Prosesi Pemakaman Ali Khamenei di Mashhad, Ribuan Pelayat Padati Kota

Rangkaian prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di kota suci Mashhad pada hari ini di tengah lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan utama. Ribuan ...

Jul 12, 2026 - 15:40
0 0
Prosesi Pemakaman Ali Khamenei di Mashhad, Ribuan Pelayat Padati Kota

Rangkaian prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di kota suci Mashhad pada hari ini di tengah lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan utama. Ribuan warga Iran dari berbagai pelosok negeri telah berkumpul sejak subuh untuk memberikan penghormatan terakhir kepada figur yang memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade.

Jenazah almarhum yang disemayamkan dalam peti tertutup bendera nasional Iran diarak perlahan dari Lapangan Azadi menuju kompleks makam yang telah disiapkan di dekat Haram Imam Reza, situs paling suci bagi umat Syiah di Iran. Isak tangis dan lantunan doa mengiringi sepanjang perjalanan prosesi, menandakan duka mendalam yang menyelimuti bangsa Persia itu. Masyarakat yang hadir tampak membawa foto-foto mendiang, poster-poster bertuliskan kaligrafi ayat suci, serta bendera warna hijau, merah, dan putih yang menjadi lambang negara.

Perjalanan Terakhir Sang Pemimpin Spiritual

Ali Khamenei, yang wafat pada usia 86 tahun setelah sebelumnya dikabarkan menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit kronis, merupakan pemimpin tertinggi kedua Iran pasca-Revolusi Islam 1979. Ia menggantikan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989 dan sejak saat itu memegang kendali tertinggi atas seluruh kebijakan negara, militer, dan lembaga peradilan. Lahir di kota yang sama dengan tempat peristirahatan terakhirnya, Khamenei menapaki karier dari seorang ulama dan pejuang revolusi hingga menjadi orang nomor satu di panggung politik Timur Tengah.

Prosesi di Mashhad menjadi puncak dari rangkaian upacara berkabung nasional yang telah berlangsung selama beberapa hari. Sebelumnya, jenazah sempat disemayamkan di ibu kota Tehran di mana jutaan warga memberikan penghormatan di Masjid Agung Mosalla. Pemindahan ke Mashhad dilakukan melalui jalur udara dengan pengawalan ketat militer, mengingat peran kota ini sebagai pusat spiritual dan lokasi makam Imam Reza—cicit Nabi Muhammad yang sangat dihormati dalam tradisi Syiah. Sepanjang malam, ribuan pelayat juga menggelar doa bersama dan pembacaan Al-Quran di sekitar area masjid dan titik-titik strategis kota.

Mashhad: Kota Suci yang Menjadi Saksi Sejarah

Pemilihan Mashhad sebagai lokasi pemakaman bukanlah tanpa makna simbolis. Selain karena kota ini merupakan tempat kelahiran Ali Khamenei pada tahun 1939, Mashhad juga menjadi rumah bagi Mausoleum Imam Reza, kompleks keagamaan terbesar di Iran yang setiap tahun dikunjungi puluhan juta peziarah dari seluruh dunia. Dengan dikebumikannya sang pemimpin di dekat situs suci ini, pemerintah Iran ingin menegaskan kesinambungan antara warisan spiritual Syiah dan kepemimpinan politik kontemporer. Kompleks pemakaman baru yang luas itu telah dirancang dengan arsitektur Islam klasik, dilengkapi kubah berlapis emas dan kaligrafi persembahan dari para seniman lokal.

Pemerintah setempat telah menerjunkan ribuan personel keamanan, relawan kemanusiaan, serta petugas medis untuk mengantisipasi lonjakan massa yang diprediksi mencapai angka jutaan. Beberapa ruas jalan ditutup total, sementara stasiun televisi nasional menyiarkan langsung prosesi ini ke seluruh penjuru negeri dan dunia internasional. Pusat-pusat distribusi makanan dan air minum darurat turut didirikan untuk melayani para pelayat yang sebagian besar datang dari luar kota, bahkan dari negara-negara tetangga seperti Irak, Lebanon, dan Afghanistan.

