Dukungan Netanyahu untuk Argentina di Piala Dunia 2026: Bukan Soal Messi
Di tengah hiruk-pikuk persiapan menuju Piala Dunia FIFA 2026, sebuah pernyataan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencuri perhatian publik sepak bola global. Netanyahu secara terbuka meny...
Di tengah hiruk-pikuk persiapan menuju Piala Dunia FIFA 2026, sebuah pernyataan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencuri perhatian publik sepak bola global. Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa ia menjagokan tim nasional Argentina untuk keluar sebagai juara di turnamen empat tahunan tersebut. Namun, yang membuat deklarasi ini menarik bukanlah sekadar preferensi seorang kepala negara, melainkan alasan di baliknya yang ia tegaskan tak berkaitan dengan megabintang Lionel Messi. Lantas, apa yang mendorong pemimpin veteran itu menaruh harapan pada La Albiceleste?
Politik di Balik Panggung Sepak Bola
Untuk memahami pernyataan Netanyahu, penting menilik peta hubungan bilateral Israel-Argentina. Kedua negara telah menjalin kerja sama erat di berbagai bidang, mulai dari teknologi pertanian, keamanan siber, hingga pertahanan. Di bawah kepemimpinan Presiden Argentina saat ini, hubungan kedua negara kian mesra. Netanyahu bukan sekadar menyukai gaya permainan Argentina; dukungannya adalah cerminan dari diplomasi olahraga yang kerap ia gunakan untuk memperkuat aliansi strategis. Dengan menyebut Argentina, ia secara simbolis memberikan sinyal politik bahwa Yerusalem melihat Buenos Aires sebagai mitra penting di Amerika Latin, kawasan yang secara historis kerap kritis terhadap kebijakan Israel di Palestina.
Lebih dari Messi: Faktor Komunitas Yahudi
Argentina memiliki populasi Yahudi terbesar di Amerika Latin, dengan sekitar 180.000 jiwa yang sebagian besar tinggal di Buenos Aires. Komunitas ini telah menjadi jembatan kultural dan ekonomi antara kedua negara selama lebih dari satu abad. Netanyahu, yang dikenal dekat dengan diaspora Yahudi global, menjadikan Piala Dunia sebagai momen untuk menyapa komunitas tersebut. Dengan mendukung Argentina, ia sekaligus mengirim pesan solidaritas kepada warga Yahudi Argentina yang kerap menjadi korban serangan antisemitisme—termasuk tragedi pengeboman AMIA pada 1994 yang hingga kini masih menyisakan luka. Pilihan ini secara implisit menegaskan bahwa Netanyahu membela negara yang ia anggap telah menjadi rumah aman bagi saudara sebangsanya.
Piala Dunia 2026: Panggung Baru Soft Diplomacy
Edisi 2026 akan menjadi istimewa karena digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bagi Netanyahu, turnamen ini bukan sekadar hiburan; ia adalah panggung raksasa untuk proyeksi citra. Israel sendiri belum lolos ke putaran final, sehingga dukungan pada tim lain menjadi alat diplomasi publik yang efektif. Sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menjagokan Maroko, atau Presiden Prancis yang memuji tim Afrika sebagai bentuk pendekatan geopolitik. Netanyahu mengikuti pola serupa, namun dengan menepikan nama Messi, ia mengalihkan fokus dari kultus individu ke narasi politik yang lebih besar: persahabatan antarbangsa, nilai-nilai demokrasi, dan kepentingan strategis jangka panjang. Ini bukan tentang sepak bola; ini tentang siapa yang duduk di meja yang sama setelah peluit panjang berbunyi.
Baca juga:
Comments (0)