Prabowo Kenang Pesan Habibie: Orang Pintar Kunci Teknologi Indonesia

Mengapa sebuah pesan lama dari almarhum BJ Habibie mendadak relevan lagi bagi kehidupan kita hari ini? Jawabannya sederhana: teknologi yang kita pakai setiap hari, mulai dari ponsel pintar hingga laya...

Prabowo Kenang Pesan Habibie: Orang Pintar Kunci Teknologi Indonesia

Mengapa sebuah pesan lama dari almarhum BJ Habibie mendadak relevan lagi bagi kehidupan kita hari ini? Jawabannya sederhana: teknologi yang kita pakai setiap hari, mulai dari ponsel pintar hingga layanan transportasi daring, hanya bisa lahir dari manusia yang menguasai ilmunya. Tanpa sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, sebuah negara hanya akan menjadi pasar bagi teknologi buatan bangsa lain, bukan penciptanya.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali pandangan tersebut dengan mengenang pesan Presiden ketiga RI, BJ Habibie, bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki banyak orang pintar. Bagi Prabowo, modal intelektual itulah yang harus menjadi fondasi pengembangan sains dan teknologi nasional. Pernyataan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sinyal arah kebijakan bahwa pembangunan manusia akan ditempatkan sejajar dengan pembangunan infrastruktur fisik.

Warisan Habibie: Bukti Bahwa Orang Indonesia Mampu

Habibie bukan sekadar tokoh politik. Ia adalah insinyur penerbangan lulusan Jerman yang menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi selama dua dekade, dari 1978 hingga 1998. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia melahirkan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menjadi motor penelitian terapan.

Pencapaian paling ikonik dari era itu adalah pesawat N-250 Gatotkaca yang mengudara perdana pada 10 Agustus 1995. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Ibarat seorang anak yang akhirnya bisa berjalan sendiri setelah lama digendong, N-250 menjadi bukti bahwa insinyur Indonesia mampu merancang pesawat turboprop modern dari nol, bukan sekadar merakit lisensi asing.

Fakta penting: Habibie membangun kariernya sebagai insinyur di industri dirgantara Jerman sebelum dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto pada 1974 untuk membangun industri strategis nasional.

Mengapa Orang Pintar Jadi Kunci Deep Tech

Dalam dunia teknologi modern, istilah deep tech merujuk pada inovasi berbasis penelitian ilmiah mendalam, seperti kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence), bioteknologi, dan semikonduktor. Berbeda dengan aplikasi biasa, deep tech menuntut penguasaan algoritma, matematika tingkat lanjut, dan infrastruktur riset jangka panjang. Semua itu mustahil dibangun tanpa manusia berkualitas tinggi.

Ibarat membangun gedung pencakar langit, mesin dan material boleh saja diimpor, tetapi arsitek dan insinyurnya harus memahami fondasi. Jika Indonesia hanya membeli teknologi jadi, posisinya akan selalu menjadi konsumen. Sebaliknya, bila ekosistem penelitian dan pengembangan diperkuat, anak bangsa bisa naik kelas menjadi pencipta platform dan produk teknologi yang diekspor ke dunia.

Namun tantangannya tidak kecil. Belanja riset Indonesia masih berkisar di bawah 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh tertinggal dibanding Korea Selatan yang menembus 4 persen atau Singapura di kisaran 2 persen. Kesenjangan ini menjelaskan mengapa banyak talenta terbaik Indonesia memilih berkarier di luar negeri, sebuah fenomena yang dikenal sebagai brain drain atau pelarian otak.

Dari Pesan Menjadi Kebijakan: Apa yang Harus Dilakukan

Pesan Habibie yang diangkat kembali oleh Prabowo hanya akan bermakna jika diterjemahkan menjadi kebijakan konkret. Setidaknya ada tiga langkah yang kerap disuarakan para pegiat teknologi. Pertama, peningkatan anggaran riset dan pengembangan secara bertahap agar laboratorium dan lembaga penelitian tidak kekurangan oksigen. Kedua, perluasan beasiswa sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) agar generasi muda tertarik menekuni bidang strategis. Ketiga, pembangunan ekosistem inovasi yang mempertemukan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu rantai nilai.

Efisiensi birokrasi juga menjadi prasyarat. Banyak peneliti muda mengeluhkan rumitnya perizinan riset dan minimnya insentif untuk berkarya di dalam negeri. Bila hambatan ini dipangkas, implementasi hasil penelitian ke produk komersial bisa berjalan lebih cepat, dan disrupsi teknologi justru bisa dimanfaatkan sebagai peluang, bukan ancaman.

Pada akhirnya, pesan Habibie menyimpan optimisme sekaligus pekerjaan rumah. Indonesia memang punya banyak orang pintar; persoalannya, apakah negara sanggup menyediakan panggung bagi mereka. Di era ketika machine learning (pembelajaran mesin) dan teknologi digital mengubah cara manusia bekerja, jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Indonesia menjadi pemain atau sekadar penonton dalam peta inovasi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User