Iran Memakamkan Khamenei di Tengah Gempuran Baru Amerika Serikat
Setelah lebih dari tiga dekade memegang kendali tertinggi republik Islam, jasad Ayatollah Ali Khamenei akhirnya dikebumikan di kompleks makam suci di Teheran pada Kamis (9/7). Upacara ini mengakhiri r...
Setelah lebih dari tiga dekade memegang kendali tertinggi republik Islam, jasad Ayatollah Ali Khamenei akhirnya dikebumikan di kompleks makam suci di Teheran pada Kamis (9/7). Upacara ini mengakhiri rangkaian prosesi duka selama tujuh hari yang berlangsung di berbagai kota, sekaligus menjadi panggung simbolik yang memperlihatkan betapa Iran tengah berada di persimpangan genting—berduka di dalam, namun terkepung serangan militer dari luar.
Ribuan pelayat memadati jalan-jalan ibu kota meskipun langit Teheran pagi itu diselingi deru jet tempur dan dentuman ledakan yang terdengar dari kejauhan. Pemerintah menyatakan sirene peringatan serangan udara sempat berbunyi dua kali selama prosesi, memaksa iring-iringan jenazah berhenti sejenak. Sejumlah saksi mata menyebutkan, asap membumbung dari arah fasilitas nuklir Natanz—target yang memang kerap menjadi sasaran dalam gelombang serangan terbaru Amerika Serikat.
Prosesi Panjang yang Tak Pernah Sepi Ancaman
Jenazah Khamenei tiba di Teheran pada 2 Juli setelah sebelumnya disemayamkan di kota suci Qom dan dilanjutkan ke Mashhad. Di setiap kota, lautan manusia berpakaian hitam memenuhi jalan raya, melambaikan bendera, dan melantunkan doa. Berbeda dari pemakaman tokoh pendahulunya, Ayatollah Khomeini pada 1989, prosesi kali ini berlangsung dalam pengamanan ketat dan di bawah bayang-bayang operasi militer asing. Ribuan personel Garda Revolusi dikerahkan, tidak hanya untuk mengatur massa, tetapi juga mengantisipasi potensi serangan rudal atau sabotase.
Menurut seorang analis politik dari Universitas Teheran yang enggan disebutkan namanya, momen duka nasional ini justru dimanfaatkan lawan untuk menekan rezim. "Mereka ingin menunjukkan bahwa di saat Iran lengah karena transisi kepemimpinan, tekanan militer dapat mengubah kalkulasi kekuasaan. Ini bentuk perang psikologis yang sangat terukur," katanya. Pengamanan bandara dan perbatasan ditingkatkan, sementara otoritas sementara melarang pertemuan massa lebih dari 500 orang di luar prosesi resmi—kebijakan yang memicu kemarahan sebagian kelompok oposisi.
Serangan AS Kian Meluas, Sasar Fasilitas Strategis
Bersamaan dengan masa berkabung nasional, militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah target di wilayah Iran barat dan tengah. Pentagon mengonfirmasi bahwa operasi bernama "Iron Dawn" itu menyasar fasilitas pengayaan uranium, gudang rudal, dan pusat komando militer yang diduga menjadi pusat pengembangan program nuklir. Menurut keterangan resmi, lebih dari 40 titik telah dihantam dalam tiga hari terakhir. Korban jiwa dari pihak Iran dilaporkan mencapai puluhan personel militer dan teknisi sipil.
Yang membuat situasi kian rumit, serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum pemakaman Khamenei dimulai. Sejumlah pengamat hubungan internasional menduga ada upaya untuk menciptakan efek psikologis berlapis: mengguncang stabilitas domestik, mempersulit suksesi kepemimpinan, dan mengirim sinyal bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran memanfaatkan transisi untuk memperkuat kapasitas militernya. "Ibarat menabuh genderang perang di tengah upacara duka, pesannya sangat jelas," tulis seorang kolumnis di harian reformis Etemad.
Sebaliknya, televisi pemerintah Iran menayangkan adegan pelayat yang meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel, mengklaim bahwa "darah syuhada baru akan menyuburkan pohon revolusi." Namun di balik retorika itu, sumber-sumber internal menyebutkan adanya perdebatan sengit di kalangan elite tentang bagaimana merespons tanpa memicu eskalasi yang tak terkendali—sementara dana negara terkuras dan sanksi masih mencekik.
Warisan Khamenei di Persimpangan Sejarah
Khamenei mangkat di usia 86 tahun setelah memimpin Iran sejak 1989. Ia mewariskan sistem politik yang sangat tersentralisasi, sekaligus ekonomi yang terpuruk. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh regional melalui poros perlawanan—Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman—namun juga menghadapi gelombang protes domestik yang meluas: dari Gerakan Hijau 2009 hingga unjuk rasa Mahsa Amini 2022.
Para analis menilai, proses pemakaman yang berlangsung di tengah serangan AS akan menjadi titik balik bagi Dewan Ahli—lembaga yang bertugas memilih penerus Khamenei. Siapa pun yang naik akan mewarisi konflik terbuka dengan Barat dan tuntutan perubahan dari generasi muda yang lelah oleh isolasi. "Pemakaman ini bukan hanya penguburan seorang pemimpin, tetapi juga momentum yang bisa memicu redefinisi identitas Republik Islam," ujar pakar geopolitik dari lembaga kajian di Istanbul.
Pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Mohammad Mokhber mengumumkan masa berkabung resmi hingga akhir pekan, sementara Majelis Ahli dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Senin depan. Apakah suksesi akan berjalan mulus—ataukah justru membuka babak baru perebutan kuasa—masih menjadi teka-teki. Satu hal yang pasti: dentuman bom di kejauhan menjadi latar suara yang mengiringi perpisahan terakhir dengan era seorang Khamenei.
Baca juga:
Comments (0)