Fenomena Aphelion Dikaitkan dengan Cuaca Dingin, Ilmuwan Tegaskan Hoaks
Sejumlah unggahan di media sosial kembali memviralkan klaim bahwa fenomena astronomi bernama Aphelion menyebabkan cuaca Bumi menjadi lebih dingin dan memic
Sejumlah unggahan di media sosial kembali memviralkan klaim bahwa fenomena astronomi bernama Aphelion menyebabkan cuaca Bumi menjadi lebih dingin dan memicu gejala meriang pada tubuh manusia. Klaim ini beredar luas melalui pesan berantai WhatsApp dan unggahan Facebook yang menyertakan tangkapan layar berisi narasi menakut-nakuti. Terdepan melakukan penelusuran mendalam untuk memisahkan fakta dari fiksi, merujuk langsung pada penjelasan lembaga antariksa dan pakar iklim.
Awal Mula Viral: Pesan Berantai yang Menyesatkan
Klaim mengenai "Aphelion menyebabkan meriang" mulai menyebar secara masif sejak pertengahan Juni 2025. Narasi yang beredar menyatakan bahwa Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari sehingga suhu global turun drastis, dan masyarakat diminta waspada terhadap gejala "masuk angin berat" yang tiba-tiba. Padahal, secara kronologis, hubungan antara Aphelion dan suhu Bumi tidaklah bersifat sebab-akibat langsung seperti yang digambarkan.
- 10 Juni 2025: Sebuah akun Facebook mengunggah tangkapan layar berisi teks panjang yang mengklaim "Jarak Bumi-Matahari mencapai 152 juta km, cuaca jadi lebih dingin, hati-hati meriang massal." Unggahan ini mendapat lebih dari 5.000 kali dibagikan dalam tiga hari.
- 12 Juni 2025: Pesan yang sama menyebar melalui grup-grup WhatsApp keluarga dan komunitas, sering kali diawali dengan kalimat "Info dari dokter..." atau "Teman saya yang kerja di BMKG bilang..." tanpa menyertakan sumber resmi.
- 14 Juni 2025: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Instagram resminya mengunggah klarifikasi bahwa tidak ada hubungan langsung antara fenomena Aphelion dan kondisi kesehatan manusia.
- 14 Juni 2025: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), kini bagian dari BRIN, menerbitkan artikel di situs resminya yang menjelaskan secara detail mekanisme Aphelion dan membantah klaim penurunan suhu ekstrem.
Membedah Sains: Apa Itu Fenomena Aphelion?
Aphelion adalah titik dalam orbit elips Bumi ketika planet kita berada pada jarak terjauh dari Matahari. Pada tahun 2025, momen Aphelion terjadi pada 3 Juli pukul 20.06 WIB dengan jarak sekitar 152.093.251 kilometer. Sebagai perbandingan, pada titik terdekatnya (Perihelion) yang terjadi setiap Januari, jarak Bumi-Matahari sekitar 147 juta kilometer.
Penting untuk dipahami: perbedaan jarak sebesar sekitar 5 juta kilometer ini hanya sekitar 3,3% dari total jarak rata-rata. Efeknya terhadap jumlah radiasi Matahari yang diterima Bumi sangat kecil—hanya sekitar 6,5% lebih sedikit dibanding saat Perihelion—dan tidak cukup signifikan untuk menyebabkan perubahan suhu yang terasa langsung oleh manusia dalam hitungan hari.
Mengapa Cuaca Dingin Terjadi di Indonesia?
Indonesia memang kerap mengalami fenomena suhu dingin pada pertengahan tahun, namun penyebabnya sama sekali bukan Aphelion. Penyebab sebenarnya adalah:
Pertama, Monsun Australia. Angin dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin bertiup membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia selatan ekuator. Inilah yang menyebabkan suhu pagi hari di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara bisa turun hingga 18-20 derajat Celsius.
Kedua, tutupan awan minim. Pada musim kemarau, langit cenderung cerah tanpa awan di malam hari. Tanpa "selimut" awan, panas yang dilepaskan permukaan Bumi langsung terlepas ke atmosfer atas, menyebabkan suhu permukaan turun drastis menjelang pagi—fenomena yang dikenal sebagai pendinginan radiatif.
Ketiga, posisi semu Matahari. Pada Juni-Juli, Matahari berada di belahan Bumi utara, membuat belahan selatan menerima sinar Matahari dengan sudut lebih miring dan durasi siang lebih pendek. Ini adalah efek musiman yang normal terjadi setiap tahun.
