Ada yang menarik dari sebuah kampus ternama di Belanda. Sebuah dokumen bersejarah, salinan ijazah milik Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, kini dipajang sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kecerdasannya. Bagi banyak orang, ini mungkin hanya sekadar pameran arsip. Namun bagi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa tokoh yang turut memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 itu menempuh pendidikan di salah satu pusat keilmuan paling berpengaruh di Eropa.
Mengapa ini penting? Karena Hatta bukan hanya politikus. Ia adalah ekonom, pemikir, dan intelektual yang membangun fondasi negara dengan gagasan-gagasan yang lahir dari ruang kuliah di Belanda. Ijazah itu menjadi bukti otentik bahwa perjalanan pendidikannya di Negeri Kincir Angin bukan sekadar cerita lisan, melainkan tercatat resmi dalam dokumen akademik.
Dari Sekolah Rakyat hingga Rotterdam
Pertanyaan yang sering muncul di ruang kelas sejarah adalah: sebenarnya Hatta bersekolah di mana? Perjalanan pendidikannya dimulai dari Sekolah Rakyat (setara sekolah dasar) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah itu, ia melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar berbahasa Belanda yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan sebagian kecil pribumi terpilih. Dari sana, ia masuk ke Hogere Burger School (HBS) di Batavia, sekolah menengah bergengsi yang menjadi pintu bagi pendidikan tinggi di Eropa.
Ijazah yang dipamerkan di Belanda itu berkaitan dengan studinya di Handels Hogeschool, kini dikenal sebagai Erasmus University Rotterdam, sebuah institusi yang fokus pada ilmu ekonomi dan bisnis. Di sana, Hatta meraih gelar sarjana ekonomi pada 1932. Prestasi ini menjadikannya salah satu intelektual Indonesia paling awal yang mengantongi gelar akademik dari universitas Eropa di bidang ekonomi.
"Hatta adalah contoh nyata bahwa pendidikan adalah alat pembebasan. Yang ia pelajari di Belanda bukan hanya teori ekonomi, tetapi cara berpikir kritis yang kemudian ia tanamkan dalam dasar negara."
Selama di Belanda, Hatta aktif dalam organisasi pergerakan. Ia memimpin Perhimpunan Indonesia (PI), organisasi mahasiswa yang menjadi wadah diskusi politik dan kebangsaan. Dari sana, ia membangun jaringan dengan tokoh-tokoh internasional dan memperkenalkan gagasan kemerdekaan Indonesia ke panggung dunia.
Mengapa Ijazah Itu Layak Dipamerkan?
Pameran ijazah ini bukan tanpa alasan. Kampus tersebut ingin menegaskan bahwa alumni mereka bukan hanya orang terkenal, tetapi figur yang memberi dampak besar pada sejarah dunia. Hatta adalah simbol bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi alat perjuangan. Ia menulis banyak karya, termasuk buku "Indonesia Merdeka" dan "Ekonomi Terpimpin", yang hingga kini masih menjadi bahan kajian di berbagai perguruan tinggi.
Data menunjukkan bahwa Erasmus University Rotterdam kini memiliki lebih dari 30.000 mahasiswa dari berbagai negara, dengan program-program unggulan di bidang ekonomi, manajemen, dan hukum. Nama Hatta tercatat sebagai salah satu alumni paling berpengaruh dalam sejarah kampus tersebut. Pihak kampus pun kerap menyebutnya dalam berbagai publikasi akademik dan acara resmi.
Bagi generasi muda Indonesia, kisah ini adalah cermin. Hatta menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan zaman itu. Ia harus berlayar berbulan-bulan, beradaptasi dengan bahasa dan budaya asing, serta menghadapi diskriminasi. Namun, ia tidak menyerah. Ia justru membawa pulang ilmu dan mengabdikannya untuk negeri.
Pelajaran bagi Pendidikan Indonesia Hari Ini
Pertanyaan "dari SMA mana Hatta lulus" sering muncul di media sosial. Jawabannya adalah HBS di Batavia, yang setara dengan sekolah menengah atas pada masa kolonial. Namun, yang lebih penting bukan nama sekolahnya, melainkan bagaimana ia memanfaatkan setiap kesempatan belajar. Hatta menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi soal bagaimana ilmu itu digunakan.
Di era digital saat ini, akses pendidikan jauh lebih mudah. Berbagai platform pembelajaran daring, beasiswa, dan pertukaran pelajar tersedia. Namun, tantangan utamanya tetap sama: kemauan untuk belajar dan keberanian untuk berpikir kritis. Jika Hatta bisa menempuh pendidikan di Eropa pada 1920-an dengan kapal laut dan surat manual, generasi sekarang seharusnya bisa lebih jauh lagi.
Pameran ijazah di Belanda itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah panggilan bagi Indonesia untuk terus membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas. Sebab, investasi terbaik sebuah bangsa adalah pada manusianya. Hatta sudah membuktikan itu.
Comments (0)