Trump-Netanyahu Merenggang, Israel Disebut Siap Perangi Iran Sendirian
Konflik di Timur Tengah mungkin terasa jauh dari kehidupan kita, tetapi dampaknya bisa sampai ke meja makan setiap keluarga Indonesia. Eskalasi antara Israel dan Iran berpotensi mengerek harga minyak ...
Konflik di Timur Tengah mungkin terasa jauh dari kehidupan kita, tetapi dampaknya bisa sampai ke meja makan setiap keluarga Indonesia. Eskalasi antara Israel dan Iran berpotensi mengerek harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok komponen elektronik, dan memicu gelombang inflasi global. Karena itu, kabar merenggangnya hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bukan sekadar drama politik luar negeri, melainkan sinyal penting tentang arah keamanan dunia.
Sejumlah pengamat keamanan internasional kini membuka suara mengenai satu skenario yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan: Israel menghadapi Iran seorang diri, tanpa dukungan penuh Washington. Skenario ini mencuat setelah relasi Trump dan Netanyahu — yang selama bertahun-tahun dikenal sangat mesra — dilaporkan mulai retak akibat perbedaan strategi menghadapi program nuklir Teheran.
Dari Sekutu Karib Menjadi Berbeda Jalan
Ibarat dua sahabat lama yang mulai berbeda visi soal masa depan, Trump dan Netanyahu kini tampak tidak lagi seirama. Pada periode pertama pemerintahan Trump, hubungan keduanya nyaris tanpa cela: Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem pada 2018, mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada 2019, dan menjadi perantara Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) pada 2020 yang menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab.
Namun, menurut berbagai analisis para pengamat, titik pisah muncul ketika Trump memilih jalur diplomasi dengan Iran. Washington disebut membuka kembali saluran negosiasi nuklir dengan Teheran, sementara Netanyahu justru meyakini tekanan militer adalah satu-satunya bahasa yang dipahami Iran. Bagi Netanyahu, kesepakatan apa pun yang membiarkan Iran mempertahankan kemampuan pengayaan uranium adalah ancaman eksistensial. Bagi Trump, perang baru di Timur Tengah bertentangan dengan janjinya menghindari konflik mahal di luar negeri.
Para pengamat menilai keretakan ini bukan perpisahan total, melainkan divergensi strategis — perbedaan kepentingan yang membuat Israel tak bisa lagi menganggap dukungan Amerika sebagai sesuatu yang otomatis.
Seberapa Kuat Teknologi Pertahanan Israel?
Pertanyaan berikutnya: jika benar-benar sendirian, apa yang dimiliki Israel? Jawabannya terletak pada ekosistem pertahanan deep tech — teknologi mendalam berbasis penelitian ilmiah — yang dibangun negara itu selama puluhan tahun.
Israel memiliki sistem pertahanan udara berlapis. Lapisan pertama adalah Iron Dome (Kubah Besi), yang beroperasi sejak 2011 dan dirancang mencegat roket jarak pendek menggunakan peluru pencegat Tamir; Israel mengklaim tingkat keberhasilannya mencapai sekitar 90 persen. Lapisan kedua, David's Sling (Ketapel Daud), menangkal rudal jarak menengah. Lapisan teratas, Arrow 2 dan Arrow 3, dirancang menghancurkan rudal balistik bahkan di luar atmosfer bumi. Sementara itu, sistem laser bernama Iron Beam tengah disiapkan untuk menekan biaya pencegatan menjadi jauh lebih murah per tembakan.
Di ranah siber, Israel memiliki Unit 8200, satuan intelijen sinyal militer yang menjadi kawah candradimuka talenta teknologi negara itu. Dunia masih mengingat Stuxnet, program perangkat lunak berbahaya (malware) yang sekitar tahun 2010 merusak sentrifugal pengayaan uranium di fasilitas Natanz, Iran — operasi yang luas diyakini merupakan kolaborasi intelijen Barat. Implementasi AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) dan machine learning (pembelajaran mesin) juga kini mempercepat analisis intelijen, mulai dari penyaringan data pengawasan hingga identifikasi target.
Untuk serangan jarak jauh, Angkatan Udara Israel mengoperasikan jet tempur siluman F-35I Adir — varian khusus F-35 yang dimodifikasi dengan sistem elektronik buatan dalam negeri — serta armada F-15 dan F-16. Jangkauan operasinya telah teruji lewat serangan lintas negara sejauh lebih dari 1.800 kilometer ke Yaman.
Mampukah Israel Berperang Sendirian?
Di sinilah para pengamat memberikan catatan kritis. Israel memang mampu melancarkan serangan udara dan operasi siber secara mandiri, tetapi ada batas keras yang hanya bisa ditembus dengan bantuan Amerika Serikat.
Batas pertama bernama GBU-57 MOP (Massive Ordnance Penetrator), bom penembus bunker seberat sekitar 13,6 ton yang hanya bisa dijatuhkan oleh pembom siluman B-2 Spirit milik Amerika. Bom inilah yang diyakini dibutuhkan untuk menjangkau fasilitas nuklir Fordow, yang terkubur sekitar 80 hingga 90 meter di bawah gunung. Tanpa senjata ini, serangan Israel atas fasilitas terdalam Iran hanya akan menggores permukaan.
Batas kedua adalah logistik. Pesawat pengisi bahan bakar udara (tanker) Israel masih mengandalkan Boeing 707 Re'em yang sudah berusia puluhan tahun, sementara penggantinya, KC-46 Pegasus, baru dipesan dan belum sepenuhnya tiba. Perang jarak jauh berkepanjangan menuntut efisiensi logistik yang sulit dipenuhi tanpa dukungan Amerika — mulai dari pasokan amunisi, suku cadang, hingga pencegat rudal pertahanan udara yang harganya jutaan dolar per unit.
Sejumlah pengamat merangkum dilema ini dengan gamblang: Israel mungkin sanggup membuka pintu perang, tetapi hanya Amerika yang bisa memastikan perang itu berakhir sesuai keinginan Israel. Karena itu, opsi bertindak sendirian tetap ada di meja Netanyahu, namun dengan risiko strategis yang jauh lebih besar.
Dampaknya bagi Kawasan dan Indonesia
Jika konfrontasi terbuka benar-benar terjadi, dunia akan langsung menatap Selat Hormuz — jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Gangguan di sana bisa mengerek harga energi, biaya logistik, dan pada akhirnya harga barang di pasar-pasar Indonesia.
Dampak lain datang dari dunia digital. Eskalasi militer hampir selalu diiringi perang siber, dan kelompok peretas (hacker) yang berafiliasi dengan Iran maupun Israel berpotensi membidik infrastruktur kritis di luar kawasan konflik, dari sistem perbankan hingga jaringan listrik. Bagi platform teknologi dan industri digital global, ini berarti kewaspadaan keamanan siber harus dinaikkan satu tingkat.
Untuk saat ini, para pengamat sepakat pada satu hal: keretakan Trump dan Netanyahu belum berarti perang, tetapi telah mengubah peta perhitungan semua pihak. Dunia kini menunggu apakah diplomasi akan menang, atau Israel benar-benar memilih jalan sendiri menghadapi Iran.
Comments (0)