Warga India Gelar Demo Besar Tolak Pusat Data Raksasa Google

Setiap kali Anda mencari sesuatu di mesin pencari, menonton video, atau bertanya kepada chatbot AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), ada mesin raksasa yang bekerja tanpa henti di balik laya...

Warga India Gelar Demo Besar Tolak Pusat Data Raksasa Google

Setiap kali Anda mencari sesuatu di mesin pencari, menonton video, atau bertanya kepada chatbot AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), ada mesin raksasa yang bekerja tanpa henti di balik layar: pusat data. Namun, kemudahan digital yang kita nikmati setiap hari ternyata punya biaya tersembunyi berupa air dan listrik dalam jumlah masif. Inilah alasan mengapa warga dan aktivis lingkungan di India turun ke jalan menolak rencana pembangunan pusat data raksasa milik Google di wilayah mereka. Bagi pembaca Indonesia, isu ini penting karena Tanah Air juga tengah menjadi magnet investasi pusat data global, dan apa yang terjadi di India bisa menjadi cermin bagi kita.

Ibarat seperti pendingin ruangan raksasa yang menyala 24 jam sehari tanpa jeda, pusat data menampung ribuan server yang menghasilkan panas luar biasa. Untuk mencegah mesin-mesin itu rusak, sistem pendingin harus bekerja terus-menerus, dan sebagian besar sistem pendingin konvensional menyerap air dalam volume yang sulit dibayangkan orang awam.

Warga dan Aktivis Kompak Menolak

Gelombang demonstrasi besar-besaran pecah di sekitar lokasi rencana pembangunan fasilitas tersebut. Warga setempat, yang sebagian besar bergantung pada sumur dan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari serta pertanian, khawatir pasokan air mereka akan tersedot oleh kebutuhan pendinginan mesin. Para aktivis lingkungan menyoroti tiga hal utama: potensi krisis air yang makin parah, alih fungsi lahan, dan lonjakan konsumsi listrik yang bisa membebani jaringan listrik daerah.

Kekesalan warga bukan tanpa alasan. Bagi mereka, janji lapangan kerja dari proyek teknologi semacam ini dinilai tidak sebanding dengan risiko kehilangan sumber daya paling mendasar bagi kehidupan, yakni air bersih. Sentimen 'sudah muak' muncul karena pola yang berulang: korporasi raksasa datang dengan janji investasi besar, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampak lingkungannya dalam jangka panjang.

Mengapa Pusat Data Begitu Haus Air?

Secara teknis, pusat data adalah fasilitas berisi ribuan komputer server yang memproses dan menyimpan data. Server-server ini menghasilkan panas tinggi, sehingga membutuhkan pendinginan ekstrem. Metode yang paling umum digunakan adalah evaporative cooling (pendinginan evaporatif), yakni teknik yang menguapkan air untuk menurunkan suhu, mirip seperti tubuh manusia yang berkeringat untuk mendinginkan diri.

Angkanya tidak main-main. Sebuah pusat data skala besar atau hyperscale, sebutan untuk fasilitas berkapasitas raksasa milik perusahaan seperti Google, Amazon, dan Microsoft, bisa mengonsumsi jutaan liter air per hari, setara kebutuhan sebuah kota kecil. Berdasarkan laporan lingkungan Google sendiri, konsumsi air perusahaan itu secara global menembus lebih dari 20 miliar liter dalam setahun, dan angka ini terus naik seiring ledakan permintaan layanan AI serta machine learning (pembelajaran mesin). Efisiensi fasilitas biasanya diukur dengan metrik PUE (Power Usage Effectiveness/efektivitas penggunaan daya), tetapi metrik serupa untuk air justru jarang dibuka ke publik secara transparan.

India yang Sedang Kehausan

Konteksnya membuat penolakan ini makin beralasan. Menurut lembaga pemikir pemerintah India, NITI Aayog, sekitar 600 juta warga India menghadapi stres air tingkat tinggi hingga ekstrem. Sejumlah kota besar seperti Bengaluru dan Chennai bahkan sempat diprediksi berisiko kehabisan air tanah. Ketika sumur-sumur warga mengering di musim kemarau, kehadiran fasilitas rakus air tentu terasa seperti tamparan bagi masyarakat.

Di sisi lain, India memang tengah agresif membangun ekosistem digital. Pemerintahnya mendorong investasi pusat data demi ambisi menjadi pusat ekonomi digital Asia. Namun para pengkritik menilai, pengembangan infrastruktur teknologi tanpa kajian lingkungan yang ketat hanya akan memindahkan biaya pembangunan ke pundak rakyat kecil yang paling rentan.

Gelombang Penolakan Serupa di Berbagai Negara

India bukan kasus pertama. Di Uruguay, rencana pusat data Google menuai protes keras pada 2023 karena bertepatan dengan kekeringan terparah dalam beberapa dekade. Di Cile, pengadilan meminta studi lingkungan proyek serupa ditinjau ulang. Di Belanda dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat, pemerintah daerah bahkan sempat menghentikan sementara izin pembangunan pusat data baru karena kekhawatiran serupa. Fenomena ini menunjukkan disrupsi baru: konflik antara infrastruktur digital dan sumber daya alam kini menjadi isu global yang tidak bisa diabaikan.

Apa Jalan Keluarnya?

Sejumlah solusi teknis sebenarnya sudah tersedia. Perusahaan teknologi bisa beralih ke pendingin udara, sistem loop tertutup, atau air daur ulang alih-alih menyedot air tanah. Lokasi pembangunan juga bisa dipilih di wilayah beriklim sejuk atau berlimpah air. Google sendiri berkomitmen mengembalikan 120 persen air tawar yang dikonsumsinya pada 2030 melalui berbagai program restorasi lingkungan. Namun para aktivis menilai komitmen sukarela tidak cukup. Perlu regulasi yang mewajibkan transparansi konsumsi air serta persetujuan warga lokal sebelum proyek berjalan.

Pada akhirnya, demonstrasi di India mengirim pesan yang relevan untuk semua negara berkembang, termasuk Indonesia: inovasi digital memang penting, tetapi implementasinya tidak boleh mengorbankan kebutuhan paling dasar manusia. Masa depan teknologi yang berkelanjutan hanya mungkin terwujud jika efisiensi mesin berjalan seiring dengan keadilan bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User