Dampak Politik dan Pertanyaan Transisi Kekuasaan

Kepergian Ali Khamenei meninggalkan pertanyaan besar mengenai arah politik Iran selanjutnya. Berdasarkan konstitusi, Dewan Ahli—lembaga beranggotakan 88 ulama terpilih—memiliki mandat untuk memilih pemimpin tertinggi baru dalam waktu secepatnya. Nama-nama seperti Ebrahim Raisi, Mojtaba Khamenei (putra mendiang), dan beberapa ulama senior lainnya disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Namun, spekulasi yang berkembang justru memunculkan kekhawatiran akan potensi friksi internal di kalangan elite konservatif jika transisi tidak berjalan mulus. Sidang darurat Dewan Ahli dijadwalkan segera digelar setelah masa berkabung awal berakhir, dan publik menanti hasil diskusi yang akan menentukan nasib 85 juta penduduk Iran.

Di sisi lain, dunia internasional mengamati dengan seksama. Beberapa pemimpin negara sekutu tradisional Iran seperti Rusia dan China telah menyampaikan belasungkawa resmi, sementara negara-negara Barat pada umumnya memberikan pernyataan yang lebih hati-hati, mengingat hubungan diplomatik yang tegang selama masa kepemimpinan Khamenei terkait program nuklir dan isu hak asasi manusia. Presiden Prancis mengirimkan pesan singkat melalui saluran diplomatik, sedangkan Amerika Serikat menyatakan akan memonitor perkembangan situasi dengan fokus pada stabilitas kawasan, tanpa memberikan komentar langsung tentang proses pemakaman.

Warisan Kontroversi di Mata Dunia

Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, Ali Khamenei dipandang secara beragam: sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi asing oleh para pendukungnya, namun juga sebagai figur represif oleh para pengkritik. Di bawah komandonya, Iran memperkuat pengaruh regionalnya melalui dukungan terhadap kelompok-kelompok milisi di Timur Tengah, sambil bersikap tegar menghadapi sanksi ekonomi internasional. Program pengayaan uranium yang terus berjalan meskipun ada perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) mempertebal isolasi negara itu sekaligus meningkatkan ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat. Aktivis hak asasi manusia mencatat represi terhadap kebebasan sipil dan penangkapan massal aktivis selama masa pemerintahannya, yang kerap memicu protes domestik dan kecaman global.

Namun, di mata rakyat Iran yang pro-pemerintah, Khamenei adalah penjaga revolusi yang memastikan kemerdekaan negara dari intervensi asing. Ribuan warga yang hadir dalam prosesi hari ini di Mashhad adalah bukti dari basis dukungan yang masih loyal, terutama di kota-kota tradisional dan pedesaan. “Kami datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin tercinta kami. Ia adalah benteng Islam yang sejati,” ungkap seorang pelayat yang tidak mau disebutkan namanya. Kesetiaan semacam ini tercermin dalam suasana khidmat yang menyelimuti prosesi, di mana banyak yang menangis tersedu-sedu sambil memegang Al-Quran dan foto mendiang.

Indonesia dan Hubungan Bilateral

Bagi Indonesia, wafatnya Ali Khamenei turut menandai akhir dari sebuah era dalam hubungan bilateral yang bersahabat. Kedua negara yang sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim ini memiliki kerja sama erat di bidang perdagangan, energi, serta pertukaran budaya dan keagamaan. Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menyampaikan pernyataan belasungkawa atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, seraya berharap transisi kepemimpinan di Iran dapat berlangsung damai dan stabil. Beberapa organisasi masyarakat Islam di Indonesia juga menggelar doa bersama untuk mendoakan mendiang dan mendoakan masa depan Iran yang lebih baik.

Masa Berkabung Nasional dan Apa Selanjutnya

Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari, dengan acara-acara resmi ditangguhkan dan bendera dikibarkan setengah tiang di seluruh gedung pemerintahan. Setelah prosesi pemakaman di Mashhad selesai, jenazah akan dibaringkan di makam permanen yang konstruksinya telah disiapkan sejak lama. Sementara itu, perhatian publik dan analis politik kini tertuju sepenuhnya pada dinamika di balik pintu tertutup Dewan Ahli yang akan menentukan siapa pemimpin tertinggi berikutnya. Para pengamat memperkirakan bahwa dalam beberapa pekan ke depan akan terjadi lobi politik intensif di antara faksi-faksi konservatif untuk memastikan suksesi yang sesuai dengan garis perjuangan revolusi.

Dengan duka yang mendalam dan masa depan yang penuh ketidakpastian, rakyat Iran bersatu dalam tangis dan doa, mengantar sang pemimpin ke peristirahatan terakhirnya di tanah suci yang telah lama ia perjuangkan. Dunia menunggu dengan napas tertahan, berharap bahwa babak baru Iran akan lahir dari kesedihan ini dengan membawa stabilitas dan perdamaian bagi kawasan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User