Desa Bukit Makmur Perkuat Cegah Stunting, 207 Warga Dipantau

KAUR — Pemerintah Desa Bukit Makmur, Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, menegaskan komitmennya mempercepat penurunan angka stunting

Desa Bukit Makmur Perkuat Cegah Stunting, 207 Warga Dipantau

KAUR — Pemerintah Desa Bukit Makmur, Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, menegaskan komitmennya mempercepat penurunan angka stunting di wilayahnya. Komitmen itu diwujudkan melalui pelaksanaan rembuk stunting yang menetapkan 207 warga sebagai sasaran pemantauan intensif program pencegahan dan penanganan stunting.

Rembuk stunting merupakan forum musyawarah tingkat desa yang diamanatkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Forum ini menjadi ruang bagi pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, dan warga untuk mengevaluasi capaian program sekaligus menyusun rencana aksi konvergensi stunting secara terpadu.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader posyandu, bidan desa, pengurus Tim Penggerak PKK, tokoh masyarakat, pendamping lokal desa, serta perwakilan tenaga kesehatan puskesmas. Seluruh pihak menyepakati langkah konkret agar intervensi gizi benar-benar menyentuh kelompok yang paling rentan.

"Kami menetapkan 207 warga sebagai sasaran pemantauan. Mereka akan dipantau secara berkala, mulai dari kondisi gizi, status kesehatan, hingga pola asuh di dalam keluarga," ujar Kepala Desa Bukit Makmur dalam forum rembuk stunting tersebut.

207 Warga Masuk Daftar Sasaran Pemantauan

Penetapan 207 sasaran pemantauan tidak dilakukan sembarangan. Angka tersebut diperoleh dari hasil pendataan dan pemutakhiran data oleh kader posyandu bersama perangkat desa, yang mencakup kelompok-kelompok prioritas dalam siklus 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

  • Baduta atau bayi di bawah dua tahun, masa emas pembentukan otak dan fisik anak.
  • Balita yang hasil pengukurannya menunjukkan risiko gangguan pertumbuhan.
  • Ibu hamil, terutama yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK) dan anemia.
  • Calon pengantin yang perlu dibekali edukasi gizi dan kesehatan reproduksi.

Para sasaran akan dipantau melalui kunjungan rumah, pengukuran antropometri berkala di posyandu, serta pencatatan dalam sistem pendataan desa. Dengan pendekatan ini, setiap kasus risiko stunting dapat terdeteksi lebih dini dan ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan serius.

Memahami Stunting, Musuh Senyawa Generasi Bangsa

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 HPK, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Anak stunting memiliki tinggi badan di bawah standar usianya dan berpotensi mengalami hambatan perkembangan kognitif.

Dampak stunting bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan. Anak yang mengalami stunting berisiko lebih rendah prestasi belajarnya, lebih rentan terserang penyakit, dan kelak berpotensi memiliki produktivitas kerja yang terbatas. Inilah alasan mengapa pencegahan jauh lebih penting ketimbang penanganan setelah kondisi terjadi.

Strategi Konvergensi di Tingkat Desa

Melalui rembuk stunting, Pemerintah Desa Bukit Makmur menyepakati sejumlah langkah strategis yang akan dibiayai dan didukung melalui anggaran desa serta kolaborasi lintas sektor. Beberapa langkah tersebut antara lain:

  • Pemantauan pertumbuhan rutin di posyandu, meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita setiap bulan.
  • Pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi balita dan ibu hamil kurang gizi.
  • Promosi ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang.
  • Perbaikan sanitasi dan akses air bersih untuk memutus rantai infeksi penyebab gangguan penyerapan gizi.
  • Edukasi calon pengantin melalui kelas pranikah dan penyuluhan kesehatan reproduksi.
"Kunci penurunan stunting ada di hulu. Kalau ibu hamil sehat dan bayi mendapat ASI serta gizi cukup, risiko stunting bisa ditekan jauh sebelum anak lahir," kata seorang bidan desa yang terlibat dalam pemantauan.

Selain intervensi spesifik di bidang kesehatan, desa juga mendorong intervensi sensitif seperti pemanfaatan pekarangan untuk tanaman pangan bergizi, ketahanan pangan keluarga, serta pendampingan keluarga berisiko oleh tim pendamping keluarga (TPK).

Selaras dengan Target Nasional

Upaya Desa Bukit Makmur sejalan dengan agenda nasional percepatan penurunan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia, angka stunting nasional masih berada di kisaran 21 persen, sementara pemerintah menargetkan penurunan signifikan menuju angka 14 persen. Daerah, termasuk desa, menjadi garda terdepan pencapaian target tersebut.

Pemerintah desa berharap rembuk stunting tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi penggerak nyata perubahan perilaku masyarakat. Dengan pemantauan ketat terhadap 207 sasaran, Desa Bukit Makmur optimistis mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting demi masa depan Kabupaten Kaur yang lebih baik.

[SOCIAL_TWEET]: Desa Bukit Makmur, Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, gelar rembuk stunting dan tetapkan 207 warga sebagai sasaran pemantauan intensif. #Stunting #Kaur #Bengkulu[SOCIAL_TG]: 🌱 Desa Bukit Makmur, Kabupaten Kaur, gelar rembuk stunting. 207 warga jadi sasaran pemantauan: balita, ibu hamil, hingga calon pengantin. Pemantauan berkala dilakukan lewat posyandu dan kunjungan rumah demi generasi bebas stunting.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User