Teknologi

Internet Indonesia Masih Tertinggal, Peringkat Kecepatan di Asia Tenggara Memprihatinkan

Bayangkan Anda ingin mengunduh film beresolusi tinggi selama perjalanan pulang. Di Singapura, itu urusan beberapa menit. Di Indonesia, Anda mungkin masih menunggu hingga perjalanan selesai. Itulah gam...

Internet Indonesia Masih Tertinggal, Peringkat Kecepatan di Asia Tenggara Memprihatinkan

Bayangkan Anda ingin mengunduh film beresolusi tinggi selama perjalanan pulang. Di Singapura, itu urusan beberapa menit. Di Indonesia, Anda mungkin masih menunggu hingga perjalanan selesai. Itulah gambaran nyata dari laporan Speedtest Global Index terbaru yang kembali menempatkan Indonesia di posisi yang kurang menggembirakan dalam peta kecepatan internet kawasan Asia Tenggara.

Dalam laporan edisi Agustus 2026, kecepatan internet seluler maupun broadband tetap (fixed broadband) Indonesia menempati urutan kedua dari bawah di antara negara-negara ASEAN. Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kecepatan internet adalah infrastruktur dasar bagi ekonomi digital, layanan publik, hingga hiburan sehari-hari.

Seberapa Cepat Sebenarnya Internet Kita?

Berdasarkan data Speedtest Global Index, kecepatan unduh (download) internet seluler Indonesia berada di kisaran 25-30 Mbps, sementara fixed broadband berkisar 30-35 Mbps. Angka ini terlihat cukup untuk streaming video, tetapi jauh tertinggal dibandingkan tetangga seperti Singapura yang mencatat kecepatan seluler di atas 100 Mbps dan fixed broadband mendekati 200 Mbps.

Ibarat jalan raya, internet Indonesia masih berupa jalan dua lajur yang padat, sementara Singapura dan Malaysia sudah memiliki tol berpuluh lajur. Data yang lewat tidak hilang, tetapi merayap.

Negara Mobile (Mbps) Fixed Broadband (Mbps)
Singapura 105,2 198,7
Malaysia 48,9 95,4
Thailand 42,1 88,3
Vietnam 40,5 75,6
Indonesia 27,8 33,2

Mengapa Indonesia Tertinggal?

Ada beberapa faktor yang membuat kecepatan internet Indonesia sulit mengejar negara tetangga. Pertama, kondisi geografis. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Membangun infrastruktur serat optik (fiber optic) ke seluruh wilayah membutuhkan investasi besar dan waktu panjang.

Kedua, kesenjangan digital antara perkotaan dan pedesaan. Di Jakarta, Surabaya, atau Bandung, kecepatan internet bisa jauh di atas rata-rata nasional. Namun di daerah terpencil seperti Papua, Maluku, atau Nusa Tenggara, sinyal 4G (generasi keempat) pun masih sering hilang timbul.

Ketiga, alokasi spektrum frekuensi radio. Operator seluler di Indonesia masih terbatas dalam mengakses pita frekuensi yang lebar. Semakin lebar spektrum yang dimiliki, semakin cepat dan stabil koneksi yang bisa diberikan. Ibarat radio, semakin banyak channel yang tersedia, semakin lancar siaran tanpa gangguan.

"Tanpa percepatan pembangunan infrastruktur dan kebijakan spektrum yang mendukung, Indonesia akan terus tertinggal dalam perlombaan konektivitas global," ujar seorang pengamat telekomunikasi nasional.

Dampaknya bagi Ekonomi Digital

Kecepatan internet bukan hanya soal kenyamanan menonton video. Ini berdampak langsung pada ekosistem ekonomi digital. UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang ingin berjualan online membutuhkan koneksi stabil. Startup teknologi yang mengembangkan aplikasi berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) memerlukan bandwidth besar untuk mengirim data ke server.

Di sektor pendidikan, pembelajaran jarak jauh masih terkendala di banyak daerah. Di sektor kesehatan, telemedicine atau layanan konsultasi dokter jarak jauh menjadi sulit dilakukan jika koneksi tersendat.

Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan berbagai program, termasuk pembangunan Palapa Ring dan proyek BTS (Base Transceiver Station) di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Namun implementasi di lapangan masih menghadapi kendala biaya operasional dan pasokan listrik.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Untuk mengejar ketertinggalan, diperlukan pendekatan menyeluruh. Pertama, percepatan pembangunan infrastruktur serat optik hingga ke pelosok. Kedua, lelang spektrum frekuensi yang lebih adil dan transparan. Ketiga, insentif bagi operator untuk berinvestasi di daerah non-komersial.

Selain itu, teknologi baru seperti 5G (generasi kelima) dan satelit orbit rendah seperti Starlink bisa menjadi solusi jangka pendek untuk daerah terpencil. Namun, tanpa ekosistem yang mendukung, teknologi canggih hanya akan menjadi wacana.

Pada akhirnya, kecepatan internet adalah cermin dari keseriusan sebuah negara membangun fondasi digitalnya. Selama Indonesia masih berada di posisi kedua terbawah di Asia Tenggara, mimpi menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan akan tetap menjadi mimpi. Waktunya bukan hanya berbicara tentang inovasi, tetapi memastikan koneksi sampai ke pelosok negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User