269 Titik di Kaltim Masih Gelap Internet, Komdigi Beri Penjelasan

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, mengakses internet mungkin semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bagi warga di ratusan titik di Kalimantan Timur (Kaltim), mendapatkan sinyal masih menja...

269 Titik di Kaltim Masih Gelap Internet, Komdigi Beri Penjelasan

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, mengakses internet mungkin semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bagi warga di ratusan titik di Kalimantan Timur (Kaltim), mendapatkan sinyal masih menjadi perjuangan harian. Padahal, konektivitas kini menjadi tulang punggung berbagai aktivitas: pelajar mengikuti pembelajaran daring, petani memantau harga komoditas melalui platform digital, hingga pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) memasarkan produk ke seluruh Indonesia. Ketika sebuah wilayah belum terjangkau internet, warganya otomatis tertinggal dari ekosistem digital yang terus bergerak cepat.

Kondisi tersebut tergambar dari data terbaru yang menyebutkan cakupan konektivitas di Kaltim sebenarnya sudah mencapai 95,5 persen. Angka ini terdengar mengesankan, tetapi masih menyisakan sekitar 269 titik blank spot—istilah untuk wilayah yang sama sekali tidak terjangkau sinyal telekomunikasi. Ibarat sebuah kota besar yang terang benderang, masih ada gang-gang sempit yang gelap gulita karena belum teraliri listrik. Warga di gang itulah yang kini menanti giliran.

Apa Kata Kementerian Komunikasi dan Digital?

Menanggapi persoalan ini, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) menjelaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah memetakan titik-titik blank spot tersebut dan menyiapkan sejumlah langkah implementasi untuk menghubungkannya dengan jaringan internet. Wamenkomdigi menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam transformasi digital, dengan menjadikan wilayah yang belum terjangkau sebagai prioritas dalam agenda pemerataan infrastruktur.

Salah satu solusi yang disiapkan adalah pembangunan BTS (Base Transceiver Station), yakni stasiun pemancar yang berfungsi menghubungkan ponsel pengguna dengan jaringan operator seluler. Pembangunan ini umumnya dikoordinasikan melalui BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi), lembaga di bawah Komdigi yang bertugas menyediakan akses telekomunikasi di wilayah yang tidak menarik secara komersial bagi operator.

Mengapa Masih Ada Wilayah yang Gelap Sinyal?

Pertanyaan besarnya: mengapa di era teknologi yang serbacanggih masih ada ratusan titik tanpa internet? Jawabannya terletak pada kombinasi faktor geografis dan ekonomis. Kaltim memiliki bentang alam yang menantang—hutan lebat, pegunungan, dan permukiman tersebar dengan jarak antar-desa yang jauh. Membangun menara BTS di lokasi seperti ini membutuhkan biaya jauh lebih besar dibandingkan di perkotaan, sementara jumlah penggunanya relatif sedikit.

Dari kacamata bisnis, operator seluler tentu menghitung efisiensi investasi. Inilah yang disebut kesenjangan pasar: wilayah yang secara komersial tidak menguntungkan cenderung dihindari. Di sinilah peran negara menjadi krusial melalui skema pendanaan USO (Universal Service Obligation atau kewajiban layanan universal), yaitu dana kontribusi dari operator telekomunikasi yang dialokasikan khusus untuk membangun infrastruktur di daerah tertinggal.

Selain menara BTS darat, teknologi satelit juga menjadi alternatif. Satelit orbit rendah maupun satelit milik pemerintah dapat menjangkau wilayah yang sulit dibangun infrastruktur terestrial, meskipun kecepatan dan latensinya memiliki karakteristik berbeda dibandingkan jaringan serat optik atau 4G (generasi keempat).

Taruhan Besar di Tengah Pembangunan IKN

Persoalan blank spot ini menjadi semakin ironis mengingat Kaltim adalah rumah bagi IKN (Ibu Kota Nusantara), proyek ibu kota baru yang digadang-gadang menjadi kota pintar berteknologi tinggi. Visi IKN mencakup inovasi layanan publik digital, transportasi cerdas, hingga pengembangan deep tech—teknologi berbasis penelitian mendalam seperti kecerdasan buatan. Namun, visi besar itu akan timpang jika desa-desa di sekitarnya masih kesulitan mengirim pesan singkat.

Pemerataan konektivitas bukan sekadar soal memasang menara. Ia adalah fondasi bagi disrupsi positif di berbagai sektor: layanan kesehatan jarak jauh (telemedicine), pertanian presisi berbasis data, hingga pemanfaatan machine learning (pembelajaran mesin) dan algoritma cerdas untuk mengelola sumber daya alam. Semua itu mustahil berjalan tanpa infrastruktur dasar bernama internet.

Harapan ke Depan

Dengan komitmen yang disampaikan Komdigi, publik kini menantikan realisasi di lapangan. Transparansi mengenai jadwal pembangunan, lokasi prioritas, dan progres penyelesaian 269 titik tersebut menjadi penting agar masyarakat bisa ikut mengawasi. Sebab pada akhirnya, angka 95,5 persen hanyalah statistik di atas kertas bagi mereka yang hidup di 4,5 persen sisanya.

Internet yang merata adalah prasyarat agar seluruh warga Kaltim—dari kota besar hingga kampung terpencil—bisa naik ke gerbong ekonomi digital yang sama. Tanpa itu, kesenjangan digital hanya akan memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi yang sudah ada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User