IHSG Anjlok Nyaris 8% di Juni, Modal Asing Cabut Rp 19,63 T

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif yang signifikan sepanjang perdagangan di bulan Juni 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu terkontraksi nyaris mencapai 8 persen,

Jul 08, 2026 - 05:58
0 0
IHSG Anjlok Nyaris 8% di Juni, Modal Asing Cabut Rp 19,63 T

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif yang signifikan sepanjang perdagangan di bulan Juni 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu terkontraksi nyaris mencapai 8 persen, seiring dengan masifnya aksi jual oleh investor asing. Berdasarkan data yang dihimpun media kami, modal asing tercatat keluar atau net sell dari pasar domestik senilai Rp 19,63 triliun selama periode tersebut. Pelemahan ini menunjukkan bahwa sentimen risk-off masih mendominasi perilaku pelaku pasar di tengah derasnya arus ketidakpastian yang melanda bursa-bursa global.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kondisi pasar saat ini sebagai bagian dari fase konsolidasi yang wajar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa dinamika pergerakan harga saham masih sangat dipengaruhi oleh sentimen internasional. Ia menekankan bahwa pasar dalam negeri tidak berdiri sendiri, melainkan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan kondisi makroekonomi dunia dan kebijakan yang dikeluarkan oleh negara-negara maju.

"Pasar saham domestik pada Juni 2026, masih berada pada fase konsolidasi, hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global persepsi investor atas kondisi dan kebijakan domestik, serta adanya penyesuaian atau rebalancing portofolio investor," ungkap Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK secara virtual, Selasa (7/7/2026).

Menurut Hasan, tekanan yang muncul di lantai bursa tidak hanya bersumber dari luar negeri, tetapi juga dipicu oleh persepsi investor terhadap berbagai kebijakan dan kondisi yang berkembang di dalam negeri. Selain itu, aktivitas rebalancing atau penyesuaian komposisi portofolio oleh para investor institusional turut memberikan kontribusi terhadap meningkatnya volatilitas. Langkah penyesuaian ini umumnya dilakukan untuk mengelola risiko di tengah fluktuasi pasar yang cukup tinggi.

OJK sendiri berkomitmen untuk terus mengawal stabilitas pasar modal agar tetap berfungsi optimal sebagai salah satu pilar pendukung perekonomian nasional. Meski demikian, pemulihan kepercayaan investor diyakini memerlukan sinergi dari berbagai pihak, termasuk implementasi kebijakan domestik yang konsisten dan responsif. Dengan dukungan tersebut, diharapkan pasar modal Indonesia mampu bangkit dari fase konsolidasi dan kembali menunjukkan tren positif di tengah tantangan global yang berkepanjangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Bisnis. Editor isu korporasi, M&A, dan sektor riil.

Comments (0)

User