Ahmad Luthfi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Tengah
Ahmad Luthfi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Tengah
Profil Singkat: Dari Panggung Hiburan ke Arsitektur Ekonomi Daerah
Ahmad Luthfi dilantik sebagai Gubernur Jawa Tengah periode 2025–2030 setelah memenangi Pilkada Serentak 2024. Meski berlatar belakang non-birokrat—sebelumnya dikenal luas sebagai pelawak dan pembawa acara—langkahnya di pemerintahan mengejutkan banyak pihak. Sejak hari pertama menjabat, Luthfi membangun citra sebagai pemimpin yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, efisiensi birokrasi, dan daya saing investasi.
Pendekatannya yang komunikatif dan populis dipadukan dengan tim teknis berlatar teknokrat dan pengusaha. Latar belakang tersebut justru menjadi modal sosial untuk menjembatani kepentingan dunia usaha dengan birokrasi yang selama ini dianggap lamban.
Visi Ekonomi: Investasi sebagai Motor, Birokrasi sebagai Penopang
Visi ekonomi Luthfi tertuang dalam misi "Jawa Tengah Maju, Mandiri, dan Berdaya Saing." Dokumen RPJMD 2025–2030 menempatkan investasi sebagai penggerak utama, ditopang kemudahan perizinan dan insentif fiskal daerah. Dalam enam bulan pertama, ia mereformasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dengan digitalisasi menyeluruh. Seluruh izin usaha kini terintegrasi melalui sistem Online Single Submission (OSS) tanpa perlu rekomendasi manual berjenjang.
"Kami tidak ingin investor disuguhi keramahan semu lalu dicekik berkas berbulan-bulan. Perizinan harus seperti swalayan: ambil sendiri, bayar, selesai," ujar Luthfi dalam forum bisnis di Semarang, Oktober 2025.
Kebijakan ini langsung berbuah hasil. Realisasi investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai Rp89,4 triliun, melampaui target Rp83 triliun dan melonjak 24% dibandingkan tahun sebelumnya. Penanaman modal asing (PMA) mendominasi dengan kontribusi 61%, terutama dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan di sektor manufaktur dan energi terbarukan.
Kinerja APBD dan Prioritas Infrastruktur
APBD Jawa Tengah 2026 disahkan sebesar Rp28,7 triliun, dengan porsi belanja modal naik menjadi 22% atau sekitar Rp6,3 triliun—tertinggi dalam satu dekade. Sebagian besar diarahkan untuk infrastruktur konektivitas dan kawasan industri.
Proyek strategis yang menjadi andalan:
- Penyelesaian Tol Semarang–Demak Seksi 2 yang rampung Maret 2026, memangkas waktu tempuh ke kawasan industri sekitar 40 menit
- Perluasan Pelabuhan Tanjung Emas tahap pertama dengan tambahan dermaga peti kemas berkapasitas 1,5 juta TEUs per tahun
- Dukungan penuh untuk pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang sudah menarik komitmen investasi Rp14 triliun dari 23 tenant industri
- Reaktivasi jalur kereta api Semarang–Kendal untuk angkutan logistik, bekerja sama dengan KAI Logistik
Seluruh proyek ini dibiayai dengan skema kolaboratif: APBD, APBN, serta skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang transparan.
Iklim Usaha dan Daya Saing Daerah
Di bawah kepemimpinan Luthfi, peringkat kemudahan berusaha Jawa Tengah meningkat signifikan. Dalam survei yang dirilis Bank Dunia dan Bappenas pada awal 2026, provinsi ini menempati posisi ketiga nasional dalam indikator starting a business dan dealing with construction permits. Waktu pendirian PT dipangkas menjadi dua hari kerja, dan IMB kini terbit maksimal 17 hari untuk bangunan non-khusus.
Program unggulan lain adalah "Kredit Jateng Makmur" yang menyasar UMKM dan wirausaha baru. Bunga kredit mikro diturunkan menjadi 3% per tahun melalui subsidi APBD, dengan realisasi penyaluran Rp2,1 triliun sepanjang 2025. Sektor pariwisata juga mendapat perhatian melalui insentif pajak hotel dan restoran serta promosi Borobudur-Solo-Semarang sebagai paket wisata terpadu.
Tantangan dan Harapan: Menjaga Momentum di Era Ketidakpastian
Meski sejumlah indikator positif, Luthfi belum sepenuhnya lepas dari tantangan struktural. Ketimpangan antara koridor utara (Kendal
Comments (0)