Televisi Masih Jadi Primadona, 70 Persen Warga Indonesia Nonton Setiap Hari
Di tengah gempuran platform streaming dan konten media sosial yang tak pernah berhenti, banyak pengamat memprediksi televisi akan segera masuk kotak sejarah. Kenyataannya justru berbeda. Data terbaru ...
Di tengah gempuran platform streaming dan konten media sosial yang tak pernah berhenti, banyak pengamat memprediksi televisi akan segera masuk kotak sejarah. Kenyataannya justru berbeda. Data terbaru menunjukkan sekitar 70 persen masyarakat Indonesia masih menonton televisi setiap hari. Angka ini penting karena menegaskan satu hal: kebiasaan konsumsi media publik tidak berubah secepat yang dibayangkan. Bagi industri periklanan, lembaga penyiaran, hingga pengembang teknologi, temuan ini menentukan ke mana arah investasi dan inovasi selanjutnya.
Mengapa ini relevan bagi kehidupan sehari-hari? Sederhana: televisi masih menjadi jendela informasi utama jutaan keluarga Indonesia, mulai dari berita pagi, sinetron sore, hingga pertandingan sepak bola malam hari. Ibarat sebuah rumah besar, televisi adalah ruang tamu tempat seluruh anggota keluarga berkumpul, sementara ponsel pintar hanyalah kamar pribadi masing-masing penghuninya. Keduanya hidup berdampingan, bukan saling meniadakan.
Durasi Menonton Tembus Empat Jam Sehari
Bukan hanya soal jumlah penonton, durasi menonton masyarakat Indonesia juga tergolong tinggi. Rata-rata pemirsa menghabiskan waktu lebih dari empat jam per hari di depan layar kaca, dengan puncaknya pada jam tayang utama atau prime time antara pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. Segmen penonton paling setia berasal dari kelompok usia di atas 35 tahun serta masyarakat di daerah yang akses internetnya belum merata.
Sebagai perbandingan, durasi tersebut nyaris setara dengan waktu yang dihabiskan orang Indonesia untuk menggulir media sosial setiap harinya. Artinya, televisi bukan sekadar bertahan, tetapi masih bersaing ketat dalam perebutan perhatian publik di era disrupsi digital.
Migrasi ke TV Digital Menjadi Kunci Keberlangsungan
Salah satu faktor yang membuat televisi tetap relevan adalah implementasi siaran TV digital. Pemerintah telah menghentikan siaran analog melalui kebijakan ASO (Analog Switch Off atau penghentian siaran analog) yang rampung pada 2023, lalu menggantinya dengan standar DVB-T2 (Digital Video Broadcasting — Second Generation Terrestrial), yakni teknologi penyiaran terestrial generasi kedua yang memancarkan sinyal digital melalui antena biasa.
Hasilnya, kualitas gambar lebih jernih, suara lebih bersih, dan jumlah kanal bertambah tanpa biaya berlangganan. Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, model free-to-air atau siaran gratis ini jauh lebih ekonomis dibanding layanan streaming yang menuntut kuota internet dan biaya bulanan. Inilah bentuk efisiensi yang sulit ditandingi platform digital mana pun.
Pertarungan Sengit dengan Platform Streaming
Kendati demikian, televisi tidak bisa berpuas diri. Layanan streaming berbasis OTT (Over The Top, yakni penyampaian konten langsung melalui internet tanpa operator tradisional) terus menggerogoti segmen penonton muda. Platform seperti Netflix, Vidio, hingga YouTube mengandalkan algoritma rekomendasi berbasis machine learning (pembelajaran mesin) yang mampu menebak selera penonton secara personal — sesuatu yang tidak dimiliki siaran televisi konvensional.
“Televisi menang dalam jangkauan massal dan kepercayaan publik, tetapi kalah dalam personalisasi. Masa depan penyiaran ada pada konvergensi keduanya,” ujar seorang pengamat industri media digital. Pernyataan ini mencerminkan tren global: stasiun televisi besar kini membangun platform streaming sendiri agar ekosistem kontennya tetap hidup di dua dunia sekaligus.
Masa Depan: Hibrida, Bukan Saling Menyingkirkan
Penelitian perilaku konsumen media menunjukkan pola hibrida yang semakin menguat. Penonton menikmati siaran langsung di televisi, melanjutkan diskusi di media sosial, lalu menonton ulang momen favorit lewat streaming. Fenomena second screen — menatap layar ponsel sambil menonton TV — justru memperpanjang umur konten televisi dan membuka peluang pengembangan format baru.
Bagi pembaca awam, pesan utamanya jelas: televisi belum tamat. Dengan penetrasi harian mencapai 70 persen, dukungan teknologi penyiaran digital, serta strategi konvergensi yang terus dikembangkan, medium yang telah hadir hampir satu abad ini masih menjadi tulang punggung ekosistem media Indonesia. Tantangannya kini bukan lagi soal bertahan hidup, melainkan bagaimana terus berinovasi agar tetap bermakna di tengah persaingan deep tech yang semakin ketat.
Comments (0)