Spanyol Singkirkan Belgia, Lammens Tertunduk Lesu di Perempat Final Piala Dunia
MADRID — Sebuah gambar berbicara seribu kata. Senne Lammens, kiper muda Belgia berusia 24 tahun, tertunduk lesu di tengah lapangan Estadio Santiago Bernabé
MADRID — Sebuah gambar berbicara seribu kata. Senne Lammens, kiper muda Belgia berusia 24 tahun, tertunduk lesu di tengah lapangan Estadio Santiago Bernabéu. Tangannya bertumpu pada lutut, kepala tertunduk dalam, sementara di sekelilingnya para pemain Spanyol berpesta merayakan kemenangan 3-1 yang mengakhiri perjalanan Belgia di perempat final Piala Dunia 2026, Sabtu (27/6/2026).
Malam itu seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi generasi emas baru Belgia. Namun takdir berkata lain. Spanyol, dengan permainan tiki-taka modern yang memukau, menunjukkan kelas mereka sebagai salah satu favorit juara. Lammens, yang tampil gemilang di tiga pertandingan sebelumnya, kali ini harus memungut bola dari gawangnya sebanyak tiga kali.
Dominasi Spanyol Sejak Awal
Sejak peluit kick-off dibunyikan, Spanyol langsung mengambil inisiatif serangan. Statistik mencatat penguasaan bola 66 persen untuk La Roja di babak pertama. Alvaro Morata membuka skor pada menit ke-18 melalui sundulan mematikan yang tak mampu dijangkau Lammens. Sepuluh menit berselang, Lamine Yamal, wonderkid berusia 19 tahun, menggandakan keunggulan Spanyol lewat tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang manis di pojok kiri atas gawang Belgia.
Lammens, yang musim ini tampil impresif bersama klubnya di Bundesliga, sejatinya melakukan beberapa penyelamatan krusial. Tercatat ia menggagalkan empat peluang bersih Spanyol, termasuk penyelamatan refleks dari tembakan jarak dekat Nico Williams. Namun ketangguhannya tak cukup untuk membendung gelombang serangan yang datang bertubi-tubi.
Harapan yang Muncul dan Pudar
Belgia sempat memberi harapan ketika Jérémy Doku memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 pada menit ke-55. Gol tersebut hasil dari serangan balik cepat yang diakhiri dengan tembakan keras yang sempat mengenai bek Spanyol sebelum masuk ke gawang Unai Simón. Momentum itu menyulut semangat para pemain Belgia, termasuk Lammens yang berteriak memberi komando kepada lini pertahanannya.
“Kami percaya bisa membalikkan keadaan. Suasana di lapangan berubah setelah gol itu. Sayangnya, sepak bola kadang kejam,” ujar Lammens dengan suara bergetar kepada awak media, matanya masih sembab.
Harapan itu pupus pada menit ke-72. Sebuah skema sepak pojok Spanyol menghasilkan gol ketiga yang dicetak oleh Pedri, yang baru masuk sebagai pemain pengganti. Bola sempat mengenai kaki bek Belgia, Zeno Debast, sebelum masuk ke gawang. Gol itu seperti belati yang menikam jantung setiap pendukung Belgia.
Generasi Baru, Luka Lama
Kekalahan ini terasa pahit bagi Belgia yang tengah membangun kembali kejayaan sepak bola mereka pasca-pensiunnya Eden Hazard, Thibaut Courtois, dan Kevin De Bruyne. Lammens, yang diproyeksikan menjadi penerus Courtois di bawah mistar, merasakan langsung betapa kejamnya turnamen sebesar Piala Dunia.
Pelatih Belgia, Domenico Tedesco, mencoba menguatkan mental anak asuhnya. “Senne adalah kiper masa depan Belgia. Malam ini memang menyakitkan, tapi pengalaman ini akan membentuknya menjadi pemain yang lebih tangguh. Dia sudah menunjukkan kualitasnya sepanjang turnamen,” kata Tedesco.
Di sisi lain, Spanyol melenggang mulus ke semifinal untuk menghadapi pemenang antara Brasil dan Jerman. Pelatih Luis de la Fuente memuji performa timnya. “Kami menunjukkan permainan yang luar biasa. Yamal, Nico, Pedri—mereka adalah masa depan sepak bola Spanyol, dan mereka sudah siap bersinar sekarang,” ujarnya percaya diri.
Momen yang Membekas
Di tengah hingar-bingar perayaan Spanyol, sorot kamera tertuju pada sosok Lammens yang berdiri seorang diri di tengah lapangan. Butiran keringat masih membasahi wajahnya. Tatapannya kosong, menerawang ke arah langit Madrid yang mulai gelap. Rekan setimnya, Youri Tielemans, datang memeluknya dari belakang, tapi Lammens nyaris tak bergerak.
Gambar itu menjadi ikon dari sisi manusiawi sepak bola—bahwa di balik statistik dan taktik, ada mimpi yang hancur, air mata yang tertahan, dan hati yang remuk. Bagi Lammens, Piala Dunia 2026 akan selalu menjadi kenangan pahit sekaligus batu loncatan untuk bangkit lebih kuat di masa depan.
[SOCIAL_TWEET]: Hati hancur untuk Senne Lammens. Kiper muda Belgia tampil gemilang tapi harus memungut bola dari gawangnya 3 kali. Spanyol ke semifinal! 🇪🇸⚽️ #PialaDunia2026 #Belgia #SenneLammens #Spanyol[SOCIAL_TG]: 😢💔 Malam Kelam Senne Lammens di Bernabéu Kiper 24 tahun Belgia tak kuasa menahan sedih usai Spanyol menang 3-1 di perempat final Piala Dunia 2026. Morata, Yamal, dan Pedri jadi algojo. Lammens sebenarnya buat 4 penyelamatan krusial, tapi tak cukup untuk bendung La Roja. Selamat tinggal Belgia, Spanyol lanjut ke semifinal! 🇪🇸🔥
Comments (0)