Teknologi

Fajardo Siap Pensiun dari Gilas Pilipinas, Corpuz Kembali ke Cinemalaya

Manila pekan ini menyaksikan dua babak penting dalam kehidupan budaya Filipina. Di lapangan basket, sang raja papan dalam June Mar Fajardo bersiap menutup

Fajardo Siap Pensiun dari Gilas Pilipinas, Corpuz Kembali ke Cinemalaya

Manila pekan ini menyaksikan dua babak penting dalam kehidupan budaya Filipina. Di lapangan basket, sang raja papan dalam June Mar Fajardo bersiap menutup karier kebangsaannya yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Di layar festival, sutradara David Corpuz justru merayakan kembalinya yang dinanti melalui film yang menyentuh isu kesedihan queer. Dua dunia yang tampak berjauhan—olahraga dan sinema—bertemu dalam satu narasi besar tentang perpisahan, keberanian, dan warisan yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya.

Kisah Terakhir Sang Kraken Basket Filipina

Sedikit pemain yang setia seperti June Mar Fajardo bagi Gilas Pilipinas. Pemain bertinggi 6 kaki 10 inci ini adalah salah satu dari hanya dua pemain Filipina—bersama sahabat dekatnya Japeth Aguilar—yang telah mempersembahkan negara dalam tiga edisi Piala Dunia FIBA. Sejak bergabung dengan tim nasional pada 2013, ia juga tampil empat kali di FIBA Asia Cup, dua kali di FIBA Olympic Qualifying Tournament, dua kali di Asian Games, serta dua kali di Southeast Asian Games.

Namun, usia 36 tahun mulai berbicara. Pelatih kepala Tim Cone mengonfirmasi bahwa pemain dengan sembilan gelar MVP PBA tersebut telah menyatakan niat pensiun dari tugas tim nasional.

"June Mar ingin pensiun, tetapi kami menariknya kembali untuk jendela pertandingan ini, meskipun diragukan bisa tampil di Asian Games," ujar Cone pada 14 Agustus.

Jendela keempat Kualifikasi Asia menuju Piala Dunia 2027 kemungkinan besar menjadi tarian terakhir sang legenda. Publik pun kembali mengenang lima penampilan terbaiknya—momen-momen yang membuktikan bahwa Fajardo bukan sekadar pencetak poin, melainkan simbol daya juang Filipina di panggung dunia.

Corpuz: Dari San Jose del Monte Menuju Sorotan Cinemalaya

Sementara itu, di ranah sinema independen, David Corpuz menulis kisah bangkitnya sendiri. Membesari di San Jose del Monte, Bulacan pada era 1990-an, paparannya terhadap bioskop baru dimulai saat kuliah jurusan teknologi informasi di Don Bosco Technical College, Mandaluyong.

"Dari sana, saya tertarik pada aktos merekam. Istilah kami saat itu video recording, bukan filmmaking," cerita Corpuz.

Karena kotanya belum resmi menjadi kota dan gedung bioskop nyaris tidak ada, Corpuz rutin mendatangi Cine Adarna di Universitas Filipina Diliman yang menayangkan film arthouse secara gratis. Rasa penasarannya tumbuh menjadi dedikasi: ia menyelesaikan magister studi media di UP—program yang butuh tujuh tahun selesai—dan mengukuhkan kecintaannya pada sinema eksperimental.

Buah dari perjalanan itu adalah film pendek eksperimental The Ordinary Things We Do (2014) yang memenangkan Special Jury Prize di Cinemalaya. Dua tahun kemudian, ia debut film panjang bersama co-sutradara Cenon Palomares lewat Kusina yang dibintangi Judy Ann Santos. Setelah jeda satu dekade—di antaranya ia menyutradarai Anatomiya ng Pag-ibig (2015) dan Read-Only Memory (2022)—film solonya Tayo Lang Ang Nakakaalam sukses besar di Cinemalaya dengan tema kesedihan queer yang terpinggirkan.

Bagi Corpuz, film tidak selalu harus indah dan menyenangkan. Keyakinan itulah yang membuat karyanya terasa jujur dan menusuk.

Analisis: Dua Wajah Keunggulan Budaya Filipina

AspekJune Mar FajardoDavid Corpuz
BidangBasket profesionalSinema independen
Awal karier nasional/festival2013 bersama Gilas2014 di Cinemalaya
Prestasi kunci9 kali MVP PBA, 3 edisi Piala Dunia FIBASpecial Jury Prize Cinemalaya
Babak baruPensiun dari timnasFilm panjang solo perdana

Perbandingan sederhana ini menunjukkan pola yang sama: keduanya menempuh jalan panjang, penuh pengorbanan, sebelum mencapai puncak pengakuan. Yang membedakan hanyalah medium—satu melalui lompatan bola, lainnya melalui bingkai gambar yang bergerak.

Pada akhirnya, kisah Fajardo dan Corpuz mengingatkan bahwa kepergian dan kepulangan sama-sama merupakan bentuk keberanian. Yang satu menutup tirai dengan hormat; yang lain membuka tirai dengan suara yang selama ini tak terdengar. Duanya adalah wajah Filipina yang layak dibanggakan.

[SOCIAL_TWEET]: Dua legenda, dua penutupan babak: June Mar Fajardo siap pamit dari Gilas Pilipinas, sementara David Corpuz bersinar kembali di Cinemalaya dengan kisah queer yang menyentuh. #GilasPilipinas #Cinemalaya[SOCIAL_TG]: 🏀🎬 Dua dunia, satu pekan bersejarah: Fajardo hampir gantung sepatu dari timnas, Corpuz tembus Cinemalaya dengan film tentang kehilangan. Simpan artikelnya sebelum lenyap dari timeline!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User