Dampingi Wapres ke Papua Barat, Wamendagri Pantau Manfaat Dana Otsus
Manokwari Selatan – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dalam kunjungan kerja ke Provinsi Papua Barat, Sabtu (20
Manokwari Selatan – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dalam kunjungan kerja ke Provinsi Papua Barat, Sabtu (20/6). Kunjungan ini secara khusus digelar untuk memantau keberhasilan pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua melalui salah satu sektor unggulan, yakni pengembangan komoditas kakao yang dinilai mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dalam agenda tersebut, Wapres dan Wamendagri meninjau langsung sebuah pabrik pengolahan kakao yang berlokasi di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pabrik ini berdiri berkat dukungan Dana Otsus dan telah menjadi simbol bangkitnya industri lokal berbasis sumber daya alam khas Papua. Berdasarkan laporan yang diterima Terdepan.id, ribuan petani di sekitar distrik kini menikmati peningkatan pendapatan berkat stabilitas harga jual dan pendampingan teknis yang berkelanjutan.
Kakao Bukti Dana Otsus Tepat Sasaran
Kehadiran pabrik kakao di Ransiki tidak sekadar menampung hasil panen petani, melainkan juga mengolah biji kakao menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat batang, bubuk kakao, hingga pakan ternak dari limbah produksi. Dengan begitu, Dana Otsus tidak hanya mendorong peningkatan kuantitas produksi, tetapi juga transformasi ekonomi dari hulu ke hilir. Masyarakat asli Papua yang sebelumnya hanya menjual biji mentah kini dapat terlibat dalam proses pengolahan dan pemasaran produk jadi.
Langkah ini sejalan dengan misi percepatan pembangunan di Tanah Papua yang dicanangkan pemerintah pusat. Dana Otsus yang digelontorkan setiap tahunnya diharapkan dapat menciptakan lebih banyak pusat pertumbuhan ekonomi serupa, sehingga ketergantungan terhadap sektor ekstraktif bisa berkurang secara bertahap. Pemerintah daerah pun didorong untuk terus mengidentifikasi komoditas potensial lain yang dapat direplikasi dengan model pengembangan terintegrasi seperti yang berjalan di Manokwari Selatan.
“Pengembangan komoditas kakao hingga menghasilkan produk bernilai tambah merupakan salah satu contoh implementasi Dana Otsus Papua benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Wamendagri Ribka Haluk di hadapan awak media usai peninjauan.
Wamendagri menekankan bahwa capaian di Ransiki membuktikan Dana Otsus bekerja secara nyata. Pihaknya akan terus memantau dan mengevaluasi program-program lain yang didanai oleh otonomi khusus, termasuk di sektor perikanan, peternakan, dan infrastruktur dasar, agar penyaluran dana selalu tepat guna dan bebas dari penyimpangan. Komitmen ini diperkuat dengan adanya koordinasi rutin antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan kabupaten.
Kunjungan Wapres Gibran ke Papua Barat juga menegaskan bahwa keberlanjutan Otsus bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi sebuah strategi pembangunan yang dikawal langsung dari level tertinggi. Produk kakao asal Ransiki yang kini telah menembus pasar nasional diharapkan menjadi pintu masuk bagi promosi potensi ekonomi Papua yang lebih luas. Dengan demikian, Dana Otsus benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga asli Papua secara berkelanjutan.
Comments (0)