Teknologi

Indonesia dan China Sepakat Bersama Gagalkan Niat Jahat Kekuatan Asing

Berita dari ranah diplomasi pertahanan kali ini ternyata menyentuh kehidupan sehari-hari jauh lebih dekat daripada kelihatannya. Ketika Menteri Pertahanan China, Laksamana Dong Jun, menyatakan bahwa I...

Indonesia dan China Sepakat Bersama Gagalkan Niat Jahat Kekuatan Asing

Berita dari ranah diplomasi pertahanan kali ini ternyata menyentuh kehidupan sehari-hari jauh lebih dekat daripada kelihatannya. Ketika Menteri Pertahanan China, Laksamana Dong Jun, menyatakan bahwa Indonesia dan China akan bergerak bersama menggagalkan setiap kekuatan asing yang berniat jahat, yang dipertaruhkan bukan sekadar retorika panggung diplomatik. Yang dipertaruhkan adalah stabilitas jalur perdagangan tempat gawai, komponen elektronik, dan bahan baku industri lewat setiap hari.

Ibarat dua pemilik rumah yang saling berjansi menjaga pagar bersama, Jakarta dan Beijing menegaskan komitmen untuk tidak membiarkan pihak luar mengganggu tatanan yang telah lama dibangun. Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting tentang arah kemitraan pertahanan dua negara terbesar di Asia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Pesan Utama dari Beijing

Laksamana Dong Jun, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan China sejak Desember 2023, menegaskan bahwa kerja sama pertahanan Indonesia-China akan menjadi benteng bersama menghadapi tekanan eksternal. Dalam kerangka pikirannya, ancaman terhadap kedaulatan salah satu negara pada hakikatnya adalah ancaman terhadap kestabilan kawasan secara keseluruhan.

Poin kunci pernyataan: kedua negara sepakat saling mendukung dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan nasional, sekaligus menolak intervensi kekuatan asing yang dinilai dapat merusak stabilitas regional. Pesan ini sejalan dengan semakin intensifnya dialog militer bilateral dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari kunjungan pejabat tingkat tinggi hingga pelaksanaan latihan bersama seperti Exercise Falcon Strike yang melibatkan pasukan udara kedua negara pada November 2023.

Mengapa Posisi Indonesia Menarik Dicermati

Yang membuat pernyataan ini layak dicermati adalah posisi khas Indonesia. Negara ini konsisten menjalankan politik bebas-aktif, artinya tidak memihak blok mana pun, namun tetap terbuka bekerja sama dengan semua pihak. Sejak Januari 2025, Indonesia bahkan resmi menjadi anggota penuh BRICS, forum ekonomi-politik yang didominasi negara berkembang termasuk China sendiri.

Namun pada saat yang sama, portofolio alutsista Indonesia justru sangat beragam. Data kontrak utama: 42 jet tempur Rafale dari Prancis senilai sekitar US$8,1 miliar (ditandatangani Februari 2022) dan rencana akuisisi 24 jet F-15EX dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai US$13,9 miliar. Artinya, kerja sama dengan China bukanlah pilihan eksklusif, melainkan bagian dari strategi keseimbangan yang ibarat investor yang tidak menaruh seluruh tabungan di satu bank.

Faktor Teknologi: Perekat Baru Relasi Pertahanan

Di balik nuansa diplomatisnya, tersimpan arus bawah teknologi yang menjadi alasan nyata kemitraan ini menguat. Perang modern kini tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah pasukan, melainkan oleh penguasaan drone pengintai, sistem radar canggih, komunikasi terenkripsi, hingga AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) beserta machine learning untuk mengolah data medan tempur dalam hitungan detik.

China menawarkan ekosistem industri pertahanan yang lengkap dan relatif terjangkau, hasil dari puluhan tahun penelitian dan pengembangan deep tech bertingkat. Media internasional bahkan sempat melaporkan bahwa Jakarta tengah mengevaluasi jet tempur J-10C produksi Chengdu Aerospace Corporation, pesawat yang performanya ramai dibicarakan setelah unjuk kerjanya di konflik Asia Selatan. Bagi Indonesia yang tengah mendorong efisiensi anggaran pertahanan, opsi semacam ini tentu menarik secara matematis.

Di sisi lain, Indonesia sedang membangun fondasi industri pertahanan mandiri melalui BUMN seperti PT Pindad (amunisi dan kendaraan tempur), PT Dirgantara Indonesia (pesawat terbang), dan PT PAL (kapal perang). Implementasi program transfer teknologi dengan mitra asing, termasuk China, diyakini dapat mempercepat kurva pembelajaran industri dalam negeri. Ibarat belajar memasak dari chef profesional sekaligus tetap mengembangkan resep sendiri, kolaborasi semacam ini idealnya meningkatkan kapasitas lokal tanpa mematikan inovasi domestik.

Implikasi bagi Kawasan dan Warga Biasa

Bagi masyarakat umum, komitmen kedua Menhan ini bermuara pada satu hal: prediktabilitas. Selat Malaka yang dilewati sekitar seperempat hingga sepertiga perdagangan global harus tetap aman agar harga barang impor tidak terdisrupsi oleh gejolak geopolitik. Anggaran pertahanan Indonesia yang berada di kisaran Rp139 triliun pada 2024 juga bisa dialokasikan lebih tenang ketika tekanan eksternal dapat dikelola lewat jalur diplomasi.

Yang perlu digarisbawahi, pernyataan bersama semacam ini lazimnya bersifat politis dan simbolis. Ujian sesungguhnya terletak pada implementasi: apakah kerja sama teknologi, latihan rutin, dan dialog militer benar-benar berlanjut secara konsisten. Selama itu terjadi, keseimbangan kekuatan di kawasan bisa terjaga tanpa harus berubah menjadi arena provokasi. Dan bagi pembaca rumah, itu berarti satu hal sederhana: pelayaran barang dagang tetap lancar, harga tetap stabil, dan langit Asia Tenggara tetap tenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User