Harga Gas Industri Mahal, Buruh Sebut Ancaman PHK Menghantui
Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyampaikan peringatan serius terkait dampak lonjakan harga gas industri terhadap nasib puluhan ribu buruh. Organisasi buruh ini mempe
Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyampaikan peringatan serius terkait dampak lonjakan harga gas industri terhadap nasib puluhan ribu buruh. Organisasi buruh ini memperkirakan sekitar 50 ribu pekerja di berbagai sektor kini berada di bawah bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK). Peringatan ini mencuat seiring dengan semakin beratnya beban biaya operasional yang ditanggung oleh dunia usaha akibat tingginya harga gas.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea dalam sebuah konferensi pers di Jakarta. Ia baru saja menggelar pertemuan maraton selama kurang lebih tiga jam bersama perwakilan dari 15 perusahaan serta 15 Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan (PUK SP KEP) yang bernaung di bawah KSPSI. Dalam forum tersebut, Andi Gani menerima banyak laporan dan aspirasi yang menggambarkan situasi genting di lapangan.
Dunia Usaha Terbebani
Menurut Andi Gani, mahalnya harga gas untuk kebutuhan industri telah menjadi batu sandungan besar bagi keberlangsungan operasional perusahaan. Biaya energi yang membengkak ini secara langsung menggerus margin keuntungan, memaksa manajemen perusahaan untuk mengambil langkah efisiensi yang salah satunya dapat berujung pada rasionalisasi karyawan. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi berarti dari pemerintah, skenario terburuk berupa PHK massal dinilai tak akan terelakkan.
Lebih lanjut, Andi Gani membeberkan contoh konkret dampak kebijakan harga gas ini. Ia mengungkapkan bahwa salah satu perusahaan keramik berskala besar yang berlokasi di Bekasi telah mengisyaratkan rencana untuk melakukan PHK terhadap ratusan pekerjanya. Signal pengurangan tenaga kerja ini menjadi bukti nyata bahwa tekanan harga gas sudah mencapai titik kritis yang mengancam ketahanan industri padat karya.
"Kami mendesak pemerintah untuk segera turun tangan dan mengambil langkah konkret. Jika harga gas industri tidak segera disesuaikan pada level yang wajar, kami khawatir angka 50 ribu buruh yang terancam PHK ini akan menjadi kenyataan pahit di depan mata," tegas Andi Gani.
KSPSI menilai bahwa pemerintah harus menemukan formula kebijakan yang mampu menyeimbangkan antara kebutuhan penerimaan negara dan keberlanjutan iklim usaha. Harga gas yang tidak kompetitif dinilai kontraproduktif di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi dan ancaman resesi global. Pihak serikat pekerja berkomitmen untuk terus mengawal isu ini dan membuka ruang dialog dengan seluruh pemangku kepentingan demi menyelamatkan puluhan ribu keluarga buruh yang bergantung pada sektor industri. Kondisi ini, menurut laporan yang diterima media kami, terus menghantui para pekerja di berbagai kawasan industri utama. Tim Terdepan.id akan terus memantau perkembangan negosiasi antara pelaku industri dan otoritas terkait mengenai harga gas ini.
Comments (0)