Lautan Manusia di Mashhad Antarkan Kepergian Pemimpin Tertinggi Iran
Di bawah langit senja yang mulai meredup, ribuan peziarah dan warga biasa berjalan kaki sepanjang Boulevard Imam Reza menuju halaman kompleks makam. Suara lantunan doa dan ratapan memenuhi udara, menc...
Di bawah langit senja yang mulai meredup, ribuan peziarah dan warga biasa berjalan kaki sepanjang Boulevard Imam Reza menuju halaman kompleks makam. Suara lantunan doa dan ratapan memenuhi udara, menciptakan suasana duka yang mendalam namun khusyuk. Banyak di antara mereka membawa bendera hitam bertuliskan 'Ya Husein' dan potret Khamenei yang mengenakan sorban hitam, simbol keturunan Nabi Muhammad.
Perjalanan Panjang Menuju Pemakaman
Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah bertahun-tahun memimpin Iran dengan tangan besi namun juga membawa stabilitas di tengah sanksi internasional. Prosesi pemakaman ini menjadi puncak dari serangkaian upacara duka yang telah dimulai sejak akhir pekan lalu, termasuk salat jenazah di Tehran yang dipimpin oleh para ulama senior. Pemilihan Mashhad sebagai lokasi pemakaman ini tidak lepas dari statusnya sebagai kota suci kedua bagi umat Syiah setelah Najaf dan Karbala, serta tempat lahir sang pemimpin.
Gelombang Pelayat dari Seluruh Penjuru
Pemerintah setempat memperkirakan lebih dari 50 ribu orang telah tiba di Mashhad dalam 24 jam terakhir, dengan ribuan lainnya masih dalam perjalanan menggunakan bus, kereta, dan kendaraan pribadi. Hotel-hotel penuh, dan banyak pelayat terpaksa menginap di tenda-tenda darurat yang didirikan di taman kota. 'Saya datang bersama keluarga dari Yazd,' kata seorang pria paruh baya sambil menatap kerumunan. 'Kami ingin menjadi bagian dari sejarah, memberikan salam perpisahan kepada pemimpin kami.'
Pengamanan Maksimal di Tengah Emosi Publik
Lebih dari 10 ribu personel keamanan dikerahkan untuk menjaga ketertiban, termasuk pasukan khusus dan unit anti-huru-hara. Setiap sudut jalan menuju makam Imam Reza dijaga ketat, dengan pos pemeriksaan di setiap 500 meter. Drone dan helikopter militer berpatroli di udara, sementara tim medis dan ambulan disiagakan mengantisipasi kemungkinan pingsan massal di antara kerumunan. Meski demikian, suasana tetap tertib dan damai; banyak warga terlihat membagikan air mineral dan kurma gratis kepada sesama pelayat.
Simbol Persatuan di Tengah Perpecahan
Pakar geopolitik menilai pemakaman ini sebagai momen penting yang akan dijadikan ajang konsolidasi rezim pasca-kepergian pemimpin tertinggi yang telah membentuk kebijakan luar negeri dan dalam negeri Iran selama lebih dari setengah abad. Khamenei dijuluki sebagai 'Pilar Revolusi', melanjutkan garis ideologis Pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dengan pemakamannya, Iran kini berada di persimpangan sejarah, menunggu penunjukkan pemimpin tertinggi berikutnya oleh Majelis Ahli.
Harapan dan Kekhawatiran Setelah Kepergian
Bagi rakyat Iran yang sudah bertahun-tahun menghadapi krisis ekonomi akibat sanksi Barat, kepergian Khamenei menghadirkan campuran perasaan lega sekaligus cemas. Beberapa pemuda di Mashhad mengaku bersedih, namun berharap era baru akan membawa keterbukaan dan perbaikan ekonomi. 'Kami mencintai pemimpin kami, tetapi kami juga menginginkan kehidupan yang lebih baik,' ujar Mahdi, seorang mahasiswa teknik yang ikut melayat.
Reaksi Internasional Terhadap Wafatnya Pemimpin Spiritual Iran
Reaksi dari berbagai penjuru dunia turut mewarnai hari-hari menjelang pemakaman. Perdana Menteri Pakistan mengumumkan hari berkabung nasional, sementara pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menyiarkan pidato emosional yang disiarkan langsung ke seluruh Lebanon. Di India, komunitas Syiah menggelar salat ghaib di Lucknow dan Hyderabad. Bahkan beberapa negara Teluk yang selama ini berseberangan dengan Iran, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait, mengirim utusan khusus untuk menyampaikan belasungkawa, menandakan dinamika geopolitik yang cair di kawasan.
Pemakaman resmi akan dilakukan setelah salat zuhur besok, dengan khotbah yang disampaikan oleh Ayatollah Ahmad Jannati, salah satu tokoh kunci dalam hierarki ulama. Prosesi penguburan akan dihadiri oleh delegasi dari puluhan negara, termasuk Rusia, Tiongkok, dan perwakilan dari kelompok-kelompok sekutu di Timur Tengah. Jalan-jalan utama di Mashhad akan ditutup total mulai pukul 08.00 pagi waktu setempat, dan pihak berwenang mengimbau warga yang tidak berkepentingan untuk tetap di rumah.
Baca juga:
Comments (0)