Bayangkan rumah yang telah dihuni keluarga Anda selama beberapa generasi tiba-tiba berada di bawah air. Itulah kenyataan yang dihadapi ratusan warga suku di Ajaygarh, Madhya Pradesh, India. Mereka kini berjuang melawan salah satu proyek infrastruktur air terbesar dalam sejarah negara itu: proyek Ken Betwa, tahap awal dari program ambisius penghubung sungai nasional senilai US$87 miliar atau sekitar Rp1.360 triliun. Proyek ini digadang-gadang sebagai solusi penangkal kekeringan, tetapi ironisnya, justru menenggelamkan permukiman, lahan pertanian, dan situs budaya leluhur mereka.
Ketika Solusi Kekeringan Menjadi Bencana Baru
Program penghubung sungai (river interlinking) adalah gagasan lama untuk memindahkan air dari wilayah yang dianggap surplus ke daerah yang rawan kekeringan. Ibarat seperti membangun pipa raksasa yang menghubungkan dua bak mandi: air dari bak yang penuh dialirkan ke bak yang kering. Namun, dalam praktiknya, proyek ini melibatkan kanal, bendungan, dan terowongan yang mengubah lanskap secara permanen.
Di Ken Betwa, dua sungai dihubungkan melalui kanal sepanjang lebih dari 200 kilometer. Tujuannya mulia: mengairi lahan pertanian di wilayah Bundelkhand yang kerap dilanda kemarau panjang. Pemerintah India mengklaim proyek ini akan memberi manfaat irigasi bagi ratusan ribu hektare sawah, memasok air bersih, dan menghasilkan listrik. Namun, di balik janji itu, ada harga sosial dan ekologis yang mahal. Warga Ajaygarh yang sebagian besar berasal dari komunitas adat Gond dan Kol melaporkan bahwa rumah, sekolah, dan tempat ibadah mereka akan terendam.
Kuil Kuno dan Identitas Budaya di Bawah Ancaman
Yang membuat proyek ini semakin kontroversial adalah keberadaan situs budaya yang akan hilang. Sejumlah kuil bersejarah dan makam leluhur berada di area yang diproyeksikan tergenang. Bagi masyarakat adat, kuil bukan sekadar bangunan; ia adalah pusat kehidupan spiritual dan penanda identitas kolektif. Menenggelamkannya sama dengan menghapus memori bersama.
"Kami tidak menolak pembangunan, tetapi kami menolak dihapus dari peta. Air boleh datang, tapi jangan sampai kami kehilangan rumah dan sejarah kami," ujar seorang perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya.
Protes di Ajaygarh bukan yang pertama. Sejak proyek ini disetujui, gelombang penolakan muncul di berbagai titik. Warga menuntut kajian ulang lingkungan dan sosial yang lebih transparan. Mereka juga mempertanyakan kompensasi yang dinilai tidak sebanding dengan nilai tanah dan warisan budaya yang akan hilang.
Data dan Janji di Tengah Kontroversi
Untuk memahami skala proyek, penting melihat angka-angka yang beredar. Program penghubung sungai nasional India menargetkan penghubungan 30 sungai utama dan 37 anak sungai. Ken Betwa adalah salah satu dari 16 proyek prioritas. Biaya tahap awal saja diperkirakan mencapai miliaran dolar, dengan sebagian dana berasal dari pinjaman internasional.
| Aspek | Klaim Pemerintah | Kenyataan di Lapangan |
|---|---|---|
| Irigasi | Ratusan ribu hektare lahan terairi | Sebagian warga justru kehilangan lahan |
| Energi | Pasokan listrik tambahan | Dampak ekologis belum sepenuhnya dihitung |
| Sosial | Kompensasi dan relokasi | Warga menolak pindah, kuil terancam tenggelam |
Pemerintah menyatakan bahwa relokasi akan dilakukan dengan kompensasi dan fasilitas pengganti. Namun, bagi banyak warga adat, tanah bukanlah komoditas yang bisa diganti dengan uang. Tanah adalah ekosistem kehidupan, tempat ritual, dan sumber pangan. Relokasi sering kali berujung pada marginalisasi ekonomi dan hilangnya akses terhadap hutan serta sungai yang menjadi sumber penghidupan.
Pelajaran untuk Pembangunan Berkelanjutan
Kasus Ken Betwa mencerminkan dilema besar dalam pengembangan infrastruktur modern. Di satu sisi, perubahan iklim membuat kekeringan semakin sering terjadi, sehingga kebutuhan akan manajemen air menjadi mendesak. Di sisi lain, solusi yang mengorbankan komunitas lokal dan warisan budaya bukanlah solusi yang berkelanjutan. Inovasi teknologi seharusnya hadir untuk menemukan keseimbangan, bukan untuk mempertajam konflik.
Beberapa peneliti menyarankan pendekatan alternatif: pemanenan air hujan, revitalisasi waduk tradisional, dan irigasi tetes yang lebih efisien. Teknologi seperti sensor kelembapan tanah berbasis internet of things (IoT) dan algoritma prediksi cuaca dapat membantu mengelola air tanpa harus memindahkan sungai secara besar-besaran. Pendekatan ini memang tidak sebesar proyek penghubung sungai, tetapi dampaknya lebih inklusif dan minim disrupsi sosial.
Protes di Ajaygarh adalah pengingat bahwa setiap proyek pembangunan memiliki wajah manusia di baliknya. Air yang mengalir untuk mengatasi kekeringan tidak boleh menjadi air mata bagi mereka yang tergusur. Hingga kini, warga masih bertahan, berharap suara mereka didengar sebelum air benar-benar menelan rumah, kuil, dan kenangan mereka.
Comments (0)