensi mengancam hubungan yang sudah susah payah dibangun.
- Learned helplessness yang terbentuk dari pengalaman. Ketika di masa lalu upaya untuk bersuara malah berbalas penolakan atau bahkan hukuman sosial, otak belajar bahwa diam adalah opsi yang lebih minim derita. Pola ini mengendap dalam sirkuit ganglia basal dan sulit diputus tanpa intervensi sadar.
- Efek pengamat (bystander effect) yang terenkripsi secara sosial. Di lingkungan modern yang serba terhubung namun longgar secara personal, semakin banyak orang sekitar justru semakin mengurangi rasa tanggung jawab pribadi. Otak berasumsi “orang lain yang akan bicara,” sehingga kebaikan yang seharusnya disuarakan layu sebelum berkembang.
- Luka psikis laten. Pengalaman trauma mikro—diremehkan, didiamkan balik, atau dicap naif—menumpuk dan membentuk filter persepsi. Orang baik kemudian memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena luka-luka itu menyalakan kembali setiap kali ia hendak membuka mulut.
Tubuh yang Merekam Luka Kolektif
Lebih jauh lagi, Taufiq Fredrik Pasiak menekankan bahwa diamnya orang baik merupakan cerminan dari dinamika kesehatan mental publik yang belum usai. Krisis bertubi-tubi—pandemi, ketidakpastian ekonomi, polarisasi—membuat kapasitas emosional banyak orang terkuras. Empati yang seharusnya menjadi jembatan dialog berubah jadi beban tambahan. Daripada berdebat tanpa titik temu, kaum berhati lembut memilih menyimpan energi untuk lingkaran kecil yang mereka cintai. Diam di sini menjelma menjadi mekanisme konservasi diri.
“Kita kerap menyalahkan orang yang diam karena dianggap masa bodoh. Padahal dari sisi neurosains, itu adalah perlindungan alam bawah sadar terhadap jaringan sosial yang mulai rapuh. Masalahnya, diam yang diteruskan justru membuat kebaikan kehilangan muka publiknya dan narasi publik digerakkan oleh suara-suara yang paling keras, belum tentu yang paling lurus,”Meretas Budaya Diam dengan Kesadaran Reflektif
Mengurai benang kusut ini tidak cukup dengan sekadar menyuruh orang baik untuk “berani bicara.” Yang dibutuhkan, menurut Pasiak, adalah penciptaan lingkungan yang secara psikologis aman (psychological safety)—sebuah ekosistem di mana suara bernada kebaikan dihargai, bukan dihakimi. Dari sisi individual, latihan mengaktivasi kembali fungsi lobus frontal secara sadar (mindfulness) dapat meredam alarm amigdala yang berlebihan, sehingga niat baik tidak terus-menerus kandas di kerongkongan.
Negara-negara Nordik, misalnya, secara budaya menanamkan norma bahwa diam justru dianggap sebagai bentuk partisipasi bermakna, bukan sekadar pasivitas. Namun dalam konteks Indonesia yang guyub dan berbasis musyawarah, diamnya orang baik lebih sering diartikan sebagai pengkhianatan terhadap komunalitas. Padahal, jika dipahami secara lebih jernih, diam bisa menjadi embrio dialog—asalkan direspons dengan ketulusan dan bukan dengan penghakiman.
Fenomena ini mengajak kita pada sebuah self-check kolektif: sudahkah kita menyediakan wadah yang cukup aman agar kebaikan tidak terpaksa bungkam? Atau justru kita, tanpa sadar, turut melanggengkan tekanan yang membuat orang pilihan untuk baik hati justru mengecilkan suaranya sendiri?
[SOCIAL_TWEET]: Mengapa orang baik sering memilih diam? Ilmuwan otak dan perilaku Taufiq Fredrik Pasiak membedah alasan ilmiah di balik fenomena paradoks ini. Ternyata, otak kita lebih suka harmoni sosial daripada kebenaran yang diucap lantang. #Neurosains #PsikologiSosial #Kebaikan [SOCIAL_TG]: Apa yang bikin orang baik memilih diam? Ilmuwan otak Taufiq Fredrik Pasiak jelaskan bahwa otak kita sejak purba lebih memprioritaskan keamanan sosial daripada ekspresi moral. Diam adalah mekanisme lindung diri, bukan persetujuan. Baca penjelasan neurosains dan sosialnya yang lengkap. ⬇️
Comments (0)