Reformasi Nigeria Menguntungkan Investor, Rakyat Justru Tercekik Biaya Hidup
Mengapa nasib Nigeria penting bagi kita? Sebagai negara berpenduduk terbesar di Afrika dengan lebih dari 220 juta jiwa sekaligus salah satu ekonomi terbesar di benua itu, apa pun yang terjadi di Niger...
Mengapa nasib Nigeria penting bagi kita? Sebagai negara berpenduduk terbesar di Afrika dengan lebih dari 220 juta jiwa sekaligus salah satu ekonomi terbesar di benua itu, apa pun yang terjadi di Nigeria berdampak pada stabilitas kawasan, harga energi global, hingga arus investasi ke negara berkembang. Kini negara itu berdiri di persimpangan: reformasi ekonomi yang digagas Presiden Bola Tinubu dipuji investor dan lembaga keuangan dunia, tetapi jutaan warganya justru berjuang keras untuk sekadar membeli makanan pokok.
Ibarat merenovasi rumah sambil tetap ditinggali, pemerintah Nigeria membongkar fondasi lama ekonominya tanpa menyediakan perlindungan memadai bagi penghuninya. Hasilnya, sebagian pihak menikmati ruangan baru yang megah, sementara sebagian besar penghuni lain kepanasan di tengah debu pembangunan.
Kebijakan Berani yang Mengguncang Pasar
Sejak dilantik pada 29 Mei 2023, Tinubu langsung mengambil langkah kontroversial: mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama puluhan tahun menahan harga bensin tetap murah. Dalam hitungan jam setelah pengumuman, harga bensin melonjak hingga tiga kali lipat. Beberapa pekan berselang, pemerintah membiarkan nilai tukar naira mengambang bebas mengikuti mekanisme pasar. Akibatnya, mata uang itu anjlok dari sekitar 460 naira per dolar Amerika Serikat menjadi lebih dari 1.400 naira per dolar dalam waktu kurang dari setahun.
Kedua kebijakan itu sebenarnya lama ditunggu para ekonom. Subsidi BBM dinilai menggerogoti anggaran negara hingga triliunan naira per tahun, sementara kurs yang dipatok secara artifisial menciptakan pasar gelap dan menghambat investasi. Bank sentral juga menaikkan suku bunga acuan secara agresif hingga melampaui 27 persen demi menjinakkan inflasi yang menggila.
Investor Berpesta di Tengah Badai
Di atas kertas, strategi itu membuahkan hasil. Bursa saham Nigeria mencatatkan kinerja impresif dan sempat menjadi salah satu pasar dengan imbal hasil terbaik di dunia. Aliran modal asing yang sempat kabur mulai kembali, dan lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Dunia memberikan apresiasi terbuka terhadap arah kebijakan pemerintah di Abuja.
Reformasi ini menyakitkan dalam jangka pendek, tetapi merupakan prasyarat untuk menarik kembali kepercayaan pasar yang hilang selama bertahun-tahun, ujar seorang analis pasar di Lagos.
Sektor swasta juga ikut bergerak. Ekosistem teknologi Nigeria, yang dikenal sebagai salah satu pusat startup fintech (teknologi finansial) terbesar di Afrika, tetap menarik pendanaan meski melambat. Para pengusaha berharap stabilitas makroekonomi yang baru akan membuka babak investasi berikutnya dan memperluas lapangan kerja digital.
Rakyat Menanggung Harga Paling Mahal
Namun di luar gedung bursa dan ruang rapat investor, realitanya jauh lebih pahit. Inflasi sempat menembus 34 persen pada pertengahan 2024, level tertinggi dalam hampir tiga dekade. Inflasi pangan bahkan lebih parah, melampaui 40 persen, sehingga harga beras, roti, dan minyak goreng naik di luar jangkauan banyak keluarga. Data pemerintah sendiri menunjukkan lebih dari separuh penduduk hidup dalam kemiskinan multidimensional, yakni kondisi ketika warga kekurangan akses dasar seperti pangan layak, pendidikan, dan layanan kesehatan secara bersamaan.
Kenaikan upah minimum menjadi 70.000 naira per bulan pada 2024 dinilai banyak kalangan tidak sebanding dengan lonjakan biaya hidup. Gelombang unjuk rasa pun pecah, termasuk demonstrasi besar pada Agustus 2024 yang menuntut pemerintah menurunkan harga pangan dan mengembalikan subsidi. Kesenjangan sosial kian lebar: segelintir pemilik modal menuai keuntungan, sementara mayoritas warga memotong porsi makan dan menjual aset untuk bertahan hidup.
Pelajaran bagi Negara Berkembang
Kisah Nigeria menjadi cermin bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia yang juga akrab dengan perdebatan subsidi energi. Reformasi struktural memang kerap diperlukan untuk menyehatkan keuangan negara, tetapi tanpa bantalan sosial yang kuat, seperti bantuan tunai tepat sasaran dan perlindungan bagi kelompok rentan, kebijakan itu justru bisa memperdalam ketimpangan alih-alih memulihkan ekonomi.
Pemerintah Nigeria kini berpacu dengan waktu. Jika pertumbuhan ekonomi dan penurunan inflasi tidak segera dirasakan masyarakat bawah, dukungan publik terhadap reformasi bisa runtuh. Sebaliknya, bila stabilitas makroekonomi berhasil diterjemahkan menjadi lapangan kerja dan harga yang terjangkau, Nigeria berpeluang menjadi contoh kebangkitan ekonomi Afrika. Hingga saat itu tiba, jurang antara papan skor investor dan dapur rakyat akan terus menjadi ujian terberat pemerintahan Tinubu.
Comments (0)