Prabowo Minta BRIN Kaji BBM Etanol Murni demi Ketahanan Energi

Bayangkan saat Anda mengisi tangki kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, cairan yang mengalir bukan lagi bensin fosil murni, melainkan bahan bakar yang diproduksi dari fermentasi tebu, singkong,...

Prabowo Minta BRIN Kaji BBM Etanol Murni demi Ketahanan Energi

Bayangkan saat Anda mengisi tangki kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, cairan yang mengalir bukan lagi bensin fosil murni, melainkan bahan bakar yang diproduksi dari fermentasi tebu, singkong, atau jagung yang ditanam petani lokal. Skenario ini bukan lagi khayalan. Presiden Prabowo Subianto secara resmi meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji implementasi bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol hingga kadar 100 persen. Langkah ini berpotensi mengubah peta energi nasional, sekaligus berdampak langsung pada dompet masyarakat, karena Indonesia selama ini mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan bakarnya dengan harga yang terus berfluktuasi mengikuti pasar global.

Instruksi ini menempatkan lembaga riset negara di garda depan pengembangan energi alternatif. Kajian yang diminta mencakup aspek teknologi, kesiapan infrastruktur, hingga kelayakan ekonomi. Bagi pembaca awam, pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya etanol itu, dan mengapa pemerintah serius mengejarnya?

Mengenal Etanol, Alkohol yang Bisa Menggerakkan Mesin

Etanol adalah senyawa alkohol dengan rumus kimia C2H5OH yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan-bahan kaya gula dan pati, seperti tebu, singkong, jagung, dan sorgum. Ibarat seperti membuat tape atau minuman fermentasi, ragi mengubah gula menjadi alkohol, lalu alkohol itu dimurnikan hingga layak menjadi bahan bakar. Karena berasal dari tanaman, etanol masuk kategori biofuel atau bahan bakar nabati yang dapat diperbarui, berbeda dengan bensin yang berasal dari minyak bumi dan membutuhkan jutaan tahun untuk terbentuk.

Dalam dunia otomotif, campuran etanol diberi kode huruf E diikuti angka persentasenya. E10 berarti 10 persen etanol dicampur 90 persen bensin, E20 berarti 20 persen etanol, dan seterusnya hingga E100 yang berarti etanol murni tanpa campuran bensin sama sekali. Etanol memiliki keunggulan berupa angka oktan tinggi, sekitar 108, sehingga pembakarannya lebih stabil dan menghasilkan emisi karbon monoksida lebih rendah dibandingkan bensin konvensional.

Belajar dari Brasil, Negara Pelopor Bahan Bakar Etanol

Implementasi etanol skala besar bukan hal baru di dunia. Brasil telah menjalankan program etanol nasional bernama Proálcool sejak tahun 1975, menjadikannya negara paling berpengalaman di bidang ini. Di negara Amerika Selatan tersebut, seluruh bensin wajib dicampur etanol dengan kadar sekitar 27 persen, dan lebih dari 80 persen mobil baru yang dijual merupakan kendaraan flex-fuel, yakni kendaraan dengan mesin fleksibel yang bisa meminum campuran apa pun dari bensin murni hingga etanol 100 persen. Sensor di dalam mesin secara otomatis mendeteksi komposisi bahan bakar lalu menyesuaikan waktu pengapian dan volume injeksi, sebuah contoh nyata bagaimana algoritma sederhana pada unit kendali mesin membuat transisi energi terasa mulus bagi pengemudi.

Amerika Serikat juga mengonsumsi etanol dalam jumlah besar, terutama dari jagung, dengan campuran E10 sebagai standar nasional dan E15 yang mulai diperluas peredarannya. Pengalaman kedua negara menunjukkan bahwa inovasi bahan bakar nabati mampu menekan ketergantungan impor minyak sekaligus membuka pasar baru bagi sektor pertanian.

Tantangan Besar yang Harus Dijawab Kajian BRIN

Kendati menjanjikan, jalan menuju etanol 100 persen di Indonesia penuh rintangan teknis. Pertama, soal pasokan. Kapasitas produksi etanol domestik saat ini masih terbatas, padahal kebutuhan bahan bakar nasional mencapai puluhan juta kiloliter per tahun. Kedua, dilema pangan versus energi: mengalihkan lahan untuk tanaman bahan baku etanol berisiko menggerus produksi pangan, sehingga penelitian perlu mencari keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan.

Ketiga, kompatibilitas kendaraan. Etanol bersifat lebih korosif dan mudah menyerap air dibandingkan bensin, sehingga tangki, selang, dan seal pada kendaraan lama berpotensi rusak jika langsung diisi campuran berkadar tinggi. Ibarat seperti memaksa orang yang terbiasa makan nasi tiba-tiba hanya menyantap umbi-umbian, mesin butuh penyesuaian bertahap. Keempat, infrastruktur distribusi memerlukan tangki penyimpanan dan jalur pengangkutan khusus yang kedap kelembapan. Kelima, harga keekonomian: tanpa insentif yang tepat, etanol bisa kalah murah dari bensin bersubsidi.

Apa Artinya bagi Konsumen dan Masa Depan Energi Nasional

Bagi masyarakat, keberhasilan program ini bisa berarti harga bahan bakar yang lebih stabil karena tidak lagi sepenuhnya bergantung pada gejolak harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Udara perkotaan juga berpotensi lebih bersih berkat emisi yang lebih rendah. Di sisi lain, petani tebu, singkong, dan sorgum akan memperoleh pasar baru yang menjanjikan, menciptakan ekosistem ekonomi hijau dari hulu hingga hilir.

Kini bola berada di tangan para peneliti. Hasil kajian BRIN diharapkan menjadi peta jalan yang realistis: menentukan tahapan campuran, standar teknologi kendaraan, serta kebijakan pendukungnya. Jika kajian ini matang, Indonesia berpeluang menyusul Brasil sebagai pemain besar bahan bakar nabati, dan pom bensin masa depan mungkin akan terasa seperti hasil bumi Nusantara sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User