Teknologi

Proyek Sungai Rp1.300 Triliun India Tenggelamkan Desa dan Kuil

Bayangkan rumah tempat Anda dibesarkan, sawah yang menghidupi keluarga, dan kuil tempat leluhur berdoa selama berabad-abad tiba-tiba berada di dasar waduk buatan. Itulah yang tengah dihadapi ratusan k...

Proyek Sungai Rp1.300 Triliun India Tenggelamkan Desa dan Kuil

Bayangkan rumah tempat Anda dibesarkan, sawah yang menghidupi keluarga, dan kuil tempat leluhur berdoa selama berabad-abad tiba-tiba berada di dasar waduk buatan. Itulah yang tengah dihadapi ratusan keluarga suku di Ajaygarh, Madhya Pradesh, India. Mereka menolak rencana pemerintah yang mereka nilai mengorbankan kampung halaman demi proyek ambisius bernilai US$87 miliar atau sekitar Rp1.300 triliun (asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS). Proyek ini dijuluki sebagai salah satu inisiatif rekayasa air terbesar di dunia, namun ironinya, ia justru berpotensi menenggelamkan permukiman yang seharusnya dilindungi.

Apa Itu Proyek Ken Betwa dan Mengapa Kontroversial?

Proyek Ken Betwa adalah tahap perdana dari program nasional penghubung sungai (river interlinking) India. Secara sederhana, konsepnya mirip sistem pipa raksasa yang memindahkan air dari sungai berlimpah ke daerah kering. Ibarat memindahkan air dari bak mandi penuh ke ember yang kerontang, proyek ini bertujuan menyalurkan kelebihan air Sungai Ken ke kawasan Bundelkhand yang sering dilanda kekeringan. Pemerintah menargetkan irigasi bagi 1,2 juta hektare lahan pertanian, pasokan air baku, dan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 103 megawatt.

Namun, di balik janji kesejahteraan itu, ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Pembangunan bendungan dan kanal akan menggenangi ribuan hektare hutan, lahan pertanian, serta permukiman. Warga suku di Ajaygarh menjadi salah satu kelompok paling terdampak. Mereka menggelar aksi protes menolak penggusuran yang mereka anggap tidak adil dan minim kompensasi.

Dampak bagi Warga dan Ekosistem Lokal

Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah identitas, sejarah, dan ruang spiritual. Kuil-kuil tua yang berdiri di tepi sungai menyimpan nilai budaya yang tak bisa digantikan dengan uang. Ketika air bendungan naik, tidak hanya rumah yang hilang, tetapi juga memori kolektif komunitas.

Dari sisi ekologi, penggenangan hutan menimbulkan kekhawatiran serius. Kawasan hutan Panna yang terkenal sebagai habitat harimau dan satwa liar lain berpotensi terfragmentasi.Algoritma pemodelan hidrologi yang dipakai pemerintah memang menghitung debit air, tetapi sering mengabaikan variabel sosial dan biodiversitas. Inilah titik lemah implementasi deep tech (teknologi canggih) ketika diterapkan tanpa kajian lingkungan menyeluruh.

"Pembangunan yang mengorbankan masyarakat adat dan ekosistem bukanlah kemajuan, melainkan kemunduran yang dibungkus modernitas," ujar seorang aktivis lingkungan yang mendampingi warga Ajaygarh.

Perbandingan dengan Proyek Serupa

AspekProyek Ken BetwaProyek Sungai Serupa (China)
Nilai InvestasiUS$87 miliar (program total)US$62 miliar (South-North Water Transfer)
Luas Irigasi1,2 juta hektareLebih dari 3 juta hektare
Dampak SosialPenggusuran warga sukuRelokasi 330.000 warga
StatusFase konstruksi awalBeroperasi sebagian

Perbandingan ini menunjukkan bahwa proyek raksasa penghubung sungai selalu menghadapi dilema antara efisiensi pasokan air dan biaya sosial. Teknologi memang mampu memindahkan air, tetapi tidak otomatis menyelesaikan ketimpangan.

Masa Depan yang Menanti

Pemerintah India berdalih proyek ini adalah solusi jangka panjang bagi krisis air di Bundelkhand. Namun, tanpa dialog partisipatif dan kompensasi yang layak, resistensi warga dipastikan berlanjut. Pengembangan infrastruktur air seharusnya mengedepankan prinsip keadilan ekologis, bukan sekadar perhitungan teknis dan anggaran.

Kisah Ajaygarh menjadi cermin bahwa inovasi rekayasa air, sehebat apa pun algoritmanya, tetap harus berpijak pada manusia dan lingkungan. Jika tidak, proyek penangkal kekeringan bisa berubah menjadi bencana sosial yang menenggelamkan bukan hanya desa, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User