MADRID — Keberuntungan sering dianggap sebagai peristiwa kebetulan yang datang tanpa bisa dikendalikan manusia. Namun, pandangan itu dibantah oleh psikiater asal Spanyol, Marian Rojas Estapé, yang menawarkan perspektif berbeda berdasarkan pengalaman klinis dan pengamatan perilaku manusia. Menurut analisisnya, faktor keberuntungan bukanlah entitas abstrak, melainkan fenomena yang erat kaitannya dengan proaktivitas dan pengembangan diri.
Dalam sebuah unggahan di kanal media sosialnya, Rojas Estapé mengungkapkan bahwa ia telah lama meneliti konsep keberuntungan dari sudut pandang kejiwaan. Ketertarikannya bermula dari pengalaman mendengarkan pasien-pasiennya. "Saya banyak meneliti tentang keberuntungan sebagai psikiater, karena saya mendengarkan pasien dan berkata: 'Betapa beruntungnya mereka! Semuanya berjalan baik!' Dan ada orang yang saya dengarkan hidupnya dan saya berkata: 'Drama sekali! Tidak mungkin!'" ujarnya.
Kutipan Seneca yang Menginspirasi
Dari kegelisahan empiris tersebut, Rojas Estapé mulai mendalami studi tentang keberuntungan. Dalam kerangka itu, ia menyoroti sebuah kutipan klasik dari filsuf Romawi, Seneca, yang dianggapnya sangat relevan dengan dunia modern.
"Ada frasa dari Seneca yang sangat saya sukai: keberuntungan adalah tempat di mana persiapan dan kesempatan bertemu." — Marian Rojas Estapé
Menurut Rojas Estapé, kutipan tersebut mengandung makna mendalam bahwa kesuksesan personal sangat bergantung pada kemampuan setiap individu untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan penuh tekad. Ia menegaskan bahwa orang yang tampak "beruntung" sebenarnya telah melalui proses panjang yang tidak terlihat oleh orang lain.
Persiapan dan Kerja Keras Sebagai Kunci
Psikiater yang juga dikenal sebagai penulis buku laris ini menekankan bahwa keberuntungan tidak datang begitu saja. Ada serangkaian upaya sistematis yang harus dilakukan seseorang sebelum momentum emas tiba.
- Persiapan matang — Individu perlu membekali diri dengan keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan jauh sebelum peluang muncul.
- Kerja keras konsisten — Usaha yang dilakukan secara terus-menerus membuka pintu bagi datangnya kesempatan yang tidak terduga.
- Kemampuan membaca peluang — Orang yang siap secara mental dan intelektual lebih mampu mengenali dan memanfaatkan momentum yang ada.
- Ketekunan menghadapi tantangan — Mereka yang gigih tidak mudah menyerah ketika hambatan datang, sehingga peluang keberhasilan tetap terbuka.
Rojas Estapé menjelaskan bahwa dalam praktik klinisnya, ia sering menjumpai dua tipe pasien: mereka yang hidupnya tampak penuh keberuntungan dan mereka yang terus-menerus dilanda masalah. Perbedaan mendasar antara keduanya, menurutnya, terletak pada pola pikir dan kebiasaan sehari-hari, bukan semata-mata pada faktor eksternal seperti nasib atau takdir.
Relevansi bagi Masyarakat Modern
Pandangan Rojas Estapé ini mendapat perhatian luas di kalangan warganet, terutama mereka yang tengah berjuang mengembangkan karier dan kehidupan pribadi. Pesannya yang menekankan pentingnya persiapan dan kerja keras dinilai sejalan dengan berbagai kajian psikologi positif yang menyatakan bahwa keberhasilan lebih ditentukan oleh usaha sadar daripada keberuntungan semata.
Dengan demikian, refleksi dari psikiater Spanyol ini menjadi pengingat bahwa keberuntungan bukanlah misteri yang tak terjangkau. Sebaliknya, ia adalah hasil pertemuan antara kesiapan diri yang dibangun dengan disiplin dan kesempatan yang datang pada waktu yang tepat. Sebagaimana ditegaskan Seneca berabad-abad lalu, mereka yang mempersiapkan diri dengan baik akan selalu memiliki peluang lebih besar untuk disebut "beruntung".
Comments (0)