Fenomena Meriang: Virus, Bukan Astronomi
Klaim bahwa Aphelion menyebabkan "meriang massal" tidak memiliki dasar ilmiah apa pun. Gejala meriang, demam, dan masuk angin disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, bukan oleh perubahan jarak Bumi-Matahari. Beberapa virus seperti rhinovirus dan influenza memang lebih mudah menyebar pada kondisi udara dingin dan kering, tetapi ini terkait dengan perilaku virus dan respons imun manusia, bukan pengaruh astronomi langsung.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI juga tidak pernah mengeluarkan peringatan kesehatan terkait fenomena Aphelion. Jika ada peningkatan kasus ISPA atau flu pada musim kemarau, penyebabnya adalah perubahan kualitas udara, kelembapan rendah, dan mobilitas virus musiman—bukan gravitasi atau radiasi Matahari.
Hoaks Musiman yang Terus Berulang
Menariknya, klaim serupa muncul hampir setiap tahun sejak 2018 dengan narasi yang hampir identik. Polanya selalu sama: mencantumkan istilah astronomi yang terdengar ilmiah ("Aphelion," "Fenomena Equinox," "Badai Matahari") lalu mengaitkannya dengan dampak kesehatan yang menakutkan. Ini adalah contoh klasik misinformasi berbasis sains: menggunakan istilah teknis yang benar tetapi dengan interpretasi yang sepenuhnya keliru.
Dr. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN yang telah lama memantau hoaks astronomi di Indonesia, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa masyarakat perlu mengembangkan literasi sains dasar. "Aphelion adalah fenomena tahunan biasa. Suhu Bumi ditentukan oleh banyak faktor: musim, tutupan awan, kelembapan, angin—bukan oleh selisih jarak 5 juta kilometer dalam orbit elips," jelasnya dalam wawancara dengan media nasional.
Dampak Nyata: Kecemasan Publik yang Tidak Perlu
Meskipun tidak berdampak secara fisik, hoaks semacam ini memiliki konsekuensi psikologis dan sosial yang nyata. Beberapa puskesmas di daerah melaporkan peningkatan kunjungan warga yang mengeluh "meriang karena Aphelion" dan meminta penanganan khusus. Dana dan waktu tenaga kesehatan terbuang untuk menangani kecemasan yang dipicu misinformasi, alih-alih digunakan untuk pasien dengan kondisi medis yang sesungguhnya.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Tim AIS (Anti Informasi Sesat) telah memasukkan klaim Aphelion-meriang ini ke dalam kategori hoaks kesehatan-astronomi dan meminta platform media sosial untuk menurunkan konten serupa yang berpotensi menimbulkan keresahan.
Kesimpulan: Jadilah Pembaca yang Kritis
Dari seluruh penelusuran yang dilakukan Terdepan, tidak ditemukan satu pun bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara fenomena Aphelion dengan penurunan suhu drastis atau gejala meriang pada manusia. Suhu dingin yang terjadi di Indonesia pada bulan Juni-Juli sepenuhnya disebabkan oleh siklus musiman normal yang sudah dipahami dengan baik oleh ilmuwan iklim.
Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi informasi yang beredar, terutama yang mengaitkan istilah ilmiah dengan dampak kesehatan. Sumber terpercaya seperti situs resmi BMKG, BRIN, Kemenkes, dan kanal fact-checking dapat diakses kapan saja untuk memastikan kebenaran sebuah klaim.
[TAGS]: Aphelion, hoaks astronomi, cuaca dingin, meriang, BMKG [SOCIAL_TWEET]: Jangan tertipu! Klaim bahwa fenomena Aphelion bikin cuaca dingin dan meriang adalah hoaks musiman. Sains jelaskan: yang bikin suhu turun itu Monsun Australia, bukan jarak Bumi-Matahari. Yuk, cek fakta dulu sebelum share! 🔭🧊 #CekFakta #HoaksAstronomi #Aphelion [SOCIAL_FB]: Lagi ramai pesan berantai soal Aphelion bikin meriang? Jangan panik dulu. Kami telusuri faktanya: ternyata ini hoaks berulang yang sudah muncul sejak 2018. Simak penjelasan lengkap dari ilmuwan BRIN dan BMKG di sini, ya. [SOCIAL_TG]: 🛑 HOAKS TERULANG! Pesan viral: "Aphelion bikin cuaca dingin & meriang massal." Faktanya: ❌ Tidak ada hubungannya. Suhu dingin Juli = Monsun Australia + langit cerah, bukan jarak Matahari. Meriang = virus/bakteri, bukan astronomi. Jangan sebar info tanpa cek, ya! 🌏✨ [SOCIAL_THREADS]: Setiap tahun selalu ada aja yang nyebar pesan "hati-hati Aphelion bikin meriang" dan setiap tahun juga BMKG + BRIN harus klarifikasi ulang. Capek, deh. Intinya: dinginnya Juli itu karena angin dari Australia, bukan karena Bumi lagi jauh dari Matahari. Jadi santuy aja, yang bikin sakit itu virus, bukan orbit planet ✨
Comments (0)