Bayangkan rumah tempat Anda dibesarkan, sawah yang menghidupi keluarga, dan kuil tempat leluhur beribadah selama ratusan tahun harus rela ditenggelamkan demi sebuah proyek yang katanya akan menyelamatkan jutaan orang dari kekeringan. Itulah dilema pahit yang kini dihadapi ratusan warga suku di Ajaygarh, Madhya Pradesh, India. Mereka menolak keras proyek Ken Betwa, tahap perdana dari ambisi besar antar-negara bagian untuk menghubungkan sungai-sungai di India dengan nilai mencapai US$87 miliar atau sekitar Rp1.400 triliun.
Proyek ini digadang-gadang sebagai solusi teknologi untuk memindahkan kelebihan air dari satu daerah ke daerah lain yang kering kerontang. Ibarat seperti sistem pipa raksasa yang menghubungkan dua bak air di pekarangan berbeda, air dari sungai yang kebanjiran dialirkan ke sungai yang kekeringan. Secara teori, algoritma distribusi air ini bisa meningkatkan efisiensi irigasi dan menyelamatkan panen petani di wilayah yang selalu gagal panen. Namun, implementasi di lapangan jauh lebih rumit dari sekadar hitungan matematis.
Ancaman Tenggelamnya Warisan Budaya
Yang paling mengkhawatirkan, proyek ini berpotensi merendam desa-desa adat dan situs bersejarah yang tidak ternilai. Kuil-kuil kuno yang berdiri sejak berabad lalu, tempat masyarakat suku menjalankan ritual leluhur, terancam hilang di bawah genangan air. Bagi warga, ini bukan sekadar kehilangan tempat tinggal, melainkan penghapusan identitas dan memori kolektif sebuah ekosistem sosial.
Data dari kelompok pemerhati lingkungan menyebutkan bahwa proyek Ken Betwa akan menggenangi kawasan hutan lindung dan suaka satwa. Spesies langka seperti harimau dan gajah yang hidup di koridor ekologis tersebut diprediksi kehilangan habitat. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi besar terhadap aliran sungai seringkali memicu ketidakseimbangan ekosistem yang sulit dipulihkan, bahkan dengan teknologi modern sekalipun.
"Kami tidak menolak pembangunan, tapi jangan sampai pembangunan menghapus hak hidup kami dan sejarah yang kami jaga turun-temurun," ujar seorang perwakilan warga setempat.
Ketegangan antara Inovasi dan Keadilan Sosial
Kasus ini menyoroti disrupsi besar dalam cara India mengelola sumber daya airnya. Pemerintah berargumen bahwa tanpa intervensi besar, kekeringan akan terus mematikan pertanian dan memicu migrasi massal ke kota-kota. Pendekatan berbasis data dan pemodelan hidrologi mereka klaim mampu memprediksi curah hujan, debit sungai, serta kebutuhan air tiap wilayah secara presisi. Namun, teknologi canggih tidak otomatis menyelesaikan persoalan keadilan sosial.
Pertanyaannya, siapa yang mendapat akses air dan siapa yang harus mengorbankan rumahnya? Dalam banyak proyek infrastruktur skala raksasa, kelompok masyarakat adat kerap menjadi pihak paling rentan. Mereka bukan hanya kehilangan tanah, tetapi juga akses terhadap mata pencaharian berbasis hutan dan sungai yang telah menjadi bagian dari sistem kehidupan mereka.
| Aspek | Klaim Pemerintah | Kenyataan Lapangan |
|---|---|---|
| Manfaat | Irigasi 1,2 juta hektare lahan | Warga adat kehilangan tanah |
| Energi | Suplai listrik baru | Hutan dan satwa terancam |
| Biaya | US$87 miliar untuk jaringan nasional | Ratusan desa harus direlokasi |
Pelajaran bagi Negara Berkembang
Proyek ini seharusnya menjadi cermin bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, bahwa teknologi tidak bisa dipisahkan dari konteks manusia. Penghubungan sungai memang terdengar sebagai inovasi besar, namun tanpa pelibatan masyarakat sejak perencanaan, ia berubah menjadi sumber konflik berkepanjangan.
Para ahli menekankan bahwa pendekatan deep tech dalam pengelolaan air harus dibarengi dengan prinsip tata kelola yang adil. Algoritma canggih bisa menghitung volume air, tapi tidak bisa menghitung nilai spiritual sebuah kuil atau harga sebuah kenangan. Diperlukan platform dialog yang setara antara pemerintah, ilmuwan, dan warga adat agar solusi yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan.
Hingga kini, protes warga di Ajaygarh masih bergema. Mereka menyadari bahwa pembangunan tidak bisa dihentikan, tetapi mereka menuntut agar suara mereka didengar sebelum air mulai naik dan menelan desa mereka. Nasib proyek ini akan menjadi penanda, apakah India memilih jalan inovasi yang inklusif, atau memilih efisiensi yang mengorbankan yang paling lemah.
Comments (0)