Teknologi

120 Becak Listrik Mulai Beroperasi di Depok, Tanpa Kayuh

Bayangkan sebuah kendaraan yang selama puluhan tahun identik dengan keringat dan tenaga manusia kini berjalan hanya dengan sekali putaran tuas gas. Itulah perubahan besar yang tengah terjadi di Kota D...

120 Becak Listrik Mulai Beroperasi di Depok, Tanpa Kayuh

Bayangkan sebuah kendaraan yang selama puluhan tahun identik dengan keringat dan tenaga manusia kini berjalan hanya dengan sekali putaran tuas gas. Itulah perubahan besar yang tengah terjadi di Kota Depok, Jawa Barat, tempat 120 unit becak listrik bantuan pemerintah pusat resmi mulai dioperasikan. Perubahan ini penting bukan sekadar soal gaya, tetapi menyangkut nasib ribuan pengemudi becak yang selama ini mengandalkan otot untuk mencari nafkah. Jika teknologi ini berhasil, model serupa bisa menyebar ke kota-kota lain dan mengubah wajah transportasi tradisional Indonesia secara permanen.

Becak listrik ini bukan versi modifikasi dari becak konvensional yang ditambahi motor tempel. Secara desain, kendaraan ini dibangun ulang dari nol sebagai platform bertenaga baterai. Pengemudi cukup memutar tuas gas di setang, mirip cara kerja sepeda motor matik, dan becak akan melaju tanpa perlu dikayuh sama sekali. Ibarat seperti beralih dari sepeda kayuh ke sepeda motor listrik, hanya bentuknya tetap tiga roda dengan kabin penumpang di belakang.

Spesifikasi Teknis dan Cara Kerjanya

Dari sisi teknologi, becak listrik ini mengandalkan motor listrik (electric motor/penggerak berbasis tenaga listrik) yang disuplai baterai lithium. Berikut gambaran spesifikasinya berdasarkan informasi yang beredar:

Jumlah unit: 120 becak listrik dalam tahap awal
Sumber tenaga: Baterai isi ulang, bukan bahan bakar fosil
Sistem penggerak: Motor listrik dengan kontrol tuas gas
Metode operasi: Dikemudikan tanpa mengayuh pedal
Wilayah operasi: Kota Depok, Jawa Barat

Konsep ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru di dunia. Becak listrik telah lama digunakan di beberapa negara Asia seperti Bangladesh dan India, meski dengan kualitas dan regulasi yang beragam. Yang membedakan program kali ini adalah keterlibatan pemerintah kota dan pemerintah pusat dalam menyediakan unit secara terpusat, bukan sekadar impor liar oleh perorangan.

"Teknologi ini menyentuh langsung sektor informal yang jarang tersentuh inovasi. Kalau pengemudi bisa menghemat tenaga dan menambah jumlah trip per hari, dampak ekonominya bisa signifikan," demikian pandangan yang sering muncul di kalangan pengamat transportasi perkotaan.

Mengapa Ini Disebut Evolusi, Bukan Sekadar Ganti Moda

Kata evolusi di sini bukan berlebihan. Becak kayuh tradisional memiliki keterbatasan mendasar: jarak tempuh terbatas oleh stamina manusia, kecepatan rendah, dan penghasilan pengemudi bergantung penuh pada kondisi fisik. Dengan motor listrik (electric motor), tiga kendala itu berpotensi diatasi sekaligus.

Pertama, pengemudi tidak lagi kelelahan mengayuh, sehingga bisa melayani lebih banyak penumpang dalam sehari. Kedua, jangkauan operasi bisa lebih jauh karena tenaga tidak lagi bergantung otot. Ketiga, dari sisi lingkungan, becak listrik tidak menghasilkan emisi gas buang seperti kendaraan bermotor berbahan bakar minyak, sehingga sejalan dengan agenda pengurangan polusi udara di kawasan perkotaan.

Namun, ada pula tantangan implementasi (penerapan di lapangan) yang perlu dicermati. Infrastruktur pengisian daya atau charging station menjadi kunci. Jika baterai habis di tengah perjalanan dan tidak ada tempat mengecas, becak justru menjadi beban. Selain itu, harga suku cadang baterai dan motor listrik masih relatif mahal dibanding komponen becak kayuh sederhana, sehingga perlu skema perawatan yang jelas agar tidak membebani pengemudi.

Dampak bagi Pengemudi dan Ekosistem Transportasi Kota

Bagi para pengemudi, perubahan ini bisa menjadi berkah sekaligus tantangan adaptasi. Mereka perlu mempelajari cara mengoperasikan kendaraan berbasis algoritma kontrol tenaga yang berbeda dari kebiasaan mengayuh. Meski sederhana, transisi ini menuntut pelatihan agar keselamatan tetap terjaga, terutama soal pengereman dan pengendalian kecepatan.

Dari kacamata ekosistem transportasi, kehadiran becak listrik membuka ruang kolaborasi dengan platform digital. Becak bisa dipesan lewat aplikasi, dilacak posisinya, dan pembayarannya dilakukan tanpa uang tunai. Ini adalah bentuk disrupsi (gangguan besar terhadap cara lama) yang bisa mengangkat citra becak dari angkutan tradisional menjadi bagian dari mobilitas modern.

Keberhasilan program 120 unit di Depok ini akan menjadi tolak ukur. Jika terbukti efisien, bukan tidak mungkin pemerintah daerah lain menyusul. Yang paling penting, inovasi ini harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pengemudi, bukan hanya menjadi proyek seremonial yang berhenti setelah peluncuran. Sebab pada akhirnya, teknologi hanya bermakna jika bisa memperbaiki kehidupan orang banyak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User