PROBOLINGGO — Pemerintah Kabupaten Probolinggo menutup total akses menuju Puncak Seruni Point,
Puncak Seruni Point telah lama menjadi magnet utama bagi wisatawan yang datang ke Kabupaten Probolinggo. Terletak pada ketinggian sekitar 2.770 meter di at
Puncak Seruni Point telah lama menjadi magnet utama bagi wisatawan yang datang ke Kabupaten Probolinggo. Terletak pada ketinggian sekitar 2.770 meter di atas permukaan laut, lokasi ini menawarkan panorama matahari terbit (sunrise) dengan latar kaldera Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru yang ikonik. Berbeda dengan Jalur pendakian ke Gunung Bromo melalui lautan pasir, akses menuju Seruni Point relatif lebih ramah bagi wisatawan umum, menjadikannya pilihan utama keluarga dan fotografer alam. Namun, kondisi cuaca ekstrem akibat kemarau panjang yang diperparah angin kencang dari arah utara memicu kebakaran yang hingga kini masih dalam upaya pemadaman.
Berdasarkan keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), penutupan total diberlakukan sejak api terkonfirmasi meluas ke area vegetasi kering di sekitar jalur pendakian dan viewpoint utama. Tidak ada batas waktu pasti kapan puncak akan dibuka kembali untuk umum, mengingat kondisi cuaca yang masih sangat mendukung penyebaran api. Petugas telah memasang pita pembatas dan melakukan penyekatan di seluruh jalur menuju Seruni Point, baik yang berasal dari arah Tosari, Wonokitri, maupun Cemorolawang. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama ranger TNBTS berjaga di pos-pos strategis untuk mencegah wisatawan yang nekat mendekati zona bahaya.
Dampak Karhutlah terhadap Ekosistem dan Pariwisata
Kebakaran yang melanda kawasan Gunung Bromo bukan sekadar ancaman fisik bagi pengunjung, melainkan juga guncangan serius terhadap ekosistem vulkanik yang rapuh. Menurut pakar konservasi dari Universitas Brawijaya, kebakaran berulang di lahan kering Tengger dapat merusak lapisan tanah organik yang sangat tipis dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih secara alami. Vegetasi endemik seperti bunga edelweis dan berbagai jenis lumut vulkanik yang berfungsi sebagai penahan erosi berada dalam ancaman kerusakan permanen. Selain itu, asap tebal yang terus mengepul mengancam kesehatan masyarakat di sekitar kawasan TNBTS, terutama anak-anak dan lansia yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Dari sisi ekonomi, penutupan Seruni Point memukul telak roda perekonomian pariwisata lokal. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Probolinggo mencatat bahwa pada musim liburan dan akhir pekan, rata-rata kunjungan harian ke kawasan Bromo mencapai 3.000 hingga 5.000 wisatawan, dengan sekitar 70 persen di antaranya menyertakan Seruni Point dalam itinerary perjalanan. Kehilangan akses ke destinasi primadona ini diproyeksikan akan menurunkan okupansi penginapan dan pemasukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar dusun Ngadisari, Wonokitri, dan Tosari hingga mencapai 40 persen selama masa penutupan berlangsung.
| Aspek | Dampak Langsung | Estimasi Kerugian/Perubahan |
|---|---|---|
| Kunjungan Wisatawan | Penurunan drastis ke Seruni Point | 70% wisatawan batal berkunjung |
| Pendapatan UMKM | Berkurangnya penjualan oleh-oleh & jasa pemandu | Penurunan 30-40% |
| Kesehatan Ekosistem | Kerusakan vegetasi endemik dan tanah vulkanik | Butuh 10-20 tahun untuk pemulihan |
| Kualitas Udara | Kabut asap menggantung di kaldera | Indeks pencemaran naik 2-3 kali lipat |
Sementara itu, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Probolinggo, relawan masyarakat, dan petugas TNBTS terus berupaya memadamkan bara api dengan pendekatan ground checking dan pembuatan sekat bakar. Kendala utama yang dihadapi adalah medan berbukit yang curam serta ketersediaan sumber air yang terbatas di ketinggian tersebut. Seperti diungkapkan oleh Koordinator Relawan Pemadam Gunung Bromo, upaya pemadaman di lahan vulkanik memerlukan strategi berbeda karena vegetasi yang terbakar bukan hanya rumput kering, melainkan juga akar-akar tanaman yang menyimpan bara di dalam tanah. Akibatnya, titik api sering kali muncul kembali meski permukaan sudah tampak padam.
Proyeksi Pemulihan dan Mitigasi ke Depan
Melihat tingkat kerentanan ekosistem Tengger yang tinggi, para pemangku kepentingan mendorong adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan kawasan konservasi ini. Dalam pandangan peneliti kebencanaan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), penutupan Seruni Point seharusnya menjadi momentum evaluasi sistem mitigasi karhutlah di wilayah vulkanik. Beberapa rekomendasi mulai dari pemasangan early warning system berbasis sensor suhu, penambahan sumur bor cadangan air di titik-titik rawan, hingga sosialisasi ketat kepada warga sekitar mengenai larangan membuka lahan dengan cara dibakar.
Pemerintah daerah juga tengah mempertimbangkan untuk membatasi jumlah kunjungan harian ke Seruni Point setelah kondisi kembali normal. Wacana tersebut bertujuan untuk mengurangi beban trampling pada vegetasi rapuh serta meminimalkan risiko kebakaran akibat pembuangan rokok atau peralatan memasak wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Namun, kebijakan tersebut tentu harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas dan alternatif destinasi lain agar distribusi wisatawan tidak terlalu terkonsentrasi di satu titik.
Hingga berita ini diturunkan, api masih terpantau di beberapa titik di lereng timur Seruni Point, meski intensitasnya telah berkurang dibandingkan hari-hari pertama. Wisatawan yang hendak berkunjung ke Gunung Bromo tetap dapat mengakses destinasi lain seperti Bukit Kingkong Hill, Bukit Cinta, dan Kawah Bromo, dengan tetap mematuhi protokol keselamatan yang diberlakukan oleh pihak TNBTS. Pemerintah Kabupaten Probolinggo menegaskan bahwa pembukaan kembali Puncak Seruni Point akan diumumkan secara resmi setelah tim terpadu menyatakan kondisi benar-benar aman dari ancaman api dan longsor pascakebakaran.
Comments (0)