Prabowo Sambut Kunjungan Kenegaraan Raja Yordania yang Bersejarah
Langit Jakarta pagi itu tampak lebih cerah dari biasanya. Di Istana Merdeka, barisan pasukan kehormatan berdiri tegak, sementara bendera Indonesia dan Yord
Langit Jakarta pagi itu tampak lebih cerah dari biasanya. Di Istana Merdeka, barisan pasukan kehormatan berdiri tegak, sementara bendera Indonesia dan Yordania berkibar berdampingan—pertanda sebuah momen diplomatik penting akan segera berlangsung. Presiden Prabowo Subianto, dengan senyum khasnya, menyambut langsung Raja Abdullah II bin Al-Hussein di tangga istana, memulai rangkaian kunjungan kenegaraan yang telah dinanti sejak beberapa bulan terakhir.
Kunjungan ini bukan sekadar formalitas kepala negara. Ia merupakan puncak dari hubungan personal dan politik yang telah terjalin selama lebih dari satu dekade antara Prabowo dan Raja Abdullah. Sebuah kemitraan yang dibangun di atas fondasi kepercayaan, nilai-nilai Islam moderat, dan visi bersama untuk stabilitas kawasan.
Awal Mula Persaudaraan Dua Pemimpin
Hubungan Prabowo dan Raja Abdullah mulai terjalin jauh sebelum keduanya menempati posisi puncak pemerintahan. Pada tahun 2014, saat Prabowo masih menjadi tokoh oposisi, ia telah melakukan kunjungan pribadi ke Amman untuk membicarakan isu-isu strategis Timur Tengah. Raja Abdullah yang dikenal sebagai pemimpin visioner di dunia Arab memberikan penghormatan tinggi dengan menerima Prabowo di Istana Al-Husseiniya.
Sejak saat itu, pertemuan demi pertemuan terjadi. Baik di forum internasional seperti Sidang Umum PBB maupun di sela-sela konferensi keamanan, keduanya kerap menyempatkan diri untuk berdiskusi bilateral. Mantan Menteri Luar Negeri yang mengetahui kedekatan ini pernah berkomentar:
"Raja Abdullah melihat Prabowo sebagai sosok negarawan yang memahami kompleksitas geopolitik kawasan, sementara Prabowo sangat menghormati kebijaksanaan Raja dalam menjaga stabilitas Yordania di tengah konflik Timur Tengah."
Momen Kunci yang Mengikat
Tahun 2019 menjadi titik penting. Ketika Raja Abdullah melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan menjadi salah satu tokoh utama yang mendampingi Presiden Joko Widodo. Pertemuan empat mata antara Prabowo dan Raja di Kementerian Pertahanan menghasilkan kesepakatan kerja sama pertukaran intelijen dan pelatihan pasukan khusus—yang hingga kini masih berjalan.
Dalam konteks operasi militer, Yordania dikenal memiliki pasukan anti-terorisme elit dengan standar NATO. Komitmen Raja Abdullah untuk membuka akses pelatihan bagi TNI menjadi bukti nyata kepercayaannya terhadap Prabowo. Sebaliknya, Indonesia membantu Yordania dalam produksi amunisi kaliber kecil yang dibutuhkan untuk menjaga perbatasan panjang dengan Suriah dan Irak.
Puncak pengakuan terjadi pada Oktober 2024, ketika Raja Abdullah memutuskan hadir secara langsung dalam pelantikan Prabowo sebagai Presiden ke-8 RI. Di tengah jadwal kenegaraan yang padat, kehadirannya menjadi sinyal kuat: Yordania ingin memperdalam kemitraan strategis dengan Indonesia di bawah kepemimpinan baru.
Dari Pertahanan ke Ekonomi Kreatif: Agenda Baru
Kunjungan kali ini membawa agenda yang lebih luas. Bukan hanya pertahanan, kedua pemimpin membicarakan kerja sama ekonomi senilai total potensi 3,5 miliar dolar AS, mencakup industri halal, pariwisata religi, dan energi terbarukan. Yordania yang miskin sumber daya minyak melihat Indonesia sebagai mitra potensial untuk pengembangan tenaga surya di gurun Wadi Rum.
Duta Besar Yordania untuk Indonesia, dalam pertemuan persiapan, mengungkapkan:
"Yang Mulia Raja sangat antusias dengan model ekonomi Indonesia yang inklusif. Beliau percaya Indonesia dan Yordania bisa menjadi jembatan antara dunia Islam dan pasar global."
Sementara itu, Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo tengah gencar mendorong hilirisasi sumber daya alam dan membutuhkan investasi di sektor petrokimia. Yordania dengan pengalaman panjang di industri fosfat dan potash dapat berperan penting dalam transfer teknologi pengolahan mineral.
Simbol Persahabatan Islam Moderat
Di luar urusan bisnis, hubungan ini memiliki dimensi ideologis yang kuat. Kedua pemimpin dikenal sebagai pengusung Islam moderat yang menolak ekstremisme. Raja Abdullah adalah penulis Amman Message (2004) yang menyerukan toleransi intra-Islam dan dialog antaragama. Prabowo, di sisi lain, kerap menekankan pentingnya persatuan dalam bingkai kebinekaan.
Dalam pertemuan tertutup di Istana Bogor—menurut sumber diplomatik—keduanya sepakat untuk menggagas forum ulama Indonesia-Yordania guna menangkal radikalisme di kalangan generasi muda. Gagasan ini akan diwujudkan dengan mendirikan pusat studi Islam Nusantara di Universitas Yordania.
Salah seorang penasihat khusus presiden yang enggan disebutkan namanya menyatakan:
"Presiden Prabowo sangat menghargai konsistensi Raja Abdullah dalam menjaga masjid Al-Aqsa dan tempat suci di Yerusalem. Itu menjadi ikatan emosional yang melampaui hubungan antarnegara biasa."
Dampak Regional dan Harapan Masa Depan
Kunjungan ini terjadi di tengah memanasnya situasi Timur Tengah pasca-gencatan senjata yang rapuh. Yordania, sebagai negara tetangga Palestina, memiliki posisi strategis yang tak tergantikan. Indonesia, dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung perdamaian di kawasan.
Kemitraan Prabowo-Raja Abdullah diharapkan dapat menjadi model hubungan bilateral yang berbasis pada nilai dan kepentingan bersama. Keduanya sepakat meningkatkan frekuensi dialog strategis menjadi dua kali setahun dan membuka jalur komunikasi langsung antar kepala negara—sesuatu yang sangat langka dalam tradisi diplomasi Indonesia.
Kini, saat senja mulai turun di Istana Kepresidenan, tawa kedua pemimpin terdengar dari balik pintu yang tertutup. Mungkin itulah potret paling jujur dari sebuah hubungan yang telah melewati banyak ujian waktu, dan kini menapaki babak baru yang lebih gemilang.
Comments (0)