Seratus Tahun Panas Bumi Indonesia: Mesin Ekonomi Hijau yang Belum Tergarap

Energi panas bumi Indonesia genap berusia satu abad tahun ini. Jejaknya dimulai pada 1926, saat pengeboran eksplorasi pertama dilakukan di kawasan Kamojang, Jawa Barat, jauh sebelum Indonesia merdeka....

Seratus Tahun Panas Bumi Indonesia: Mesin Ekonomi Hijau yang Belum Tergarap

Energi panas bumi Indonesia genap berusia satu abad tahun ini. Jejaknya dimulai pada 1926, saat pengeboran eksplorasi pertama dilakukan di kawasan Kamojang, Jawa Barat, jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun yang lebih penting daripada catatan sejarah adalah satu pertanyaan: sebesar apa teknologi energi ini benar-benar berkontribusi bagi ekonomi nasional?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyoroti langsung persoalan itu. Dalam keterangan terbarunya, perusahaan menggarisbawahi bahwa pengembangan panas bumi membawa dampak ekonomi yang luas dan efek berganda bagi masyarakat. Artinya, manfaatnya tidak berhenti pada produksi listrik, tetapi menjalar ke lapangan kerja, usaha lokal, penghematan impor energi, hingga target emisi nol bersih (net zero emission/NZE) yang dicanangkan pemerintah pada 2060.

Panas Bumi: Ketel Raksasa di Bawah Kaki Kita

Apa sebenarnya panas bumi? Ibarat seperti ketel raksasa yang terus mendidih, inti bumi menyimpan panas luar biasa besar yang memanaskan air dan batuan di kedalaman beberapa kilometer. Uap yang terbentuk kemudian dialirkan ke permukaan untuk memutar turbin pembangkit listrik, dan inilah prinsip dasar Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil, proses ini nyaris tanpa emisi karbon.

Indonesia adalah negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi mencapai sekitar 23,9 gigawatt (GW), setara 40 persen dari total potensi dunia. Satu GW sendiri kira-kira mampu menerangi ratusan ribu rumah. Namun kapasitas terpasang hingga saat ini baru sekitar 2,4 GW, artinya baru sepersepuluh potensi yang benar-benar dimanfaatkan. Celah inilah yang menjadi ruang bagi inovasi dan penelitian di sektor energi.

Efek Berganda: Lebih dari Sekadar Listrik

Dalam kajian ekonomi, inilah yang disebut efek berganda (multiplier effect). Setiap proyek PLTP melewati tahap eksplorasi, pengeboran, konstruksi, hingga operasional yang berlangsung puluhan tahun. Setiap tahap menyerap tenaga kerja lokal, memesan barang dan jasa dari pengusaha sekitar, membangun jalan, hingga menghidupkan hotel dan rumah makan di sekitar lokasi proyek. Dengan kata lain, satu investasi energi bisa menggerakkan seluruh roda ekonomi sebuah kawasan.

PGEO, anak usaha PT Pertamina (Persero) yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada Februari 2023, menjadi salah satu bukti nyata. Penawaran saham perdananya (IPO/initial public offering) kala itu meraup dana sekitar Rp9 triliun dan tercatat sebagai pencatatan saham terbesar di bursa tanah air. Perusahaan pengelola wilayah kerja di Kamojang, Lahendong, Ulubelu, hingga Lumut Balai ini memasok listrik bersih yang ikut menekan subsidi BBM dan impor minyak, dua beban besar anggaran negara.

Kendala: Biaya Awal Mahal, Risiko Pengeboran Tinggi

Jika potensinya sebesar itu, mengapa pengembangannya belum maksimal? Jawaban utamanya adalah biaya. Eksplorasi panas bumi membutuhkan investasi awal yang sangat besar, pengeboran satu sumur saja bisa menghabiskan puluhan juta dolar, sementara risiko menemukan uap yang layak tetap ada. Alhasil, harga listrik panas bumi masih lebih mahal dibanding batubara sehingga diperlukan insentif agar proyek menarik bagi investor.

Tantangan lain datang dari sisi teknologi. Reservoir panas bumi berada jauh di dalam tanah dan sulit dipetakan secara langsung. Di sinilah inovasi deep tech, yaitu teknologi berbasis riset mendalam, berperan. Algoritma machine learning (kecerdasan buatan yang belajar dari data) kini dipakai untuk memodelkan perilaku reservoir, memprediksi umur sumur, dan mengoptimalkan produksi uap. Efisiensi semacam ini menjadi kunci menekan biaya produksi listrik panas bumi.

Jalan Panjang Menuju 2060

Pemerintah menargetkan NZE pada 2060 dan menjadikan panas bumi salah satu tulang punggung transisi energi. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) nasional bahkan mengalokasikan tambahan kapasitas panas bumi sekitar 3,3 GW hingga 2030, lebih besar dari total kapasitas yang sudah terpasang saat ini. Namun realisasi di lapangan masih jauh dari target, sebagian besar karena persoalan perizinan, pendanaan, dan harga jual listrik yang belum kompetitif.

Memasuki usia 100 tahun, panas bumi bukanlah teknologi baru. Justru kematangannya menjadi keunggulan: infrastruktur, penelitian, dan tenaga ahlinya sudah terbentuk selama puluhan tahun. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian memperbesar skala implementasi, membangun ekosistem pendanaan yang sehat, serta terus mengembangkan inovasi agar biaya turun dan daya saingnya naik.

Jika semua itu berjalan, sumur-sumur panas bumi yang mulai dibor sejak 1926 tidak akan berakhir sebagai museum sejarah. Mereka bisa menjadi fondasi ekonomi hijau Indonesia untuk satu abad berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User