Prabowo Kenang Pesan Habibie: SDM Cerdas Kunci Teknologi Indonesia

Mengapa pesan seorang presiden ketiga RI masih relevan hingga hari ini? Jawabannya terletak pada gawai yang Anda genggam saat ini. Setiap kali kita memesan ojek daring, membayar belanjaan dengan dompe...

Prabowo Kenang Pesan Habibie: SDM Cerdas Kunci Teknologi Indonesia

Mengapa pesan seorang presiden ketiga RI masih relevan hingga hari ini? Jawabannya terletak pada gawai yang Anda genggam saat ini. Setiap kali kita memesan ojek daring, membayar belanjaan dengan dompet digital, atau menonton film lewat layanan streaming, ada satu bahan bakar yang membuat semuanya berjalan: manusia cerdas yang merancang teknologi di baliknya. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menegaskan kembali hal tersebut dengan mengenang pesan mendiang BJ Habibie bahwa Indonesia sesungguhnya kaya akan orang-orang pintar, dan kekayaan itulah yang harus menjadi fondasi pengembangan sains serta teknologi nasional.

Pernyataan tersebut bukan sekadar nostalgia. Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu apakah sebuah negara menjadi pembuat teknologi atau sekadar pasar. Bagi Indonesia, negara berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, pertanyaannya bukan lagi apakah kita punya orang pintar, melainkan apakah ekosistem kita mampu menampung dan memberdayakan mereka.

Warisan Habibie: Dari Industri Dirgantara ke Ekosistem Digital

Bacharuddin Jusuf Habibie dikenal luas sebagai arsitek industri teknologi nasional. Jauh sebelum istilah startup dan unicorn populer, ia telah membuktikan bahwa insinyur Indonesia mampu merancang pesawat terbang sendiri melalui proyek pesawat N-250 Gatotkaca yang mengudara perdana pada 10 Agustus 1995 — tanggal yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas).

Ibarat menanam pohon, Habibie tidak mengejar buah instan. Ia menanam akar: pendidikan teknik, pusat penelitian, dan budaya riset. Pesan yang dikenang Prabowo mencerminkan filosofi yang sama — bahwa modal utama sebuah bangsa bukanlah minyak, batu bara, atau sawit, melainkan otak manusianya.

Mengapa Orang Pintar Menjadi Mata Uang Baru

Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, talenta teknologi adalah aset paling berharga. Satu insinyur perangkat lunak berbakat bisa menciptakan platform yang dipakai jutaan orang. Satu tim peneliti kecerdasan buatan (AI atau Artificial Intelligence) bisa melahirkan algoritma yang mengubah cara rumah sakit mendiagnosis penyakit atau cara petani memprediksi panen.

Namun ada paradoks yang harus dihadapi Indonesia. Di satu sisi, lulusan perguruan tinggi terus bertambah; di sisi lain, industri mengeluh kekurangan talenta digital. Berbagai kajian memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, atau rata-rata 600.000 orang per tahun, untuk menjaga momentum transformasi digital. Bidang yang paling kekurangan antara lain machine learning (pembelajaran mesin), keamanan siber, dan rekayasa data.

"Kekuatan sebuah bangsa tidak lagi diukur dari luas wilayah atau cadangan sumber daya alam, melainkan dari kemampuan manusianya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," demikian semangat yang kerap disampaikan para pegiat teknologi nasional mengutip warisan pemikiran Habibie.

Dari Wacana ke Implementasi

Pesan soal orang pintar hanya akan bermakna jika diterjemahkan menjadi kebijakan konkret. Sejumlah langkah yang dinanti publik antara lain peningkatan anggaran penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), perluasan beasiswa bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), serta penguatan kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah.

Saat ini, belanja riset Indonesia diperkirakan masih berada di kisaran 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Padahal, ibarat mesin, riset adalah pelumas yang membuat roda inovasi berputar tanpa macet. Tanpa investasi riset yang memadai, orang-orang pintar Indonesia berisiko memilih berkarya di luar negeri — fenomena yang dikenal sebagai brain drain atau pelarian otak.

Ekosistem yang Menampung Bakat

Kabar baiknya, fondasi itu mulai terlihat. Ekosistem startup Indonesia telah melahirkan sejumlah perusahaan rintisan berskala besar, program beasiswa digital pemerintah menjangkau ratusan ribu peserta, dan minat anak muda terhadap bidang deep tech — teknologi berbasis riset mendalam seperti robotika dan bioteknologi — terus tumbuh.

Pada akhirnya, pesan yang diwariskan dari satu presiden ke presiden berikutnya itu bermuara pada satu hal sederhana: Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Tantangannya adalah membangun panggung tempat kepintaran itu bisa berdampak — di laboratorium, di ruang kelas, di kantor-kantor startup, hingga ke pelosok desa. Jika panggung itu berhasil dibangun, efisiensi dan disrupsi teknologi bukan lagi barang impor, melainkan karya anak bangsa sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User